Strategi Dimo Sosialisasi Pembayaran dengan Kode QR

Strategi Dimo Sosialisasi Pembayaran dengan Kode QR

Di tahun pertama, Dimo fokus tambah mitra perbankan jadi 5-6 bank dan 2.000 merchant
CEO Dimo Brata Rafly memperkenalkan teknologi Pay by QR untuk pembelian produk dalam booth PopBox / DailySocial
CEO Dimo Brata Rafly memperkenalkan teknologi Pay by QR untuk pembelian produk dalam booth PopBox / DailySocial

Memasarkan financial technology (fintech) di Tanah Air memerlukan kolaborasi dengan pihak perbankan untuk pemasarannya agar semakin dikenal masyarakat Indonesia. Untuk itu pada tahun pertama ini PT Dimo Pay Indonesia (Dimo) berdiri, fokus menambah mitra perbankan dan merchant.

Brata Rafly, CEO Dimo, mengatakan kolaborasi merupakan kunci utama yang perlu dilakukan oleh seluruh fintech yang bergerak di e-money agar semakin familiar di telinga orang Indonesia. Apalagi untuk penyedia jasa pembayaran kode QR terkesan sangat ‘techie.’

Menurutnya, dari total 120 perbankan di Indonesia, sekitar 50 bank di antaranya sudah memiliki produk e-money sendiri. Dari jumlah tersebut, yang sudah memantapkan diri untuk menggabungkan teknologi mobile banking-nya dengan Dimo adalah BNI, Bank Mega, Maybank, dan Bank DBS.

“Fokus tahun pertama, kami ingin menambah jumlah mitra bank dan merchant. Lalu di 2017 baru menggenjot dari segi transaksinya. Kami juga menargetkan jumlah merchant di 2017 bisa bertambah jadi 20 ribu sampai 30 ribu merchant. Semakin banyaknya jumlah mitra bank tentu akan sangat membantu masyarakat untuk proses edukasi dan sosialisasinya,” ujarnya di sela-sela acara Mobile Marketing Association (MMA), Kamis (22/8).

Sementara itu, dari segmen merchant yang ingin diakuisisi perusahaan adalah jenis usaha di bidang fast moving consumer goods (FMCG). Ada tujuan yang hendak disasar oleh Dimo dari strategi tersebut, yaitu ingin membiasakan orang-orang untuk menggunakan transaksi cashless. Sebab boleh dibilang, saat ini kebanyakan merchant e-money dipergunakan untuk membeli pulsa, telepon, listrik, dan air.

Selain itu, Dimo juga ingin mengarahkan orang yang unbankable bisa menggunakan transaksi cashless sebagai alat pembayaran sehari-harinya. “Selama ini tidak semua orang bisa menggunakan transaksi cashless karena mereka belum menjadi nasabah bank.”

Saat ini, teknologi Dimo sudah bisa diterapkan dalam beberapa aplikasi e-money yang dimiliki beberapa perusahaan, seperti Uangku, Simobi, Dompetku, T-money, dan Pay Access. Dari segi merchant, beberapa di antaranya adalah Coffee Bean, Lazada, Chatime, Pepper Lunch, Bakerzin, Fish Market, dan lainnya.

Dimo sebagai marketing tool

Selain memfokuskan diri sebagai solusi pembayaran dengan kode QR, Dimo juga memiliki potensi bisnis lainnya yang bisa dikembangkan. Yakni, menjadi alat marketing untuk berbagai perusahaan lewat salah satu produk Dimo yaitu QR Store. Produk itu merupakan sebuah konsep penjualan dengan kumpulan gambar produk dua dimensi yang dilengkapi dengan kode QR dan label harga.

Transaksi dapat dilakukan cukup dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi mobile banking dilengkapi dengan teknologi Pay by QR. Menurutnya, keuntungan yang dirasakan perusahaan bila memakai produk ini bisa membuat statistik penjualan jadi lebih terukur, meski menjual produk tradisional.

“Dimo bisa menjadi partner perusahaan untuk penjualan secara online-to-offline (O2O). Sasarannya lebih untuk orang-orang yang sedang berada di luar rumah, hanya membawa handphone, dan ingin membeli kebutuhan sehari-hari yang sifatnya urgent,” pungkas Brata.

Application Information Will Show Up Here

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Interview
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…