Layanan pembayaran peer-to-peer (P2P) Xendit, yang hadir di Indonesia sejak tahun 2015 lalu, telah melakukan transformasi dalam hal layanan. Xendit kini fokus menjadi layanan infrastruktur pembayaran atau yang banyak dikenal sebagai payment gateway.

Berawal dari obrolan sederhana, ide memperluas bisnis dengan mengubah sedikit model bisnis secara spontan muncul dari Co-founder Xendit Moses Lo. Kepada DailySocial, Moses mengungkapkan momen tersebut sebagai pencerahan untuk perkembangan bisnis Xendit.

“Sekitar 16 bulan yang lalu saya sedang berbincang dengan rekan seputar infrastruktur yang mampu membuat aplikasi P2P bekerja dengan baik di Xendit, di akhir perbincangan tersebut rekan kami cukup antusias dengan ide yang kami miliki dan mengatakan bersedia untuk membayar ide yang kami miliki, dari situlah akhirnya kami memutuskan untuk membuat sistem pembayaran yang bernilai,” kata Moses.

Moses juga menambahkan setelah sistem telah dirampungkan, Moses dan tim mulai menawarkan produk terbaru tersebut, dan secara perlahan telah memberikan kontribusi lebih untuk Xendit. Tidak lama kemudian Xendit memutuskan untuk melakukan transformasi bisnis fokus kepada infrastruktur pembayaran.

Guna memberikan layanan terbaik kepada kliennya, Xendit berusaha untuk mengenali kebutuhan paling krusial dari semua klien yang ada. Setelah melihat dan mencermati kendala yang mereka hadapi, tim Xendit berusaha untuk menghadirkan solusi tersebut, kemudian menjualnya kembali kepada klien yang lain.

“Yang kami temukan adalah saat ini masih banyak pembayaran paling dasar yang masih belum tersedia di Indonesia. Contohnya, kami menghadirkan transfer secara instan tanpa batas ke semua bank di Indonesia setiap saat melalui API. Layanan ini sebelumnya belum ada di Indonesia,” kata Moses.

Hingga kini Xendit mengklaim telah memiliki ratusan merchant dan partner yang berasal dari startup hingga layanan e-commerce yang memanfaatkan Xendit untuk pembayaran. Berdasarkan kategori, klien Xendit adalah layanan e-commerce, P2P lending, dan perusahaan asing yang mencari teknologi pembayaran standar kelas dunia.

Target Xendit tahun 2017

Saat ini Xendit disebut telah mengalami pertumbuhan sebesar 20% setiap bulannya dalam waktu 16 bulan terakhir. Pencapaian tersebut seiring dengan tumbuhnya industri startup di Indonesia. Xendit menyematkan API atau interface dengan kualitas terbaik dan sederhana, menjadikan integrasi semakin mudah.

“Dari sisi produk kami menyediakan layanan yang berfungsi dengan baik dan Service Level Agreement (SLA) yang tidak diberikan oleh layanan lainnya, yaitu menyediakan transfer secara instan ke lebih dari 130 bank melalui API. Bukan hanya klien Indonesia yang menyukai layanan kami, namun juga pelanggan asing yang merasa puas dengan kecepatan layanan dari tim layanan pelanggan kami,” kata Moses.

“Tujuan kami adalah menemukan dan mendukung startup unicorn dari Indonesia selanjutnya, terutama yang menghadirkan inovasi layanan seperti kartu kredit yang bisa dinikmati secara langsung dalam waktu beberapa jam saja dan bisa menerima kartu kredit asing. Target kami lainnya adalah menambah jumlah kapasitas hingga 10 kali lipat untuk memenuhi permintaan yang ada saat ini,” tutup Moses.