1. Startup

Bukalapak Tegaskan Segmen O2O Berbasis Kemitraan Jadi Ujung Tombak Bisnis

Peluang di kota tier 2 dan tier 3 yang masih sangat besar mendorong optimisme Bukalapak memperluas pasar

Bukalapak adalah salah satu startup unicorn yang dikabarkan berencana go public tahun ini. Kehadirannya di bursa saham bakal meningkatkan pembobotan saham-saham teknologi dan mendongkrak visibilitas bursa saham Indonesia di tengah-tengah tren global.

Di bursa saham Amerika Serikat dan Tiongkok, perusahaan-perusahaan teknologi sudah memiliki porsi besar. Di bursa saham Indonesia, sebagai perbandingan, perusahaan teknologi yang sudah go public masih bisa dihitung dengan jari dan skalanya belum ada yang raksasa.

Meski perusahaan belum bisa memberikan keterangan resmi tentang rencana ini, dalam perbincangan dengan DailySocial, Bukalapak menegaskan kembali pilar-pilar bisnis baru yang menjadi fokus perhatiannya.

Mitra Bukalapak

Meski Bukalapak mengakui bahwa pihaknya memiliki "ketertinggalan" di sisi e-commerce dibanding kompetitor, perusahaan mengklaim Mitra Bukalapak sebagai first mover di segmen O2O UMKM.

Diluncurkan hampir 5 tahun yang lalu, Mitra Bukalapak kini memiliki sekitar 7 juta mitra. Dengan peluang di kota tier 2 dan tier 3 yang begitu besar--lebih besar porsinya dibandingkan kota tier 1 yang menjadi konsumen utama online marketplace saat ini--perusahaan optimis bisa terus melakukan ekspansi pasar.

Peluang baru ini tidak hanya membantu masyarakat dapat bertahan menghadapi dampak ekonomi yang timbul dari pandemi, tetapi juga diklaim menciptakan dampak sosial-ekonomi yang positif.

Bukalapak mencatat banyak dari bisnis UMKM tersebut adalah kedai milik keluarga (warung). Untuk setiap 50-100 rumah, seseorang atau sebuah keluarga akan membuka sebuah toko di rumah mereka dan menjual Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dasar seperti air, sabun, kopi, mie instan, dan lain-lain. Warung-warung tersebut kebanyakan adalah tumpuan masyarakat dan mulai tertinggal karena perkembangan zaman.

Bekerja sama dengan mitra, Bukalapak mengklaim dapat membuat warung-warung mengejar ketertinggalan tersebut, seperti menawarkan layanan pengantaran di hari berikutnya (Next Day) untuk kebutuhan FMCG, memungkinkan UMKM mendapatkan akses ke banyak produk dengan harga yang lebih murah.

Perusahaan juga menyediakan alat pembukuan untuk mendigitalkan bisnis dan menghasilkan data yang membuat mereka creditworthy. Para mitra juga didorong menjadi agen/distributor untuk produk digital seperti pulsa, voucher game, tiket pesawat/bus/kereta api, dan pembayaran digital untuk menyediakan pendapatan tambahan lain.

Solusi inklusi keuangan Bukalapak juga memungkinkan kemudahan pengiriman dana menggunakan jaringan para mitra. Para mitra bekerja dengan bank sebagai agen KYC, memungkinkan mereka yang tidak memiliki rekening bank untuk membuka rekening bank digital dan mengakses kredit.

Layanan finansial digital

Potensi lain yang menjadi perhatian Bukalapak adalah layanan-layanan finansial. Di luar fitur pembayaran tagihan (PPOB) yang sudah tersedia di marketplace, perusahaan mencoba berekspansi ke segmen yang lain.

Langkah pertama adalah menggandeng sejumlah layanan pembiayaan dan perbankan untuk kemudahan bagi  pembeli dan penjual. Langkah kedua, yang baru dilakukan akhir bulan lalu, adalah mengembangkan layanan investasi reksa dana di aplikasi tersendiri, yang disebut BMoney. Yang ketiga adalah mengembangkan layanan Banking-as-a-Service (BaaS) bersama Standard Chartered Bank yang menjadi salah satu investornya. Platform ini bernama generik nexus.

Ada dua fokus area yang dibidik. Pertama, menghadirkan inovasi keuangan dan e-commerce melalui ekosistem Bukalapak. Kedua, mendorong inklusi keuangan ke 100 juta pengguna dan 13,5 juta UMKM.

Kolaborasi ini nantinya menjadi solusi keuangan baru, terutama bagi mereka yang tinggal di luar kota-kota tier 1 dan membutuhkan akses cepat dan mudah ke layanan perbankan.

Meskipun dari sisi teknologi keduanya mengklaim sudah siap, namun dari sisi regulasi masih banyak aturan yang harus dipenuhi dan disesuaikan. Untuk itu kedua belah pihak memastikan nexus telah dikurasi untuk memenuhi persyaratan Bank dan regulator lokal.

Cluster CEO Indonesia & ASEAN Markets Standard Chartered Andrew Chia mengatakan, "Kami menciptakan solusi keuangan ini dalam kemitraan dengan Bukalapak untuk memberi pengguna pengalaman transformatif dan berpusat pada pengalaman pelanggan yang menggantikan pengalaman tradisional dan mengadaptasinya agar terhubung secara digital – sambil tetap memberlakukan kebijakan pengamanan bank untuk melindungi privasi data pengguna.”

Rencana IPO

Bukalapak dikabarkan bakal melantai di Bursa Efek Indonesia pada pertengahan tahun ini. Perusahaan juga disebutkan menjajaki potensi menggunakan perusahaan cek kosong (Special Purpose Acquisition Company / SPAC) untuk melantai di bursa saham Amerika Serikat.

Dana yang diharapkan diraih dari go public ini bakal menjadi salah satu yang terbesar bagi perusahaan publik di Indonesia. Saat ini Bukalapak memiliki tiga institusi sebagai pemegang saham terbesar, yaitu grup Emtek, Ant Financial (Alibaba Group), dan GIC Singapura.

Selain Bukalapak, sejumlah startup bervaluasi besar lainnya juga mempertimbangkan langkah serupa.

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin, kepada DailySocial, mengatakan, "Kami senantiasa mengeksplorasi kesempatan bagi perusahaan untuk terus bertumbuh dan berkembang secara finansial. Namun, untuk saat ini, kami belum membuat keputusan apapun. Fokus kami saat ini adalah terus mencari strategi yang tepat untuk menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan menciptakan nilai tambah bagi para partner dan pengguna untuk waktu-waktu mendatang."

- Disclosure: Amir Karimuddin berkontribusi dalam pembuatan artikel ini

Application Information Will Show Up Here