1. Startup

"Fintech Aggregator" Alami Sharia Bantu UKM Cari Pinjaman Usaha

Membidik penyaluran pinjaman sebanyak Rp100 miliar untuk 20 sampai 30 UKM

Gaya hidup berbasis syariah kian digandrungi masyarakat Indonesia, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan ketertarikan untuk menjalani kehidupan finansial berbasis syariah. Atas dasar hal tersebut, Dima Djani bersama teman-temannya mendirikan startup fintech aggregator Alami Sharia.

"Kami melihat banyak UKM yang harus menempuh waktu yang lama setiap kali mereka ingin mendapatkan pinjaman usaha dari bank. Belum lagi ada potensi bakal ditolak. Kami ingin bantu percepat proses tersebut [jadi lebih cepat]," terang CEO dan Founder Alami Sharia Dima Djani, Jumat (18/5).

Alami menjadi agregator untuk menghubungkan pengusaha UKM dengan para institusi keuangan yang bergerak di bisnis syariah, seperti bank dan layanan p2p lending.

Dia menjelaskan, untuk proses penyaluran dana, pengusaha UKM cukup mengisi data yang dibutuhkan lewat situs Alami. Besaran nominal yang bisa diajukan UKM lewat platform Alami dimulai dari Rp200 juta sampai Rp30 miliar.

Pihaknya akan memberikan credit rating dengan menggunakan standar dari perbankan untuk kemudian direkomendasikan kepada para mitra institusi. Mereka dapat memilih UKM yang sesuai dengan preferensi masing-masing.

Pemberian credit rating yang diterapkan Alami sangat mirip dengan apa yang biasa dilakukan bank, dilihat dari kualitatif dan kuantitatif. Seperti berapa lama usaha sudah berdiri, skala usahanya, karakter usaha, rasio keuangan, dan sebagainya.

Credit rating versi Alami akan dinilai ulang oleh setiap institusi keuangan, tapi bisa dipastikan dalam proses ini akan memakan waktu lebih singkat ketimbang saat mereka hitung dari awal.

"Dengan cara ini proses pencairan akan lebih cepat, sekitar 2-3 minggu saja. UKM dapat menjangkau berbagai institusi dengan berbagai penawaran hanya dengan satu kali kerja saja, tidak seperti sebelumnya."

Untuk monetisasinya, Alami mendapat komisi sebesar 1% untuk setiap penyaluran yang berhasil diterima. Alami juga mempersiapkan tim untuk mengedukasi para pengusaha UKM, mengingat pembukuan yang rapi belum sepenuhnya dipahami dan diterapkan dengan baik. Dima menuturkan perusahaan sedang memproses kerja sama dengan startup software akuntansi untuk bantu UKM dalam pembukuan usaha.

Pencapaian bisnis dan rencana berikutnya

Sejak resmi beroperasi di akhir tahun lalu, Alami telah merealisasikan penyaluran sebesar Rp15,5 miliar untuk lima pengusaha UKM. Rata-rata UKM tersebut bergerak di bidang konstruksi dan bahan kimia berlokasi di Jabodetabek.

Dari total penyaluran ini, sekitar 70% di antaranya dilakukan oleh bank dan sisanya oleh fintech p2p lending. Alami baru bekerja sama dengan dua bank syariah, yaitu BNI Syariah dan Bank Mega Syariah, dan fintech syariah Kapital Boost.

"Dari sisi mitra institusi, keberadaan kami cukup dibutuhkan karena mereka tidak perlu susah-susah cari calon debitur."

Untuk sementara perantara Alami masih sebatas penghubung antara institusi keuangan syariah dengan pengusaha UKM. Tak ingin sampai di situ, dalam tahun ini Alami akan menambah layanan monitoring demi mencegah terjadinya kredit macet pasca pencairan berhasil dilakukan.

Dima menuturkan pihaknya juga akan perbanyak mitra institusi agar semakin banyak pelaku UKM yang bisa dibantu mendapat pinjaman usaha. Ditargetkan sampai akhir tahun ini Alami bisa memiliki enam mitra bank dan dua mitra fintech.

Adapun untuk realisasi penyalurannya diharapkan bisa tumbuh minimal empat kali lipat dibandingkan pencapaian saat ini, atau menjadi Rp100 miliar sampai akhir tahun. Penyaluran tersebut akan diarahkan untuk membantu 20-30 mitra UKM.

"Kami akan perlahan-lahan masuk ke daerah, sebelum sampai ke seluruh Indonesia. Kami juga ingin ekspansi ke luar negeri."

Saat ini Alami telah menerima investasi tahap pre-seed dari sejumlah angel investor dan hibah dari ajang INSEAD Venture Competition, setelah terpilih menjadi juara kedua. Rencananya Alami akan secara resmi hadir pertengahan tahun ini.