1. Startup

Mempersiapkan Diri Untuk Mendapatkan dan Mengelola (Smart) Money Bagi Startup

"Smart money" bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga tentang roadmap plan, strategi, akses, dan keahlian investor

Sudah jadi rahasia umum bila banyak pemain startup yang gagal meski pelakunya kian menjamur. Salah satu penyebabnya tak jauh-jauh dari pengelolaan uang terkait pendanaan. Kamis kemarin (22/10) DailySocial menggelar event dengan tajuk “Funding Your Startup: Show Me The (Smart) Money” yang menggarisbawahi fase setelah pendanaan bagi startup.  Turut hadir juga Co-Founder dan CMO Telunjuk Hanindia Narendrata, VP Business Development Ideosource Andrias Ekoyuono, Venture Partner MDI Nicko Widjaja sebagai pembicara.

Startup digital dewasa ini memang terlihat begitu seksi. Namun, sudah jadi rahasia umum juga bila tak sedikit pula yang gagal. Salah satu penyebabnya ialah pengelolaan pendanaan yang dinilai kurang efektif dan efisien.

Andrias mengatakan, “Investasi [di dunia startup] pada dasarnya adalah untuk membeli momentum, mempercepat momentum, mengakselerasi momentum agar startup dapat lebih cepat menjadi market leader. […] Yang datang berikutnya [adalah] solving problem lebih serius, atau mengambil positioning yang berbeda.”

(Baca juga: Menghabiskan Waktu Mengejar Pesaing Bukan Hal Bijak Bagi Startup)

Tapi, masih banyak juga startup yang tidak mampu mengelola pendanaan yang didapat. Ada yang berani menghabiskan dana sampai pada titik startup tersebut tidak bijak mengontrol pengeluran. Sementara lainnya, ada juga yang terlalu berhemat untuk menghabiskan dana.

“Sebenarnya diperlukan bantuan orang yang lebih senior [...] untuk membantu [mengajari] startup bagaimana melakukan pengeluaran yang bijak. Pertanyaan [seperti] spending di marketing atau segala macamnya, itu tergantung dengan roadmap perusahaan masing-masing. Ada [roadmap] jangka panjang atau jangka pendek.” jelas Andrias.

Lebih jauh, Andrias juga menekankan bahwa roadmap ini tidak bisa digeneralisasikan. Ini karena tujuan dari roadmap masing-masing startup tidak ada yang sama. “Pada intinya adalah, ketika mendapatkan funding jangan hanya memikirkan, saya harus memperkuat produknya saja, marketing saja, itu kurang baik,” jelasnya.

Senada dengan Andrias, Nicko juga menuturkan bahwa seorang entrepreneur yang baik adalah yang tahu dia mau apa ke depannya. Hal tersebut, menurut Nicko bisa dilihat dari kematangan rencana yang ada dalam roadmap startup.  Ditegaskan juga olehnya, bahwa investor memiliki peran untuk mentoring dan membuka jaringan professional bagi startup yang diberikan oleh investasi.

Pun demikian, mencari investor yang memiliki visi yang sama dengan startup bukanlah hal yang mudah. Hal ini pun telah dirasakan oleh Narendrata. Menurut Narendrata, mencari investor sudah seperti layaknya mencari pasangan hidup.

“Mencari investor seperti mencari pasangan hidup. […]Cari yang klik, […]visinya sama. Topik uang masalah terakhir,” ujarnya.

(Baca juga: Rahasia Menemukan Investor yang Tepat Bagi Startup Anda)

Andrias menekankan, “Menumbuhkan perusahaan [startup] bukan hanya masalah uang dan cost, tetapi lebih dari itu. Pertama, ada akses untuk networking. Kedua, pengalaman [investor/advisor], karena ketika perusahaan menajadi lebih besar, cara penanganannya akan berbeda.”

“Terakhir adalah strategi. Anda [startup] akan butuh kawan, [investor atau advisor] untuk memberi view dari jauh [tentang apa yang Anda lakukan dengan startup Anda] agara tidak kehilangan arah untuk mencapai goal. Ketika perusahaan masih early, ada kultur yang belum tercipta,” tegasnya.

Pada akhirnya, startup dibangun untuk memecahkan suatu permasalah dalam lingkupan yang luas dan dalam perjalanannya tak dapat dipungkiri startup akan butuh pendanaan. Smart Money sendiri akan menjadi titik awal para startup memulai tantangan baru setelah melewati fase fundraising. Namun yang harus diperhatikan adalah, dalam fundraising bukan hanya dananya saja yang penting, tetapi tentang strategi, akses, dan keahlian dari investor.

Elemen lain yang perlu diperhatikan adalah roadmap, baik itu dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Karena investor tidak akan mau berinvestasi pada startup yang dianggap tidak sustainable.