Categories

Berita

Strategi Bertahan di Industri E-Commerce Fesyen Menurut Tinkerlust dan BelowCepek

Selalu menyesuaikan dengan teknologi terkini dan buat produk dan strategi pemasaran sesuai kebutuhan pasar

Marsya Nabila - 20 October 2017

Salah satu horizontal bisnis e-commerce yang cukup memiliki banyak vertikalnya adalah fesyen. Banyak pelaku e-commerce fesyen yang lebih niche menghadirkan produk sesuai dengan target konsumennya, misalnya untuk anak millenial, perempuan karir, baju muslim, anak-anak, dan sebagainya.

Lalu bagaimana untuk cara bersaing dan tetap bertahan dalam pasar e-commerce yang sudah sangat ramai ini? Dalam salah satu sesi diskusi panel yang diadakan Local Startup Fest 2.0 menghadirkan Co-Founder dan COO Tinkerlust Aliya Amitra dan Founder & CEO Belowcepek & ReeIndonesia Riana Bismarak. Keduanya membeberkan strategi dan tips apa saja yang perlu dilakukan agar dapat bertahan di dunia e-commerce fesyen.

Buat produk sesuai kebutuhan target konsumen

Riana Bismarak menuturkan strategi fesyen saat sebelum dan sesudah era teknologi mengalami perubahan yang sangat signifikan. Pelaku tidak bisa menerapkan konsep buat baju dulu, baru dijual. Melainkan, cari target konsumennya dan buat produk sesuai kebutuhan mereka.

“Dalam fesyen itu, tren copy desain itu sangat mudah terjadi. Kita tidak bisa marah, yang bisa dilakukan adalah terus produksi barang yang dibutuhkan target konsumen Anda. Idealisme tidak bisa selalu dilakukan, karena Anda punya perusahaan yang harus dapat dipertahankan. Jadi ya harus dengarkan pasar, suka enggak suka perusahaan harus tetap sustain dengan buat sales,” Kamis (19/10).

Sebab, di tengah persaingan yang ketat, pertimbangan konsumen dalam membeli suatu produk fesyen itu salah satunya karena brand. Ketika mereka sudah nyaman dengan satu brand, berpotensi menjadi konsumen loyal.

Untuk menciptakan identitas brand tersebut, yang dilakukan Riana dalam ReeIndonesia adalah membuat produk dengan harga dan kualitas yang tidak kalah dengan brand luar negeri, packaging yang menarik, dan menyertakan ucapan terima kasih. Hal-hal yang bersifat personal sangat dibutuhkan dalam membangun brand produk fesyen.

Pihaknya melakukan strategi yang agak berbeda untuk BelowCepek. Agar produknya dapat diterima masyarakat, Riana menggunakan orang lokal yang bukan seorang model dengan tinggi dan ukuran tubuh rata-rata orang Indonesia.

“Kalau menggunakan orang bule sebagai model, kurang cocok bila menyasar orang Indonesia sebagai konsumen karena tidak semua orang lokal bertubuh tinggi. Sekaligus meyakinkan konsumen bahwa produk BelowCepek memiliki ukuran proporsional sesuai orang lokal.”

Strategi pemasaran yang sesuai target konsumen

Kendati sudah ada pemain serupa seperti Tinkerlust, yang menyediakan barang-barang preloved. Tidak melunturkan semangat Aliya Amitra untuk terus mengembangkan Tinkerlust. Dia mengaku saat ini target penjual di Tinkerlust adalah perempuan kelas A yang miliki barang mahal layak jual, sementara target pembelinya adalah ibu-ibu yang berasal dari Jakarta juga.

Padahal, dari hasil riset yang dilakukan sebelum Tinkerlust berdiri adalah ingin menjangkau orang-orang dari luar Jakarta yang kesulitan mencari barang branded. Terkait terbatasnya pembukaan gerai barang branded seperti Zara dan H&M yang masih terfokus di sekitaran Pulau Jawa saja.

“Awalnya kami identify target konsumen, awalnya kami definisikan pembelinya adalah anak kuliah dan orang-orang dari luar Jakarta. Dari situ kami sesuaikan cara pemasarannya dan tampilan Tinkerlust yang lebih cheerful. Namun ketika dilakukan, kenyataannya berbeda. Sejak saat itu kami mulai ganti identitas dan ubah cara pemasarannya,” terang Aliya.

Pihaknya pun banyak melakukan pemasaran secara offline dengan membentuk komunitas-komunitas, sekaligus upaya membentuk brand awareness. Menurut Aliya, dengan menyesuaikan strategi akan membuat konsumen jadi lebih nyaman saat menggunakan layanan Tinkerlust.

Menerapkan teknologi terkini

Perkembangan teknologi yang sangat pesat, membuat pelaku usaha harus rajin-rajin memanfaatkannya agar dapat menciptakan penjualan. Dalam Tinkerlust, Aliya melakukan pemanfaatan teknologi dengan membuat dashboar untuk memudahkan para penjual melacak status barang mereka apakah sudah terjual atau belum.

Lalu, menganalisis data konsumen untuk membaca kebiasaan konsumen berdasarkan minat dan daftar belanja mereka yang terakhir. Hasilnya akan terlihat ketika mengunjungi situs Tinkerlust, konsumen akan disuguhkan dengan daftar barang-barang yang mereka inginkan berdasarkan kebiasaan sebelumnya.

“Sekarang setiap harinya kami menerima 200-300 produk fesyen. Cara untuk orang mau belanja di kita harus menerapkan strategi sesuai data. Ini juga salah satu strategi kami dalam meminimalkan budget pemasaran yang masih terbatas, harus tetap hati-hati.”

Hal yang sama juga diutarakan Riana. Menurutnya, ketika membandingkan teknologi yang ada di 2011 saat BelowCepek baru berdiri dengan kondisi sekarang ada banyak efisiensi yang bisa dia terapkan.

Dia mencontohkan, untuk membeli website BelowCepek di 2011 harganya tergolong investasi terbesar yang harus digelontorkan saat pertama kali mendirikan BelowCepek. Namun kini, dengan teknologi yang ada dia hanya menggelontorkan biaya situs sebesar Rp400 ribu per bulan.

“Bentuk inovasi dari teknologi adalah kami bisa saving cost. Karena saya tidak punya investor, jadi tidak bisa hiring orang-orang teknologi. Makanya saya manfaatkan apa yang saya punya dengan budget seadanya. Inovasi terbaik itu dilakukan ketika kita paham dengan bisnisnya itu sendiri,” pungkas Riana.


Disclosure: DailySocial adalah media partner Local Startup Fest 2017

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter