Categories

Feature

Inovasi, Regulasi Pemerintah, dan Dilema Pelaku Industri Digital Kreatif Indonesia

Regulasi pemerintah dan perilaku UKM yang sulit diajak untuk maju adalah sisi lain tantangan pemain industri digital kreatif Indonesia

Adjie Priambada - 1 October 2015

Industri kreatif digital  secara perlahan namun pasti kehadirannya telah menjamur di Indonesia. Berbagai inovasi pun terus dihadirkan, namun tak dipungkiri bahwa masih banyak yang masih sering terbentur dengan regulasi pemerintah. Dalam sesi kedua ajang Workshop The New Wealth Nation: Creative Industry in ASEAN Economic Communities, para pembicara yang hadir berdiskusi lebih jauh terkait dengan inovasi dalam industri kreatif dan hubungannya dengan regulasi pemerintah.

Di sebuah sesi, workshop ini menghadirkan pembicara dari sisi pemain industri kreatif di Indonesia. Mereka adalah Board Member Endeavor Dr. Raoul Oberman, CEO Blibli Kusumo Martanto, dan CEO DailySocial Rama Mamuaya.

Potensi dan keunggulan yang perlu dipertimbangkan pemain lokal

Dalam sesi pertama, disebutkan bahwa Indonesia masih mencari bentuk atau kiblat terkait dengan pengelolan infomasi dan data digital. Mau mengarah ke keterbukaan layaknya Amerika Serikat atau yang lebih tertutup layaknya Tiongkok?

Raoul mencoba melihat dari sisi lain. Raoul yakin bahwa dengan segala potensi yang dimiliki, Indonesia seharusnya dapat menciptakan opsi lain, misalnya menjadi kiblat baru. Ada tiga alasan utama yang membuat Raoul yakin bahwa Indonesia tidak akan tertinggal di tengah cepatnya laju perkembangan digital.

Pertama, tingginya penetrasi industri e-commerce dan juga besarnya sumber daya manusia yang dimiliki dapat menjadi kekuatan inti Indonesia. Kedua, sifat open society dari masyarakat Indonesia yang cenderung cepat beradaptasi, bahkan menurut Raoul lebih cepat dibanding beberapa negara besar, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi. Ketiga, Raoul yakin bahwa kreativitas yang dimiliki masyarakat Indonesia sangat tinggi.

Kusumo juga meyakini bahwa e-commerce dapat menjadi suatu media yang dapat menjangkau masyarakat Indonesia lebih luas dalam mendapatkan suatu kebutuhan. Sementara itu Rama menjelaskan bahwa entrepreneur, yang erat kaitannya dengan industri kreatif, hidup dengan atau melalui masalah. “Indonesia adalah negara yang bermasalah, jadi seharusnya entrepreneurship dapat strive di sini,” ujarnya.

Dari sisi pasar, Indonesia memang terlihat sangat menggiurkan. Pada kenyataanya, hingga kini masih belum ada satupun pemain industri digital kreatif yang keluar menjadi pemenang di Indonesia meski telah mendapat gempuran pemain asing. Ketiganya sepakat bahwa seharusnya ini dapat dijadikan peluang oleh pemain yang memahami pasar lokal lebih baik.

Kusumo mengatakan, “Buktinya [pemain lokal yang menjadi raja di rumah sendiri] sudah ada banyak. Di Tiongkok ada Alibaba, dan di India ada Flipkart.”

Isu yang kini kerap dihadapi pemain industri kreatif

Dibalik potensi pasar menggiurkan, Indonesia juga memiliki tantangannya sendiri untuk ditaklukkan. Sejauh ini, isu yang kerap naik ke permukaan dari sisi e-commerce adalah payment dan logistik. Kini ada satu lagi yang mulai merangsek naik, yaitu regulasi pemerintah.

Menurut Rama, kecepatan perkembangan inovasi, baik itu di Indonesia atau belahan bumi lain, hingga kini masih belum bisa dikejar oleh regulasi. Namun yang membuat Indonesia berbeda adalah regulasi yang dikeluarkan pemerintah cenderung menjadi rem dari perkembangan inovasi yang belum matang.

Rama mengatakan, “Regulasi tidak dapat dan tidak akan pernah dapat mengejar [kecepatan inovasi]. Karena skema pembuatan regulasi itu tidak pernah didesain untuk dapat berjalan secepat inovasi di bidang teknologi. Ini sebabnya kenapa regulasi selalu menjadi barrier.”

Sementara itu, Kusumo menuturkan bahwa yang selalu menjadi penyelamat Indonesia di masa krisis adalah UKM, tapi yang menjadi tantangannya adalah mengajak mereka untuk maju ke tahap berikutnya

Kusumo mengatakan, “Perilaku atau budaya [sedikit banyak] memiliki pengaruh terhadap kemajuan inovasi. […] Masih banyak pemain UKM Indonesia yang menganggap pengemasan produk lebih baik sebagai biaya tambahan, bukan sebagai investasi [jangka panjang].”

Dengan memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, keunggulan utama Indonesia saat ini adalah potensi pasar itu sendiri. Hingga kini masih belum ada pemain yang berhasil keluar sebagai pemenang di pasar karena formulanya memang tidak ada.

Bagi pemain lokal, mentalitas yang harus dibentuk adalah untuk terus mencoba dan mencoba, tak peduli berapa kali harus gagal. Selain itu, penting juga untuk dapat lebih memahami cita rasa lokal bila ingin menjangkau pengguna lebih luas lagi.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter