Categories

Interview

Sebuah Kisah Dua Startup Hardware di Asia

Wawancara dengan co-founder TouchJet dan uHoo tentang bagaimana mendirikan (dan mempertahankan) startup hardware di Asia

Guest Post - 15 January 2016

Apakah VC menghindar dari startup hardware karena biaya modal yang besar? Kebanyakan pemain di industri ini akan setuju tapi ini tidak terjadi untuk dua startup yang didukung Blueprint, TouchJet dan uHoo.

Touchjet mengembangkan proyektor dan TV pintar layar sentuh pertama di dunia. Touchjet Pond merupakan proyektor handheld yang mengubah permukaan apapun menjadi layar sentuh raksasa didukung oleh PC Android interaktif. Touchjet Wave mengubah TV layar datar menjadi sebuah televisi pintar dengan layar sentuh.

uHoo sendiri merupakan sensor kualitas udara yang cerdas dan dirancang untuk mengerti bagaimana udara yang Anda hirup mempengaruhi kesehatan Anda dan memberikan Anda peringatan dengan personalisasi. Perangkat ini dapat mendeteksi kelembaban, suhu, debu, bahan kimia beracun, karbondioksida, karbon monoksida, tekanan udara, dan ozon di lingkungan di dalam ruangan.

Saya mendapat kesempatan untuk duduk dengan CEO Dustin Jefferson S. Onghanseng (selanjutnya disebut Dustin) dan Presiden Touchjet Tom Li Jiang (selanjutnya disebut Tom) untuk membicarakan tentang perusahaan perangkat keras mereka.

Beritahu kami sedikit tentang startup Anda

Tom: Saya memulai Touchjet tahun 2013 dengan co-founder teknis Zhen Liu; Helen Thomas bergabung kemudian sebagai CEO. Saya bertemu dengan Zhen, teman di satu perguruan tinggi, di Starbucks bandara Beijing setelah kehilangan kontak selama sepuluh tahun atau lebih. Seperti yang telah kita perbincangkan, kami menyadari bahwa kami percaya bahwa teknologi sentuh dapat menarik orang lebih dekat melalui interaksi yang lebih baik. Keyakinan kami selanjutnya divalidasi dengan peluncuran produk pertama kami di Indiegogo menjadi salah satu dari 20 kampanye paling didanai, dengan perolehan hampir satu juta dollar.

Dustin: Ide untuk uHoo muncul dari proyek sekolah setelah percakapan di asrama. Produk yang kami kembangkan memenangkan banyak kompetisi dan saya bekerja sama dengan teman sekelas MBA di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), Brian, untuk memulai uHoo sementara kami masih di sekolah. Kemudian memutuskan untuk drop out dan meneruskan uHoo secara full time.

Bagaimana Anda bertransisi menjadi pengusaha teknologi?

Tom: Saya sebelumnya adalah seorang dosen paruh waktu di Nanyang Polytechnic dan Singapore Institute of Management (SIM), di samping itu juga mengerjakan beberapa pekerjaan konsultasi. Zhen adalah hardware engineer Huawei yang telah sukses dan pensiun dan bermigrasi ke Selandia Baru. Kami berdua memiliki waktu luang. Memulai Touchjet, pendapatan tahunan saya mengalami penurunan (dari SG$200.000/sekitar Rp 2 miliar ke nol) dan keluarga saya harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru. Kami harus menjual mobil kami dan menyewakan apartemen kami. Saya juga memindahkan keluarga saya ke Shenzhen untuk lebih dekat dengan perusahaan manufaktur rekanan. Aku harus mengatasi kurang tidur, menjalankan perusahaan di sekitar waktu di Amerika Serikat dan Asia.

Dustin: Meskipun uHoo dimulai sebagai proyek sekolah, kami menetapkan pikiran kita dari awal untuk membuat “bisnis” kami senyata mungkin. Selama program MBA kami, kami berpartisipasi dalam berbagai kompetisi bisnis sebagai test bed untuk memahami perspektif yang berbeda dari orang di berbagai daerah (Amerika Serikat, Asia Utara, dan Asia Tenggara), mengumpulkan umpan balik dalam proses untuk memperbaiki produk kami. Sebagai contoh, kami menemukan bahwa pandangan orang-orang yang dibesarkan di Portland yang merupakan kota yang sangat bersih dan hijau, sangat berbeda dari orang-orang dari kota-kota seperti Los Angeles dan New York. Ini sangat memotivasi dan memberi kami wawasan.

