Startup berbasis teknologi di Indonesia yang tengah bergairah telah berhasil membuka berbagai peluang baru di berbagai sektor industri, termasuk di dunia kesehatan. Salah satu pemain yang mencoba mencicipi peluangnya lewat pemanfaatan teknologi adalah PesanLab yang berupaya menjadi penghubung antara laboratorium dengan pasien yang ingin melakukan pemeriksaan. PesanLab sendiri punya visi untuk bisa menjadi one stop solution platform di sektor kesehatan.

CEO PesanLab Dimas Prasetyo menjelaskan bahwa PesanLab adalah perusahaan teknologi yang menghubungkan lab-lab di Indonesia dengan para pasien yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check up.

PesanLab sebenarnya sudah hadir sejak tahun 2014 lalu, namun dengan nama yang berbeda yaitu LabConX. Startup yang diawali dari sebuah diskusi di forum terbesar Indonesia ini pun akhirnya memutuskan berganti nama di awal tahun 2016 agar lebih familiar. Di samping itu, pada Januari 2016 PesanLab juga membukukan pendanaan awal dari perusahaan yang sama yang mendukung HaloDoc dan meresmikan berdirinya PT Mitra Digital Laboratorindo sebagai payung usaha legal.

Dimas mengatakan, “Pergantian nama itu sebenarnya agar lebih tersurat karena spelling LabConX [baca: Lab Connnect] itu masih sulit [bagi masyarakat Indonesia]. Banyak kesalahan terjadi ketika mengetik URL [dan] rekan bisnis juga sering mengalami kesalahan, baik itu ketika mendengar atau mengucapkan. Intinya kami rasa [lingkungan bisnis] belum siap kalau diberi nama yang aneh-aneh, jadi yang tersurat saja agar konsumen bisa langsung tahu kalau mau pesan [pemeriksaan] lab ke mana.”

Operasional PesanLab saat ini

Secara singkat, pengguna terdaftar bisa langsung masuk ke sistem PesanLab dan memilih jenis pemeriksaan lab apa yang dia inginkan. Pilihannya beragam, mulai dari pemeriksaan gula darah, kolesterol, hingga TORCH. Menariknya, PesanLab juga memberikan pilihan Home Service bagi pasien yang ingin melakukan pemeriksaan di rumah.

Mengenai monetisasi, Dimas menjelaskan bahwa pihaknya memperoleh fee dari setiap transaksi yang terjadi antara pasien dengan lab. Saat ini PesanLab sendiri sudah bekerja sama dengan beberapa lab besar di Indonesia seperti Prodia, Biotest, CITO, Parahita Diagnostic Center, Lab Gunung Sahari, Primadina, dan Laboratorium Amerin Bio-Clinic (ABC Lab). Sedangkan metode pembayaran yang didukung adalah melalui kartu kredit, internet banking, dan juga Doku.

“Kami ingin memangkas alur-alur yang tidak perlu dalam pemeriksaan Lab. Misi kami adalah supaya akses terhadap kesehatan, terutama yang berhubungan dengan diagnostik, itu menjadi lebih mudah lebih praktis, dan transparan [hasilnya bisa dilihat online],” ujar Dimas.

Di sisi lain, pendanaan awal yang diperoleh PesanLab di awal tahun membuat PesanLab kini bekerja sama dengan HaloDoc dan juga ApotikAntar. PesanLab pun kini dapat diakses melalui aplikasi mobile HaloDoc. Selain itu, pendanaan juga akan dialokasikan untuk terus mengembangkan produk dan merekrut talenta-talenta lebih banyak lagi.

Ke depannya, menurut Dimas, PesanLab akan fokus dulu di ranah diagnostik namun tetap menambah kerja sama dengan para dokter. Kemudian tak menutup kemungkinan juga untuk merambah ranah kerja sama dengan perusahaan dan juga menyediakan layanan medical tourism. Lebih jauh, ia ingin PesanLab dapat menjadi one stop solution platform yang memungkinkan penggunanya berkonsultasi dengan dokter dan juga memesan obat secara langsung di PesanLab.

Dimas juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya (PT Mitra Digital Laboratorindo) tengah mengembangkan platform bernama HomeCare. Platform tersebut memungkinkan penggunanya untuk memesan perawat untuk melakukan perawatan di rumah berdasarkan paket yang tersedia. Perawat yang bergabung pun hanya perawat yang sudah memiliki sertifikasi keperawatan.

Peluang startup teknologi di sektor kesehatan

Ranah di mana PesanLab bermain dalam industri kesehatan berbasis teknologi memang ranah yang baru. Dimas sendiri menyampaikan bahwa tantangan yang paling dirasa ketika membangun PesanLab ada di partnership dan juga edukasi. Pun begitu, ia optimis bahwa peluang di sektor kesehatan untuk pasar Indonesia masih besar.

Dimas mengatakan, “Market di Indonesia untuk diagnostik saja itu hampir Rp 10 triliun setahun. Data ini sebenarnya data closed, tetapi ada yang bisa dijadikan acuan. Contohnya Prodia yang mau IPO akhir tahun ini dan market dia itu sudah Rp 1 triliun lebih setahun. Prodia juga kira-kira memegang pangsa pasar di atas 10 persen.”

“Healthcare di Indonesia itu masih jarang. Ok, konsultasi dokter sudah ada, pemesanan obat sudah ada, tetapi itu baru pra saja terhadap dunia kesehatan. 70 persen keputusan tentang kesehatan ini ada di diagnostik, di sini kuncinya yang menghubungkan antara konsultasi dokter dan obat. Di luar negeri itu sebenarnya sudah banyak, tetapi karena di Indonesia pasarnya luas dan knowledge base-nya sedikit maka entry barrier-nya juga jadi tinggi,” lanjutnya.

Selain potensi di segmen diagnostik, Dimas juga mengungkap bahwa sektor terapi masa pengobatan masih bisa optimalkan lagi lewat teknologi.

“Menyesuaikan kultur dunia kesehatan dengan teknologi itu memang ‘lumayan’ karena selama ini para lab atau rumah sakit selalu nyaman dengan cara yang sudah ada. Ketika ada teknologi yang menyentuh ke arah sana dan mempunyai effort lebih, mereka biasanya cenderung tertutup. Maka dari itu perlu ada orang yang khusus di bidang tersebut agar komunikasinya bisa lancar,” tandas Dimas.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.