Categories

Feature

Tekanan Kerja dan Kesehatan Mental di Kehidupan Startup

Pengalaman dan tips yang bisa digunakan untuk menghindari tekanan urusan pekerjaan

Prayogo Ryza - 1 August 2019

Startup sering dipandang sebagai segmen industri dengan ritme cepat. Pemain di dalamnya dituntut bertumbuh dan berkembang secara eksponensial. Atas nama inovasi, kreativitas dipacu sedemikian rupa. Eksplorasi terhadap ide atau fitur baru menjadi keharusan demi menjaga loyalitas pengguna yang serba dinamis.

Di sela-sela kreativitas dan inovasi yang berpacu, ada sisi lain yang menjadi perhatian, termasuk kelelahan mental. Tidak hanya burnout karena pekerjaan berlebih, tetapi juga gangguan kesehatan mental lain karena tuntutan pekerjaan yang serba cepat.

Menurut studi yang dilakukan Michael A. Freeman, M.D dan tim mengenai hubungan antara kewirausahaan dan kesehatan mental, disebutkan bahwa jika para pekerja lapangan (seperti buruh) sangat rentan terhadap kelelahan fisik, para pekerja kreatif dan pebisnis dihadapkan pada kelelahan mental. Dari penelitian tersebut ditemukan 72% pebisnis, baik secara langsung atau tidak langsung terpengaruh gangguan kesehatan mental.

MH

Gangguan kesehatan mental mungkin jadi topik yang belum banyak dibicarakan di Indonesia, namun bagi pekerja startup, baik founder maupun karyawan pemahaman mengenai kesehatan mental harus mulai dipahami. Yang dikhawatirkan, alih-alih bertumbuh cepat startup malah justru “berantakan”.

Tak hanya founder, hampir setiap elemen memiliki tekanan pekerjaan masing-masing dengan tingkat yang beragam.

Menurut Dilla (bukan nama sebenarnya), seorang karyawan salah satu layanan e-commerce besar, mengungkapkan bahwa tekanan atau stres pernah menghampirinya ketika deadline menumpuk, meeting tak berkesudahan, dan perdebatan tak berujung dengan divisi lain terjadi dalam satu waktu. Posisinya sebagai Quality Assurance Customer Operation membuatnya bertanggung jawab pada kualitas CSR (Customer Service Representative) yang ada.

Meskipun demikian, ia merasa sangat beruntung karena lingkungan dan teman kerja memberikan dukungan yang positif. Tempatnya bekerja menyediakan konsultasi dengan psikolog untuk meringankan tekanan yang ada. Dilla menyebut teman kerja memberikan efek paling besar dalam berkurangnya stres. Komunikasi yang baik dan keterbukaan memungkinkannya untuk mengurai dan mencari sumber masalah untuk diselesaikan bersama.

Menurut Yayan Adipraja, Project Manager Qiscus, tekanan atau stres yang ada harus disikapi dengan positif.  Yayan memiliki tanggung jawab mengatur proyek agar sesuai timeline dan mengelola tim pengembang. Hal ini membuatnya harus segera melupakan tekanan dan harus kembali ke track.

“Kalau menurut saya tekanan yang pernah diterima ya ada sebab akibatnya. [Untuk itu] harus segera diselesaikan dan berlari cepat mengejar deadline karena timeline yang sudah dibuat kurang melihat interupsi-interupsi lain yang mungkin hadir,” terang Yayan.

Dinamika kerja di startup dan perusahaan teknologi yang tergolong cepat dan sarat dengan inovasi menjadi salah satu faktor yang bisa menambah tekanan kerja. Bukan hanya performa yang baik, pegawai startup juga dituntut untuk bisa mengerjakan semua pekerjaan lebih cepat dan tepat. Untuk bisa membuat semua tugas yang dibebankan menjadi lebih ringan, dukungan dan kepercayaan dari atasan hingga rekan kerja menjadi penunjang lingkungan kerja yang positif, hal tersebut yang dirasakan oleh PR Specialist Ovo a.

“Karena dukungan dari perusahaan dan rekan kerja menjadikan kami lebih mudah untuk melakukan pekerjaan atau deadline yang ada. Lingkungan kerja yang positif sangat membantu pegawai untuk lebih nyaman dan tentunya betah dengan pekerjaan mereka.”