Mengapa Anda memutuskan untuk mengerjakan hal ini?

Tom: Kembali pada tahun 2007, beberapa perusahaan konsultan mengunjungi politeknik dengan laporan menyoroti tren dan teknologi yang akan datang – Interactive Digital Media (IDM). Hal ini dicerminkan oleh suksesnya produk IDM di pasar saat ini, seperti Wii, Microsoft Kinect dan Leap Motion. Selain itu, ada peningkatan jumlah pengguna di iOS dan platform Android dengan layar sentuh kecil. Touchjet memungkinkan menyentuh pada layar yang lebih besar, seperti TV dan proyektor, melalui hardware murah, yang memungkinkan konsumen untuk bekerja, belajar, dan bermain bersama-sama lebih baik.

Dustin: Saya menderita rhinitis dan Brian memiliki asma sehingga kita bisa berempati dengan orang yang memiliki penyakit yang sama. Tujuan kita untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan menyediakan pengetahuan tentang udara yang mereka hirup, bagaimana kebiasaan dan kegiatan sehari-hari mempengaruhi lingkungan rumah mereka, dan membantu mereka mencegah penyakit pernapasan.

Anda menjual/beroperasi di banyak negara, tetapi berbasis di negara-negara berorientasi layanan seperti Singapura. Apa keuntungan/tantangan yang Anda hadapi?

Tom: Program i-Jam pemerintah Singapura memberikan hibah SG$200.000 untuk membantu keuangan Touchjet awalnya. Selanjutnya, TNF Ventures berinvestasi ke kita di bawah program NRF-TIS yang memungkinkan kampanye Indiegogo. Untuk meningkatkan lebih besar ke putaran pendanaan Seri B dan selanjutnya, kita pasti harus menuju Amerika Serikat dan/atau Tiongkok. Pajak komersial yang rendah adalah keuntungan lain berada di Singapura. Ini juga waktu yang tepat untuk merekrut atas computer vision engineer di Singapura dengan biaya yang lebih rendah, setelah ledakan ekonomi semikonduktor. Rantai pasokan dan hardware engineer pendukung, bagaimanapun, berbasis di Shenzhen karena efisiensi biaya dan kedekatan dengan perusahaan manufaktur rekanan kami. Intellectual property (Kekayaan intelektual) juga menjadi fokus sehingga produk kami dipatenkan di Amerika Serikat, Tiongkok dan Jerman.

Dustin: Tantangan kita adalah mendapatkan orang yang tepat untuk bergabung dengan tim, tapi kondisi ini terjadi di mana-mana. Yang lainnya adalah tingkat adopsi yang berarti bagaimana orang menerima teknologi. Konsumen di Singapura umumnya lebih ragu-ragu untuk mencoba teknologi baru. Bakat, di sisi lain, lebih terjangkau di Hong Kong dibandingkan dengan tempat lain. Kemitraan dan koneksi, yang kami dibangun di atas karier dan teman sekelas kami selama program MBA adalah kunci untuk kita. Kami tidak harus mencari produsen di Tiongkok secara mandiri. Ketika kita memulai, mitra Swiss kami, diperkenalkan oleh teman sekelas MBA kami, memiliki jaringan yang baik dengan produsen di Shenzhen dan mampu untuk membantu kami secara rapidprototyping.

Bagaimana Anda memutuskan struktur harga produk Anda?

Tom: Amerika Serikat dan Tiongkok adalah juara di sektor ritel dengan ukuran pasar yang sangat besar. Kecuali untuk Tiongkok, kita menerapkan standar industri untuk penetapan harga barang dengan setidaknya tiga kali Bill of Materials (BOM) untuk memungkinkan margin keuntungan yang baik. Di Tiongkok, kami menjual melalui kerja sama dengan mitra yang jaringan penjualan kuat untuk pertumbuhan yang cepat. Memahami struktur pasar sejalan dengan penetapan harga yang bagus.

