1. Startup

Karakteristik Generasi Y dalam Lingkungan Pekerjaan

Teknologi sangat mempengaruhi, namun ada aspek-aspek lain yang perlu dicermati

Banyak pembahasan mengenai perbedaan generasi Y (mereka yang lahir di antara tahun 1983 sampai 2001) dengan generasi-generasi sebelum atau sesudahnya. Kebanyakan menyoal kondisi mereka di tempat kerja, karena generasi Y merupakan generasi pertama yang dipengaruhi penuh oleh teknologi digital di tempat kerja mereka. Salah satunya ada JakPat, situs jajak pendapat yang memberikan laporan beberapa perbedaan antara generasi Y dengan generasi X, generasi di atasnya.

Generasi Y atau sering disebut millennial adalah generasi pertama yang dengan mudah mendapatkan akses terhadap informasi dan juga terhubung satu sama lain lintas negara di seluruh dunia. Keunggulan inilah yang pada akhirnya posisi millennial memegang peranan penting dalam setiap perusahaan.

Dari total 618 responden yang tersebar di seluruh Indonesia laporan JakPat memaparkan bahwa ada beberapa kemiripan seperti keinginan memiliki lebih dari 10 atasan dalam hidup mereka dengan alasan untuk mengembangkan karier dan berpikir bahwa generasi mereka lebih baik dari generasi para orang tua mereka.

Tidak dapat dipungkiri cara millennial bekerja dan bagaimana mereka menyelesaikan masalah dipengaruhi oleh budaya teknologi yang berkembang dengan pesat berbarengan dengan perkembangan usia mereka. Mereka jadi mahir dalam memanfaatkan teknologi.

Di buku Millenials @Work karya Chip Espinoza di ungkapkan banyak perbedaan-perbedaan antara para millennial dengan yang lainnya. Beberapa yang paling terlihat adalah kebiasaan mereka berganti-gati pekerjaan. Bukan karena mereka tidak kompeten, tetapi lebih mencari kebahagiaan dalam pekerjaan mereka. Para millennial percaya bekerja dengan perasaan bahagia bisa berpengaruh pada hasil kerja dan percepatan promosi mereka di tempat kerja.

Di survei yang dilakukan JakPat, dengan 59,71% responden yang merupakan millennial, juga menunjukkan hal yang sama. Dari kesimpulannya, JakPat menjelaskan bahwa 7 dari 10 responden mereka akan memutuskan keluar dari pekerjaan jika memang pekerjaan mereka tidak membuat mereka bahagia. Bahagia bagi millennial bisa dikatakan setara dengan uang.

Tak hanya itu millennial juga digambarkan sering memiliki kesulitan berkomunikasi dengan atasan, terlebih dengan mereka yang berbeda generasi. Espinoza dalam bukunya menyebutkan inilah yang menjadi hal yang pada akhirnya memicu persepsi buruk terhadap millennials oleh para manajer.

Padahal sebenarnya keinginan berkomunikasi dengan generasi sebelumnya merupakan salah satu hal yang terus diupayakan millennial. Dalam laporan survei JakPat juga disebutkan bahwa kebanyakan dari responden mereka ingin bekerja satu tim dengan orang-orang yang berada di generasi di atasnya.