Mengenal Santara, Platform “Equity Crowdfunding” untuk UKM

Mengenal Santara, Platform “Equity Crowdfunding” untuk UKM

Telah salurkan pembiayaan sebesar Rp5 miliar untuk 15 usaha sejak berdiri di tahun 2018
o-Founder dan CEO Santara Reza Avesena dan Co-Founder dan VP Santara  / DailySocial
o-Founder dan CEO Santara Reza Avesena dan Co-Founder dan VP Santara / DailySocial

Santara menjadi pemain platform equity crowdfunding (ECF) pertama yang mendapat izin untuk beroperasi secara penuh dari OJK tepat tanggal 18 September 2019. Bila belum familiar dengan equity crowdfunding, sebenarnya ini gabungan darip2p lendingdengan nuansa pasar modal.

Sebab pembedanya, para lender ini mengambil saham yang dijual oleh borrower dan bisa menjualnya di pasar sekunder, layaknya membeli saham di perusahaan tercatat di BEI. Konsep ini bisa dikatakan masih baru, kalau mau tengok sedikit ke belakang, sebenarnya ini adalah bisnis awal dari Akseleran. Namun startup ini pivot ke p2p lending sejak tahun lalu.

Di sela-sela Indonesia Fintech Summit & Expo 2019, DailySocial menyempatkan diri menemui Santara. Co-Founder dan CEO Santara Reza Avesena menjelaskan, perjalanan bisnisnya sebenarnya dimulai dari dirinya dan sekelompok temannya yang senang bangun bisnis.

Pada 2012, timnya sepakat untuk mencari potensi bisnis yang bisa diakselerasi dalam waktu cepat dan bisa segera keluar dari zona UKM, omzetnya itu sekitar Rp400 juta per bulan.

“Modal kita dari nol, sewa garasi punya tetangga dan hanya ada satu penjahit untuk mulai usaha konveksi buat cover untuk motor dan mobil. Kita berhasil keluar dari zona UKM setelah 18 bulan. Akhirnya geser buat bisnis lain.”

Bisnis kedua adalah produksi tas, dalam setahun lolos dari zona UKM. Melanjutkan kembali ke bisnis ketiga, cetak foto online dan dibuatkan album foto. Usahanya laku keras, dalam sebulan keluar dari zona UKM.

“Semua bisnis kita ini tanpa modal, semuanya organik tidak ada investor dari luar, dan cashflow kita langsung positif.”

Kepercayaan diri ini membuat timnya dikenal seantero Yogyakarta dan memutuskan untuk masuk ke komunitas pebisnis. Tujuannya untuk membantu mereka yang ingin bisnisnya diakselerasi. Di situ terlihat bahwa isu utama yang sering dihadapi adalah modal.

Tercetuslah untuk mendirikan Santara pada tahun lalu. Fokusnya adalah komunitas yang dia bangun yang menjadi investor untuk mendanai usaha-usaha UKM yang telah dikurasi.

“Jadi pembeli [investor] kebanyakan dari para pembelinya sendiri, seperti Sop Ayam Pak Min Klaten yang telah memanfaatkan platform Santara ini. Kita bantu mereka bukan buat yang menutup cashflow, tapi bantu ekspansi usaha. Banyak yang sudah bertahun-tahun buka usaha tapi stuck tidak bisa ekspansi.”

Proses panjang menanti izin OJK

Tim Santara / Santara
Tim Santara / Santara

Santara baru berjalan dua bulan, sekitar September 2018, Reza harus berhadapan dengan OJK terkait praktik bisnisnya. Situs harus ditutup dan masuk ke internet positif sampai mengantongi surat tanda terdaftar. “Ini cukup menyakitkan karena kita masuk berita dan disebut sebagai investasi bodong.”

Komplain pun sempat dia layangkan ke Satgas Investasi, mengapa tidak ada peringatan sebelumnya. Pihak Satgas menjelaskan Santara tidak bisa beroperasi sebelum buat izin, sampai itu terbit bisnis harus ditutup.

“Kita mau comply dengan aturan, tapi model bisnis kita beda dengan IKD karena kita ini patungan untuk kepemilikan saham. Namun, posisinya saat itu POJK 37 tentang ECF masih berupa RPOJK jadi belum bisa urus izin. OJK melihat kami bisa jadi case study sebelum menerbitkan POJK.”

Pihaknya harus berkoordinasi dengan OJK bagian pasar modal dan diundang beberapa kali ke Jakarta untuk presentasi tentang bisnis mereka. Akhirnya OJK meresmikan aturan ECF pada tepat pada akhir tahun 2018.

Santara menjadi startup ECF pertama yang terdaftar di bawah payung hukum ini. Akan tetapi, perjuangan belum berhenti. Sebab, Satgas masih belum mengizinkan Santara beroperasi.

OJK ingin belajar dari kesalahan sebelumnya, bila di p2p lending, startup yang sudah terdaftar boleh beroperasi kembali, namun tidak kenyataannya untuk ECF. “Ternyata ECF itu enggak cukup buat terdaftar saja harus langsung punya izin. OJK itu ingin belajar dari kasus p2p lending banyak yang terdaftar tapi ada yang bermasalah.”

Kabar ini berdampak buruk buat internal perusahaan. Karyawan banyak yang resign, dari awalnya sekitar 50 orang kini hanya tersisa 30 orang saja. Tidak ada pemasukan dari Januari hingga Agustus 2019, artinya Reza dan tim harus putar otak untuk cari penghasilan tambahan.

Mereka memutuskan untuk membuat buku bisnis mengenai scale up. Menumpahkan seluruh pengalaman sebelum mendirikan Santara dalam buku tersebut dan Reza mengklaim laku keras. Hanya lewat jualan buku ini seharga Rp650 ribu, Santara berhasil menutup biaya overhead.

“Kami tidak berhutang ke sana ke mari ketika bisnis kami di-freeze. Sepanjang waktu itu internal kita benar-benar goyang. Proses recovery-nya ini panjang.”

Seiring berjalan waktu, Santara tetap membekali diri dengan berbagai persyaratan yang diminta OJK agar dapat menerima izin. Regulator menekankan mereka ingin startup tetap menjaga sistem, server berlokasi di Indonesia, semua data aman, dan sistem memenuhi CIA (Confidentiality, Data Integrity, Availability).

Startup ini juga melengkapi persyaratan untuk mendapat ISO 27001 dan tes ketahanan sistem yang diuji oleh pihak ketiga. Maksudnya untuk bantu berikan OJK pendapat kedua mengenai komitmennya dalam melindungi kepentingan konsumen.

“Karena kita berhasil membuktikan CIA, ini jadi alasan mereka untuk memberikan kita izin pada awal bulan ini. Senang sekali saat situs akhirnya di unblock.”

Perjalanan ini akhirnya mendorong OJK untuk menitahkan Santara mendirikan asosiasi khusus ECF. Di situ, Santara bisa berbagi pengetahuan kepada sesama pemain. Secara total, saat ini ada sembilan startup yang bergerak di ECF. Kebanyakan mereka berlokasi di Jakarta.

“Teman-teman setuju, supaya pas untuk bantu mereka memenuhi izin, sekarang masih koordinasi.”

Model bisnis dan rencana Santara berikutnya

Reza menekankan saat ini Santara baru fokus membiayai usaha skala kecil dan menengah yang mencari pendanaan antara Rp500 juta sampai Rp5 miliar. Proses screening yang dibutuhkan sebelum usaha bisa didanai, cukup panjang sekitar 1-2 bulan.

Dia mengakui proses ini memang melelahkan apalagi UKM ini banyak yang belum paham mengenai tata kelola pencatatan yang baik. Terlebih lagi, jarang ada yang sudah berbadan hukum PT. Oleh karenanya, dia mensyaratkan usaha yang mau masuk harus sudah menjadi PT, karena hanya PT yang sahamnya bisa disebar.

“Biasanya pemilik itu banyak yang malas untuk mengurus PT, tapi kami biasanya selalu memberikan pernyataan jitu, “Tidak ada perusahaan sukses yang tidak PT, kalau tidak mau besar ya, lebih baik tidak usah.”

Santara menempatkan diri sebagai pendamping dan mengajarkan empat komponen. Bagaimana pembukuan yang benar, tata kelola keuangan yang benar, pembayaran pajak yang benar, baru setelah itu bicara tentang harta perusahaan.

Usaha yang bisa masuk ke platform juga tidak sembarang. Minimal sudah berdiri lima tahun, apabila bergerak di bisnis kuliner minimal makanan yang mereka jajakan bersifat timeless, bukan hit pada saat tertentu saja.

“Setelah memenuhi empat komponen, baru kita buatkan prospektus untuk prediksi bisnis mereka buat investor baca. Kami mendorong pemilik untuk tetap mengendalikan saham mereka karena tujuannya kan buat sustain bisnis dan long term.”

Sedangkan untuk investor, mereka harus terverifikasi terlebih dahulu. Tiap usaha, maksimal bisa didanai oleh 300 orang investor. Nominal dananya tergantung proyek yang ada. Akan tetapi, sesuai POJK, maksimal hanya bisa mendanai usaha 5% dari penghasilan tahunan apabila sebesar Rp500 juta. Di atas itu, maksimal 10%.

Hingga kini berdiri, Santara telah menyalurkan pembiayaan untuk 15 usaha senilai lebih dari Rp5 miliar. Usaha ini kebanyakan bergerak di bidang kuliner, properti, peternakan, dan perikanan. Adapun jumlah investor yang bergabung mencapai 1.082 orang, mayoritas berada di Jakarta.

Setiap bisnis yang berhasil terdanai penuh, Santara mengutip komisi sebesar 10%. Dia beralasan, untuk menyukseskan tiap proyek pembiayaan banyak pendampingan yang mereka lakukan, mulai dari membuat edukasi finansial, buat prospektus, pasang iklan online, dan sebagainya.

Apabila investor ingin menjual saham mereka, Reza menyiapkan pasar sekunder yang hanya membuka slot dua kali dalam setahun. Akan tetapi, dia belum menetapkan kapan waktunya. “Semangatnya ini buat investasi jangka panjang, jadi slot hanya kita buka dua kali saja setahunnya. Mengenai bulannya belum kita tentukan.”

Untuk percepat proses, saat ini timnya sedang membangun sistem berteknologi AI agar semakin cepat dalam screening-nya, tidak lagi harus menunggu sampai dua bulan. Berikutnya, pasca mengantongi izin, Reza tidak ingin terlalu agresif dalam memberikan pinjaman.

Justru perlahan-lahan, setidaknya dia menargetkan Santara dapat mendanai satu atau dua usaha tiap bulannya. “Kita mau jaga kepercayaan, agar investor tetap aman. Selain itu kami berencana buka kantor perwakilan di Jakarta untuk permudah bisnis dan komunikasi dengan OJK,” pungkasnya.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Interview
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…