1. Startup

Tidak Memiliki Co-Founder Teknis Bukan Akhir Dari Segalanya

Ada alternatif pilihan yang bisa dipilih, merekrut co-founder teknis sendiri atau outsourcing

Ide-ide baru terus bermunculan untuk pengembangan produk, sementara kamu hanya seorang diri tidak memiliki co-founder teknis. Ditambah, kamu tidak mengerti coding. Lantas, apakah ini akhir dari segalanya? Tentu saja tidak. Ada dua pilihan yang bisa kamu lakukan, yakni menyewa tenaga ahli sebagai outsourcing atau merekrut co-founder teknis.

Perlu diperhatikan ada beberapa kekurangan dan kelebihan yang masing-masing dimiliki dua opsi tersebut. Saat menyewa tenaga ahli outsourcing, di satu sisi biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Sebab, biaya tergantung kesulitan proyek yang ditangani.

Adapun kelebihannya, bila membandingkan antara biaya yang harus dikeluarkan antara menyewa outsourcing dengan merekrut co-founder teknis, akan lebih murah outsourcing sebab tidak melewati proses perekrutan bahkan training.

Sehingga, beban pikiran yang kamu tanggung menjadi lebih ringan dan bisa fokus mengerjakan hal penting lainnya. Hal ini dilakukan oleh Alex Turnbull, pendiri Groove HQ, yang mendirikan aplikasinya dengan menyewa tim outsourcing. Menurutnya, dengan outsourcing, pihaknya tidak harus melakukan training. Dia bisa fokus mengerjakan hal lainnya.

“Saya tidak perlu merekrut dan melatih siapapun. Ketika saya bekerja sama dengan MojoTech, saya tidak perlu mengawasi secara langsung. Saya pun bisa fokus ke hal penting lainnya, yakni berkontribusi secara langsung dalam penciptaan produk,” ujarnya.

Merekrut co-founder teknis dinilai gampang-gampang susah. Tidak bisa sembarangan merekrut. Kamu perlu orang yang tepat dan sudah dikenal luar dalam guna mendapatkan visi misi yang sama.

Butuh waktu dan tenaga untuk merekrut partner bisnis dan tidak ada jaminan kamu akan menemukan sosok tersebut. Agar waktu dan tenaga tidak habis saat mencari sosok tersebut, lebih baik mengembangkan ide bisnis lainnya.

Terus bergerak

Kendati masih belum menemukan co-founder teknis, kamu masih bisa mengembangkan ide cemerlang lainnya. Perlu diketahui, aplikasi terbaik di dunia itu bakal tidak berarti bila tidak didasari strategi pemasaran yang tepat.

Untuk itu, mulai dari menulis visi ke dalam secarik kertas. Gunakan alat bantu seperti Lean Canvas dan buat pemetaan dengan mencari wilayah pasar yang potensial. Kemudian, lakukan diskusi dengan konsumen potensial untuk menguji dan mendapatkan masukan sesuai keinginan mereka.

Hal tersebut perlu bagi perusahaan startup. Bila kamu sudah mulai mendirikan produk sebelum mengerti kebutuhan konsumen, semuanya akan percuma.

Belajar coding

Tidak perlu menjadi seperti Mark Zuckerberg, paling tidak kamu perlu memiliki pemahaman dasar bagaimana coding dan piranti lunak bekerja. Sebagai satu-satunya pendiri, semua keputusan awal akan berhenti di kamu sendiri.

Kamu perlu tahu lebih dari apa yang kamu ketahui saat ini, agar saat memutuskan keputusan nanti dapat tepat sasaran. Bukan tidak mungkin bisa belajar bahasa pemrograman sendiri, sebab ada program gratis yang bisa dipelajari seperti Codeacademy.

Pada akhirnya, bukan karena kamu tidak bisa coding dan tidak memiliki co-founder teknis kamu ditakdirkan untuk gagal. Kamu punya ide. Lakukan observasi, kerjakan, dan buat strateginya. Meski tidak punya partner teknis, tidak ada hal yang lebih menyenangkan karena perusahaan 100% milikmu sendiri.