Categories

Tips

Tiga Hal yang Bisa Dipelajari dari Pokemon Go Mengenai Startup Internal

Stigma negatif startup internal pasca berpisah dari eks-induk perusahaan berhasil ditepis Niantic Labs lewat produk inovatif mereka

Marsya Nabila - 20 July 2016

Pokemon Go kini menjadi game yang digandrungi oleh banyak kalangan di seluruh dunia dan memberikan banyak hal yang bisa dipetik lewat keberadaannya. Salah satunya terkait dengan perusahaan pengembangnya yang pada musim gugur tahun lalu masih menjadi bagian dari keluarga Google, yakni Niantic Labs.

Lewat Niantic Labs, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita pelajari mengenai startup internal yang dikembangkan oleh perusahaan besar.

  1. Niantic Labs, yang dikembangkan sebagai startup internal, terbukti bisa sukses hidup mandiri dan lepas dari label anak perusahaan Google. Padahal, tidak lama sebelum lepas, Google telah bertransformasi mendirikan induk perusahaan baru bernama Alphabet untuk menaungi seluruh anak usaha Google.

Perlu diketahui, saat startup dikembangakan secara internal dan menjadi bagian dari korporasi, ada stigma negatif yang kerap muncul di jagat maya yang berkaitan dengan sulitnya mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk suatu hasil karya yang telah diciptakan. Pasalnya, kebanyakan startup internal berakhir di pertempuran demi mendapatkan HKI. Namun, Niantic Labs telah membuktikan bahwa memperjuangkan HKI itu masih bisa didapatkan.

  1. Niantic Labs berhasil membuktikan bahwa mereka masih bisa meningkatkan sumber pendanaannya di luar eks-induk perusahaan. Pasca berpisah, perusahaan tersebut justru berhasil menggalang kepercayaan dari investor baru untuk menanamkan uangnya seperti dari The Pokemon Company dan Nintendo.

[Baca juga: Tahukah Bahwa Pokemon Go Bagus untuk Pemasaran Bisnis Anda?]

Padahal seringkali muncul stigma negatif dalam pandangan investor baru terkait konflik kepentingan laten yang terjadi di eks-induk startup tersebut berasal. Tapi, Niantic Labs berhasil menyelesaikan isu tersebut dengan baik.Flickr

  1. Startup internal bisa meluncurkan Minimum Viable Product (MVP) ketika masih menjadi bagian dari perusahaan. Pada 1 April 2014 silam, Google membuat sebuah game untuk merayakan April Mop yang mengizinkan penggunanya mencari pokemon dari Google Map.

Niantic Labs adalah developer di balik game tersebut. Dengan adopsi yang cepat dan memanfaatkan momentum penggunaan lelucon, dikombinasikan dengan pembelajaran dari integrasi sistem dengan permainan adalah pencerahan untuk Pokemon Go hari ini.

Biasanya perusahaan besar sering tidak ingin mengambil risiko merusak merek untuk merilis MVP, bahkan jika pembelajaran yang bisa diperoleh sangat besar. Mereka lebih suka bermain aman dan tidak mengambil risiko pers buruk. Tapi, Google membahas hal ini dengan meluncurkan produk sebagai lelucon April Mop dan menangkap analisis dalam penelitian ini.

Lewat kehadiran Ingress dan Pokemon Go, Niantic Labs sudah membuktikan bahwa sebuah perusahaan startup internal dapat mendulang kesuksesan berulang kali. Mereka berhasil menyelesaikan isu HKI, membesarkan perusahaan sembari menciptakan game berkonsep Augmented Reality (AR), dimana semua orang pasti akan berburu mencontohnya.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter