Saat Harus Memecat Karyawan, Lakukan dengan Etika yang Baik

Saat Harus Memecat Karyawan, Lakukan dengan Etika yang Baik

Kinerja yang buruk atau pelanggaran berat etika kerja, seperti penipuan, dapat berujung pemecatan
Pemecatan juga dapat memberi dampak psikologis bagi sisa karyawan Anda/Shutterstock
Pemecatan juga dapat memberi dampak psikologis bagi sisa karyawan Anda/Shutterstock

shutterstock_147378536

Sifat dasar startup yang dinamis membutuhkan kemampuan orang-orang di dalamnya untuk dapat menjawab tantangan dengan tanggap. Startup teknologi tidak lepas dari eksperimen dan selalu menguji segala hal, mulai dari platform yang tepat, kebutuhan pengguna, hingga model bisnis yang pas. Kesalahan saat perekrutan talenta pun bisa terjadi. Suatu saat Anda akan dihadapkan kepada pilihan untuk menghentikannya dan hal tersebut bukan keputusan serta tindakan yang mudah dilakukan.

Hal terburuk yang dapat terjadi saat orang bekerja adalah kehilangan pekerjaannya. Kondisi tidak enak ini tidak hanya berlaku di posisi karyawan, tetapi juga pemilik. Bukan keputusan mudah untuk dilaksanakan, bahkan Warren Buffet sendiri mengakui ia tidak menyukai memecat orang. Makanya ia sangat menaruh perhatian lebih kepada manajemen.

Meski begitu, ia tidak pernah ragu-ragu untuk melepaskan karyawannya jika ia telah merusak reputasi perusahaan. Baginya mengalami kerugian dalam berbisnis hal biasa dan dapat dimengerti, namun ia tidak bisa mentolerir jika reputasi yang hilang.

Netflix terkenal memiliki budaya perusahaan yang sangat progresif. Mereka mampu membangun  perusahaan yang luar biasa dalam waktu yang singkat. Kuncinya sukses mereka terletak dari cara mereka merekrut, memecat, dan mengelola budaya perusahaannya.

Bila permasalahan etika, seperti korupsi, menipu klien, merusak reputasi perusahaan, mungkin keputusan pemecatan dan tindakannya akan lebih mudah dilakukan. Namun startup kadang untuk dapat berkembang cepat, mereka harus melepaskan orang-orang yang underperform. Hal ini yang terberat.

Salah satu manajer paling terkenal sepanjang masa, Jack Welch mempopulerkan sistem ranking & yank. Sistem ini akan mengelompokkan manajer dan timnya ke dalam tiga kategori: Top 20 persen, Middle 70 persen, dan Bottom 10 persen.

Semua yang berada di posisi Middle 70 persen wajib diberikan pembinaan atau pelatihan. Tugas manajer juga termasuk menjaga mereka termotivasi.

Adapun Bottom 10 persen adalah orang-orang yang harus pergi. Meski terkesan sistem ini relatif brutal, namun ia memiliki keuntungan. Pertama, sistem ini memberikan kejelasan kepada karyawan budaya pekerjaan. Semua orang tahu bahwa ini adalah cara kerja perusahaan dan karyawan tahu apa yang terjadi sejak awal jika ia tidak menunjukan performa kerjanya.

Kedua, mekanisme ini akan memaksa bagi manajer untuk menghapus anggota tim mereka berkinerja terburuk. Dengan kebijakan ini, tidak memungkinkan untuk manajer menunda keputusan yang menyebabakan memungkinkan underperformer bertahan selama bertahun-tahun. Hal ini juga memaksa manajer memberi pembinaan kepada yang berada di peringkat tengah. Bagaimanapun kehilangan sebagian besar karyawan juga akan berdampak buruk bagi perusahaan.

Pada saat dihadapkan kepada situasi ini, sangat mungkin akan meninggalkan rasa bersalah dalam diri Anda yang membekas panjang. Untuk menghindari itu semua. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika memutuskan akan memecat seseorang.

shutterstock_139778545

No surprises

Tempat kerja terbaik dibangun di atas ekspektasi yang jelas dari karyawan dan umpan balik yang jujur. Jika sejak awal Anda sudah menentukan standar yang jelas dan sistem penilaian terbuka yang jelas, dalam situasi seperti itu tidak ada yang perlu heran jika karyawan dengan kinerja buruk, atau dalam peringkat terbawah, harus pergi.

Intervensi sedini mungkin

Pertama Anda harus segera menegur dan meminta karyawan Anda memperbaiki jika Anda menemukan mereka melakukan kesalahan, tidak menunggu pada saat evaluasi dan menumpahkan semuanya. Dan kedua, jika Anda menemukan kesalahan yang diperbuat oleh karyawan, artikulasikan kepada mereka dengan cara yang mereka mengerti dan menyetujui untuk segera memperbaiki. Anda juga bisa membuat perjanjian perjanjian tak tertulis antara manajer dan karyawan untuk meningkatkan kinerja. Hal ini lebih mudah untuk menerapkan pada startup yang tidak memiliki proses formal.

Meminimalkan penghinaan

Bill Campbell adalah pelatih CEO paling terkenal di Silicon Valley. Berikut sarannya seperti dikutip Co-Founder a16z Ben Horowitz:
Anda dapat mengambil pekerjaan seseorang, Anda harus mengambil pekerjaan mereka, tetapi Anda tidak harus mengambil martabat mereka. Tidak peduli seburuk apa pun kondisinya, tidak ada alasan untuk mempermalukan mereka. Tim Anda akan melihat dan menghargai bahwa Anda menghormati mereka, bahkan jika hubungan profesional harus berakhir.

Jaga keharmonisan perusahaan pasca pemecatan

Proses pemecatan yang buruk dapat memiliki beberapa efek samping yang sangat merugikan moral dan loyalitas dari sisa karyawan. Berkomunikasi dengan jelas dengan seluruh organisasi sangat penting hingga proses pemecatan dapat dieksekusi dengan baik. Perlu camkan baik-baik, bahwa pemecatan yang Anda lakukan bisa ditafsirkan buruk oleh seluruh karyawan Anda.

Jika Anda memecat seseorang dengan cara yang mempermalukannya, karyawan yang lain berpikir mereka akan diperlakukan dengan sama. Jika Anda kebetulan mempermalukan teman baik mereka, mereka akan mulai membenci Anda juga. Satu hal penting untuk disadari adalah bahwa karyawan yang tersisa juga khawatir nasib mereka. Ini akan memengaruhi kinerja tim dan output mereka. Mereka perlu diberitahu untuk mengurangi informasi menyebar melalui rumor.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Tips
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…