Beberapa jenis gangguan kesehatan mental

Langkah paling awal untuk menghindari gangguan kesehatan mental adalah mengenali jenis-jenisnya dan berusaha untuk mendeteksinya dari awal. Beberapa jenis gangguan kesehatan mental yang umumnya terjadi pada pebisnis antara lain ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder), sebuah kondisi menyebabkan seseorang sulit memusatkan perhatian dan memiliki perilaku implusif dan hiperaktif, baik itu anak-anak maupun orang dewasa.

Selanjutnya ada yang dikenal sebagai anxiety atau kecemasan, pada dasarnya stress anxiety tidak selalu pertanda buruk. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut dapat menjadi simbol sesorang termotivasi terhadap sebuah hal dan membuatnya menjadi orang dengan persiapan matang. Namun, jika kecemasan berlanjut dari waktu ke waktu dan mengganggu aktivitas sehari-hari, mungkin sudah saatnya untuk mencari bantuan profesional karena jenis dan penyebab kecemasan berlebih adalah beragam.

Selanjutnya ada juga yang dikenal sebagai depresi, jenis gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan perasaan sedih yang intens, termasuk juga perasaan tak berdaya, putus asa, dan sejenisnya. Gangguan yang juga dikenal dengan nama depressive disorder ini juga memiliki banyak jenis dan beragam penyebabnya, salah satunya adalah fase hidup yang sulit dan trauma.

Tekanan seperti ini paling banyak ditemui di jajaran C-Level, mulai dari CEO, CMO, COO hingga CTO. Peranan mereka sebagai pimpinan sekaligus Co-Founder, mewajibkan mereka untuk bisa memimpin masing-masing divisi, menciptakan inovasi sekaligus memikirkan roadmap dan rencana bisnis startup ke depannya. Tekanan tersebut makin sulit dihilangkan ketika pekerjaan dan tanggung jawab semakin menuntut mereka yang masuk dalam jajaran C-Level, untuk bisa mengarahkan perusahaan ke arah yang positif. Tekanan untuk gagal dan kehilangan dana untuk menjalankan bisnis juga menjadi trauma yang mereka hadapi setiap harinya.

Salah satu Co-Founder startup yang menceritakan suka-duka selama menjalankan bisnis startup kepada DailySocial menyebutkan, tekanan untuk fundraising, hingga perbaikan dan peluncuran produk, kerap membuat mereka kehilangan waktu istirahat, sehingga depresi dan anxiety mulai muncul ke permukaan.

“Ketika Anda menjadi CEO atau masuk dalam jajaran C-Level lainnya, tidak ada kata ‘istirahat’. Pilihannya adalah terus bekerja atau berhenti sekalian.”

Dari kaca mata venture capital, stress level ini tidak bisa dihilangkan, namun bisa dikendalikan dengan leadership dan kultur perusahaan yang sehat. Principal Alpha JWC Erika Dianasari mengungkapkan, “alignment” adalah kata wajib di startup. Arahan founder, prioritas jangka pendek / menengah, fokus penggunaan sumberdaya (capital dan orang), metrik utama yang perlu dicapai, siapa memegang apa, harus senantiasa disinergikan dari Founder sampai ke bawah dan sebaliknya.

Bagaimana objective utama startup bisa diturunkan dari Objectives & Key Results (OKR) akan terefleksi ke rencana bulanan, mingguan, sampai ke bagaimana tim mengelola workstream harian mereka.

Mencegah gangguan kesehatan mental

Untuk masalah kesehatan mental, tidak ada yang lebih tepat selain berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater profesional. Selain bisa memberikan pemahaman mengenai gangguan yang dimiliki, mereka pasti memiliki beragam cara untuk meredakan atau menyembuhkan, karena setiap orang memiliki penanganan yang berbeda-beda tergantung kasus yang dihadapi.

Dalam konteks menghindari, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah pemahaman mengenai work-life balance. Founder yang paham mengenai konsep ini selain menerapkan untuk diri sendiri diharapkan juga untuk membangun suasana kerja yang seimbang bagi para pekerjanya.

Work-life balance merupakan aspek yang penting dari sebuah lingkungan kerja yang sehat. Menjaga keseimbangan kehidupan dan pekerjaan akan berdampak pada berkurangnya risiko stres. Caranya bisa beragam, seperti menyeimbangkan antara kerja dan bermain, kerja dengan bepergian, dan semacamnya.


Yenny Yusra terlibat dalam penulisan artikel ini

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter

Thank you for Reading DailySocial.id

Starting at less than Rp 5.000/Day. You get unlimited access to DailySocial.id