Dustin: Menentukan harga [untuk produk kami] merupakan hal sulit, seakan-akan mengambil sejumlah angka ajaib. Ada metode ilmiah untuk menghitung biaya tetapi Anda tidak akan benar-benar tahu berapa banyak orang yang bersedia membayar. Kami menentukan harga kami berdasarkan pembicaraan dengan produsen, mengamati dan berbicara dengan pasar, dan yang paling penting mendengarkan insting kita.

Apakah crowdfunding membantu startups hardware berhasil lebih baik sekarang? Atau ada faktor lain?

Tom: Ya, pemasaran melalui platform crowdfunding adalah kegiatan yang murah. Sebuah kampanye crowdfunding berhasil mendorong kami untuk mendapatkan modal usaha lebih dan perluasan tim. Keberhasilan itu juga membawa perhatian media dan 60 peluang distribusi, yang akhirnya kita pilih 18 di antaranya. Faktor lain adalah kemudahan bagi seseorang untuk menemukan semua hal yang Anda mungkin perlu dalam rantai pasokan, dari printed circuit board (PCB) hingga kemasan, di Shenzhen. Sepuluh tahun yang lalu, Anda akan perlu untuk bekerja dengan beberapa perusahaan hanya untuk menghasilkan satu produk. Sekarang, Anda hanya perlu menyediakan OEM tunggal dengan rencana Anda untuk memulai sebuah produksi.

Dustin:Crowdfunding membantu startup sampai ke tahap berikutnya, jika berhasil. Namun, masih ada beberapa langkah yang harus dilakukan seperti manufaktur dan penyaluran produk akhir. Aksesibilitas ke pabrik tidak banyak membantu dan perusahaan manufaktur sekarang lebih terbuka untuk pemesanan dengan berbagai volume order.

Apa “perangkap” yang Anda harap tahu lebih dulu ketika memulai startup hardware?

Tom:Branding adalah kunci dalam menangkis perusahaan yang menawarkan produk sejenis pada titik harga yang lebih murah. Sebuah produk kloningan GoPro 10 kali lebih murah daripada yang asli tetapi mereka hanya berhasil menghasilkan penjualan rendah. Itu karena GoPro menjual mimpi untuk menjadi pahlawan hidup Anda dan telah membangun komunitas yang kuat. Hal lain yang perlu diperhatikan akan menjadi pemilihan tim dan pasangan. Jika tidak ada tim yang tepat atau mitra di tempat, Touchjet lebih suka tidak memulai produk baru atau memasuki pasar baru.

Dustin: Saya akan mengatakan menempatkan lebih banyak buffer ke linimasa [produksi] Anda. Beberapa Hal biasanya tidak berjalan seperti yang direncanakan. Mendapatkan orang yang tepat untuk bergabung [di perusahaan] juga penting, terutama orang yang percaya pada visi Anda. Nilailah calon berdasarkan kepribadiannya, dibanding keterampilan. Keterampilan dapat diajarkan tetapi tidak sikap. Juga, selalu menjadi hal baik jika mendapatkan ide dari beberapa orang secara acak untuk umpan balik.

Apa rencana kalian untuk masa depan?

Tom: Kami awalnya berangkat untuk menjadi perusahaan hardware murni. Sekarang, Helen telah menetapkan visi untuk TouchJet untuk menjadi perusahaan IDM, mendistribusikan konten melalui perangkat keras kami untuk konsumen dan menyediakan perangkat telekonferensi berharga terjangkau.

Dustin: Sebagai startup, saya tidak memiliki kemewahan untuk melihat tahun depan tetapi mencurahkan waktu saya ke melihat 1-3 bulan ke depan, fokus pada peluncuran produk kami dan pemasaran. uHoo dimulai dengan keinginan untuk membantu orang hidup lebih sehat dan kami akan terus melakukan itu.


Guest post ini ditulis oleh Tan Choon Yan. Choon Yan memimpin usaha PayPal dan Braintree bekerja sama dengan startup, akselerator/inkubator, dan VC di kawasan Asia Pasifik.

Artikel ini tidak mewakili pikiran, niat, rencana, atau strategi perusahaan tempatnya bekerja dan semata-mata merupakan pendapat pribadi.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter