Salah satu cara sukses startup dikenal adalah dengan memiliki nama atau brand yang kuat. Tim Zanada paham betul hal ini. Setelah menjalani diskusi dan beberapa pertimbangan, Zanada akhirnya berubah nama menjadi Trivio. Nama Zanada ditinggalkan karena banyak yang mengira Zanada merupakan bagian dari Zalora, Lazada bahkan Panada. Trivo akhirnya dipilih sebagai pengganti Zanada karena dinilai lebih mudah diingat dan dilafalkan.

Trivio sendiri diakui salah satu penggagasnya Ibnu Rizal sebagai penyempurnaan dari Zanada. Trivo mendapatkan sejumlah penambahan fitur yang membuatnya bisa bekerja optimal untuk operasional pekerja di lapangan yang menggunakan perangkat mobile.

“Zanada kala itu masih prematur dan hanya punya aplikasi berbasis web saja, kurang powerful untuk operasional di lapangan memakai handset. Trivio memiliki fitur sesuai dengan apa yang saya harapkan saat membangun Zanada, yakni aplikasi yang terintegrasi antara web based untuk manager/director, serta native Android apps untuk para salesman,” terang Rizal.

Dari penuturan Rizal, Trivio dirancang untuk mengedepankan kontrol proses penjualan yang terukur dan transparan bagi para manager, pemilik bisnis dan salesman sendiri. Ada pun fitur-fitur yang menjadi unggulan antara lain, Absensi Online melalui aplikasi yang terintegrasi, Pipeline yang digunakan untuk melihat proses, Check in – Check out untuk update penjualan dan lokasi pertemuan, Photo Geo-tagging untuk laporan keberadaan lokasi, Region Based Salesman, dan beberapa lainnya.

Selain itu Trivio juga menyediakan fitur untuk memantau kondisi GPS, sehingga penggunaan GPS palsu akan terdeteksi. Demikian juga status baterai dari perangkat yang digunakan.

“Selain memosisikan diri untuk manager/business owner, kami juga memosisikan diri untuk tenaga lapangan. Trivio punya fitur untuk mendeteksi pengaktifan Fake GPS sehingga di laporan manager jika salesman mengaktifkan Fake GPS maka akan muncul notifikasi Fake di laporan. Status baterai pun telah ada di Trivio sehingga manager pun bisa tahu berapa persen baterai yang terpakai oleh handset si Salesman saat itu,” papar Rizal lebih lanjut.

Saat ini Trivio yang sudah digunakan salah satu perusahaan distribusi medical di Indonesia, dan terus berupaya untuk menambah jumlah pengguna mereka. Rizal menuturkan pihaknya menargetkan setidaknya ada sepuluh perusahaan yang menggunakan layanannya di penghujung akhir tahun ini.

“Pangsa pasar solusi ini sangat besar mengingat banyaknya distributor di Indonesia maupun worldwide (mengingat flow sales secara overall itu tidak jauh beda di setiap negara). Kami yakin dalam dua tahun ke depan dapat menembus minimal pasar Asia Tenggara,” tutup Rizal.