1. Startup

Pilih Dirikan - Bekerja di Startup atau Kerja di Perusahaan Besar?

Judul di atas awalnya muncul ketika saya iseng membuat pertanyaan sambil mencoba layanan polling online, namun saya pikir pertanyaan tersebut relevan untuk ditanyakan dan menjadi tulisan tersendiri. Ada beberapa alasan yang membuat saya ingin untuk membahasnya menjadi artikel, pertama adalah perkembangan yang terjadi di universitas, pendekatan brand atas developer serta obrolan singkat saya dengan Dr. Serkan Toto, yang beberapa waktu lalu datang ke Bandung.

Pertanyaan tersebut bisa jadi menjadi pertanyaan klasik, dalam arti sering ditanyakan pada Anda, sebagai pelaku startup,developer atau mahasiswa yang sedang bersiap menyelesaikan masa studi. Mana yang menjadi pilihan, mendirikan atau bekerja di startup (perusahaan baru) atau bekerja di perusahaan teknologi/internet besar yang sudah established?

Rama, beberapa waktu lalu menuliskan tentang peran yang harus ditingkatkan dari Universitas untuk mendukung lahirnya wirausaha atau pebisnis (dibidang teknologi web, internet dan mobile) dengan salah satunya mengubah pola pikir dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan.

Universitas memberikan peran penting karena di sanalah sebagian besar usia produktif dalam berkarya berada, memang banyak juga pendiri startup yang tidak datang dari wilayah universitas dalam arti yang tidak atau keluar dari jenjang pendidikan, namun universitas tetap menjadi pilihan paling besar dalam menuntut ilmu dan mempersiapkan dalam menggunakan usia produktif dari masyarakat Indonesia. Perusahaan teknologi yang bergerak di bidang mobile juga internet sudah dan terus mengelola hubungan mereka dengan para mahasiswa untuk mendapatkan lulusan atau orang terbaik bagi perusahaan mereka.

Sebagai contoh BlackBerry yang mulai mengadakandeveloper event di Kampus (ITB) dan akan terus menjalankan program ini, Nokia juga sudah dan terus mengadakan event di kampus, Blaast - cloud-powered mobile platform - juga mendekati komunitas dan mahasiswa dalam memperkenalkan produk mereka, belum lagi Microsoft dan perusahan lain. Berbagai event dengan 'genre' web - internet - mobile juga menyasar para mahasiswa sebagai market, karena di sinilah sebagian besar developer berada.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah para mahasiswa ini mau mendirikan startup atau bekerja di perusahaan besar dan mapan? Sejauh yang saya tahu, beberapa universitas telah memiliki acuan dan strategi sendiri dalam mendorong wirausaha di lingkungan kampus mereka, berbagai program termasuk inkubasi, sesi sharing, kuliah umum yang mendatangkan praktisi terus dihadirkan. Namun, bisa jadi hanya beberapa dari universitas yang menjalankan hal ini dan penerapannya pun belum terlalu masif atau masih dalam tahap pengembangan jadi masih belum tampak menarik bagi mahasiswa untuk memulai usaha mereka sendiri.

Masalah modal, pengalaman dan stigma juga bisa menjadi hambatan, bahwa membuat usaha atau bekerja di startup mempunyai masa depan yang lebih tidak aman dari bekerja di perusahaan mapan/besar.

Padahal jika kita berbicara kualitas, developer Indonesia sama sekali tidak buruk, malah termasuk yang dicari oleh investor, startup atau perusahan mapan. Saya sendiri sering ditanya, oleh startup yang berdomisili di luar Indonesia, mereka mencari developer lokal untuk mengembangkan startup yang mereka dirikan, yang berarti kualitas developer kita bagus.

Kondisi tentang pilihan bekerja atau mendirikan startup dan bekerja di perusahaan besar atau mapan juga menjadi hal yang menarik di Jepang, Dr. Serkan Toto dalam obrolan santai menjelaskan bahwa di Jepang mahasiswa atau developer di sana lebih tertarik untuk bekerja di perusahaan besar, sehingga banyak dari startup asal Jepang yang mencari karyawan dari luar Jepang karena mereka sangat kekurangan developer. Bisa jadi ini mirip juga dengan kondisi di Indonesia beberapa tahun lalu, namun saya pikir sudah semakin bergeser karena pilihan untuk membuat usaha sendiri semakin menjadi pilihan di sini.

Iming-iming fasilitas juga menjadi salah satu strategi bagi perusahaan besar/mapan dalam merekrut orang terbaik untuk bekerja bersama mereka, dalam sebuah diskusi di acara Echelon 2011 kemarin, Michael Smith dari Yahoo! juga secara jujur mengatakan bahwa berbagai fasilitas, selain gaji, seperti suasana kerja yang kreatif, alat permainan, dan lain sebagainya menjadi daya tarik dalam mendapatkan pekerja potensial.

Namun jika dilihat dari sisi lain perusahaan besar atau mapan juga memberikan manfaat berupa pengalaman, mereka yang ingin mendirikan startup bisa menimba pengalaman bekerja di perusahaan besar sebelum mendirikan atau bekerja di startup.

Mendirikan startup, sebagai usaha baru memang tidak semudah yang dibayangkan, saran saya jangan terlena dengan entry barrier yang mudah, startup adalah sebuah bisnis yang perlu strategi untuk bertahan, meskipun strateginya untuk exit.

Bisa jadi ini tentang pilihan, artinya tergantung dari pribadi masing-masing untuk memilih apakah akan mendirikan atau bekerja di startup atau memilih untuk mengembangkan karir di perusahaan mapan atau besar, namun saya sendiri lebih melihat dari sisi kemandirian dan wirausaha dan tentu saja peluang untuk menciptakan pekerjaan bagi orang lain, selain tentu saja peluang yang bisa didapatkan dari sisi bisnis. Banyak peluang bisa dihasilkan dari pemecahan masalah yang bisa jadi tidak dilihat oleh perusahaan besar.

Atas dasar beberapa alasan tersebut saya lebih memilih untuk bekerja dan membangun startup, bagaimana dengan Anda?

[Sumber Gambar]

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again