1. Startup

Ditolak 30 Investor, Inilah Empat Pelajaran Penting yang Saya Dapat

Setelah publisitas, persoalan keuangan juga menjadi salah satu hal yang krusial bagi sebuah startup karena umumnya startup dimulai dengan pendanaan yang tidak besar. Di saat yang sama, sebuah startup juga membutuhkan skill dari orang-orang dengan integritas tinggi yang dapat mengembangkan startup dalam waktu yang lebih singkat. Jadi, bagaimana caranya agar orang-orang tersebut mau bekerja untuk memajukan startup yang sedang dirintis sedangkan dana yang dimiliki sangat terbatas?

Jawabannya adalah dengan mencari investasi. Dengan menggunakan dana investasi yang diberikan oleh investor, founder dapat merekrut pekerja profesional sehingga dapat mengembangkan startup dalam waktu yang lebih cepat. Selain itu, dana yang didapatkan dari investasi yang diberikan investor juga dapat digunakan untuk kegiatan marketing dan juga pengembangan produk pada startup yang Anda jalankan.

Mungkin Anda juga bertanya-tanya, “Apakah sebuah startup harus mendapat funding (pendanaan) dari investor agar bisa sukses?”

Ada beberapa startup yang memutuskan untuk bootstrapping (menjalankan startup dengan dana sendiri) hingga besar sukses dan memiliki lebih dari ratusan ribu pelanggan seperti Envato, 37Signals, Mailchimp, dan juga startup dari Indonesia, yaitu Kaskus. Empat startup tersebut membuktikan bahwa bootstrapping hingga perusahaan menjadi besar dan sukses memang bukan suatu hal yang mustahil dalam dunia startup, namun tentu saja perkembangan bootstrapped startup tidak akan secepat startup yang mendapatkan investasi dari investor.

Startup yang mendapatkan pendanaan dari investor tidak hanya mendapatkan uang saja. Startup tersebut juga akan mendapatkan bimbingan bisnis (founder akan mendapatkan partner untuk berkonsultasi masalah bisnis) dan juga koneksi dan relasi baru ke perusahaan atau brand yang lebih besar yang memungkinkan founder untuk mengembangkan startup lebih cepat lagi. Bagi first time founder, kedua hal ini sangat berharga melebihi uang yang didapat.

Dengan banyaknya manfaat yang didapatkan dari investasi yang diterima dari investor, mendapatkannya tentu bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, Anda harus mengetahui hal apa saja yang menjadi pertimbangan investor dalam memberikan pendanaannya untuk startup. Berikut penjelasan dari Takahiro Suzuki, GM CyberAgent Ventures Indonesia, mengenai hal-hal yang diperhatikan investor saat mencari startup untuk diberi investasi:

  1. Bagaimana layanan/produk dari startup tersebut bisa menang di pasar lokal
  2. Potensi bisnis untuk berkembang dan menguasai pasar yang besar
  3. Originalitas bisnis
  4. Strategi dan Skenario Sukses yang logis
  5. Struktur pengelolaan manajemen bisnis dan strategi
  6. Founders dan anggota dari startup

Jika Anda dapat memenuhi enam hal yang dicari investor, tentu saja investasi yang Anda butuhkan bisa didapatkan. Malah investor yang akan mencari Anda. Sama seperti beberapa kisah sukses startup lokal yang berhasil mendapatkan investasi dari investor, seperti SCOOP, Tokopedia, BerryBenka, dan juga Sribu.

Perjalanan Sribu untuk Mencari Investor Pertama (Seed Funding)

Enam bulan setelah produk Sribu launching, pada Februari 2012, Sribu berhasil mendapatkan investasi pertama dari East Ventures yang berasal dari Singapura. Investasi ini berupa seed funding, artinya pendanaan tipe awal untuk membuktikan konsep crowdsourcing Sribu berjalan di market Indonesia. Perjalanan untuk mencari investor pertama ini secara mengejutkan terasa mudah. East Ventures adalah investor pertama yang saya temui.

Dalam waktu satu bulan setelah bertemu, kami langsung klop. Tidak lama, kami diberikan term sheet, valuasi sudah disetujui, dan tanda tangan perjanjian. Meskipun sebelum seal the deal saya sempat bertemu beberapa investor lainnya, hanya East Ventures yang didirikan oleh Willson Cuaca, Batara Eto, Chandra Tjan, dan Taiga Matsuyama yang benar-benar serius tertarik dengan Sribu, terutama karena konsep, market, dan tim kami.

Meskipun terkesan mudah, banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam proses mendapatkan investasi pertama, karena mendapatkan investasi alias meyakinkan orang lain untuk menaruh uang mereka kepada kita tidaklah mudah.

Tiga puluh (30) Investor Pitching Menuju Series A Funding

Setelah Sribu berjalan satu tahun dan mendapatkan traction yang cukup bagus, saya mulai mencari investor kembali untuk mendapatkan dana guna mengembangkan Sribu ke level selanjutnya. Saya sama sekali tidak menyangka apa yang akan saya lakukan sembilan bulan ke depan ketika memutuskan untuk mencari investor kedua. It was a nightmare

Selama sembilan bulan tersebut, saya pitching ke lebih dari 30 investor, baik investor baru dan lama, lokal dan non-lokal. Setiap hari saya membawa laptop dan berkeliling bertemu dengan satu investor dan lainnya, menjelaskan pitching deck yang sama berulang-ulang hingga hafal apa yang saya harus bicarakan untuk setiap slide. Menjawab pertanyaan yang sama, hingga saya merasa memiliki cheat sheet yang telah tertanam di otak saya.

Biasanya satu investor akan bertemu kurang lebih 3-4 kali sebelum mereka memberikan jawaban untuk melakukan investasi ke sebuah perusahaan atau tidak. Ada juga yang tidak memberikan jawaban pasti alias "menggantung". Karena saya single founder, maka biasanya saya hanya bisa secara paralel berdiskusi dengan tiga investor, dan tidak lebih, karena saya tetap harus menjalankan bisnis saya juga, selain melakukan investor relation. Sudut pandang dan perspektif setiap investor berbeda, oleh karena itu data dan presentasi yang kita sajikan juga perlu berbeda. Dari sinilah saya baru sadar bahwa investor relation is a full time job.

Ironisnya, dengan melakukan pitching ke lebih dari 30 investor, saya jadi mulai membenci kegiatan tersebut. Menurut saya saat itu, pitching ke investor adalah pekerjaan repetitif yang tidak produktif. Sayangnya tanpa investor yang melakukan capital injection atau memasukkan dana baru, perusahaan akan sulit berkembang.

Bagaimana rasanya ditolak banyak investor? Tentu saja sering merasa down. Kadang saya juga meragukan produk saya sendiri. Apakah Sribu bukan produk menarik untuk investor atau kemampuan saya dalam meyakinkan mereka yang kurang? Banyak kebimbangan dan keputusasaan.

Setelah melewati banyak cobaan, tepat dua tahun setelah investasi pertama dan satu tahun ketika saya mulai mencari investor lagi, Sribu mendapatkan investasi Series A dari Infoteria pada Februari 2014.

Dari perjalanan mendapatkan pendaan kedua ini, ada empat pelajaran yang saya dapat dan ingin saya bagikan kepada Anda untuk membantu mendapatkan investasi dari investor:

1. Growth

Tanpa trend pertumbuhan yang bagus di perusahaan, akan sulit untuk mendapatkan pendanaan di ronde berikutnya untuk membawa perusahaan ke level selanjutnya. Perusahaan harus menarik untuk dilirik investor. Oleh karena itu setelah mendapatkan pendanaan, sebagai perusahaan startup harus langsung mulai menggenjot marketing mereka untuk meningkatkan traction (pertumbuhan). Setiap perusahaan startup diukur dari angka yang berbeda-beda, traffic, jumlah user, job posting, atau sales. Semakin cepat dan tinggi growth Anda, semakin sexy perusahaan Anda di mata investor.

2. Timing

Iklim perekonomian dan bisnis di setiap negara berbeda-beda. Di Amerika Serikat, di mana jumlah investor sudah lebih banyak dan negara lebih stabil, sebuah startup akan jauh lebih mudah mendapatkan investasi. Di Indonesia, jumlah investor masih sangat terbatas dan juga ekosistem startup masih sangat muda dan berkembang. Oleh karena itu timing untuk mencari investor juga ditentukan oleh apakah ekosistem tersebut sudah siap atau belum dan apakah negara tersebut sedang berkembang positif atau tidak. Tentunya apabila semuanya positif, maka akan ada banyak dana yang melimpah di market dan kemungkinan investasi lebih tinggi.

3. Kecocokan dengan investor

Mindset (cara berpikir) saya dengan Pak Willson dari East Ventures dan Pina-san dari Infoteria sama. Kami semua mulai dari nol dan pelan-pelan mengembangkan perusahaan jadi besar. Bagi kami apabila melakukan partnership, harus selalu win-win, kalau misal win bagi kami namun lose bagi pihak partner, kami memilih untuk tidak menjalankan partnership tersebut. Fokus kami adalah global. Setiap kali membuat produk harus produk yang dapat dipakai oleh orang banyak dan tidak terpaku untuk satu market saja. Oleh karena itu ketika berdiskusi dengan mereka, ada kesamaan dan kecocokan antara saya dan keduanya. Itu yang membantu untuk mewujudkan kerja sama yang lebih jauh lagi, berupa investasi dari East Ventures dan Infoteria.

4. Luck

Mungkin banyak orang yang tidak sadar, namun luck atau keberuntungan memiliki peranan yang besar. Infoteria sedang melakukan ekspansi bisnis mereka ke luar Jepang, dan saat itulah Infoteria bertemu Sribu. Saya dikenalkan kepada Pina-san melalui salah satu teman Jepang saya. Semua itu terjadi dalam kurun waktu 3 bulan dan tanpa faktor luck pertemuan pertama tidak akan terjadi.

Mendapatkan investor memang bukan hal yang mudah. Persiapkan presentasi yang matang sebelum bertemu dengan investor berlangsung. Berikan presentasi yang memukau dan jangan pernah putus asa jika presentasi Anda belum memberikan hasil positif. Good luck!

What doesn’t kill you makes you stronger” – Friedrich Nietzsche

- Artikel ini diterbitkan ulang dengan penyuntingan atas seizin Ryan Gondokusumo. Sumber aslinya berasal dari Blog Sribu.

Ryan Gondokusumo adalah Founder Sribu, platform jasa desain grafis online yang telah membantu lebih dari 2.000+ pelanggan. Ketahui Ryan lebih lanjut melalui akun Twitter @redjohn_G.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again