Masih Banyak PR untuk Sukseskan Adopsi Internet of Things di Tanah Air

Masih Banyak PR untuk Sukseskan Adopsi Internet of Things di Tanah Air

Menurut National Technology Officer Microsoft Indonesia Tony Seno Hartono, masih banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum tren IoT diadopsi secara penuh di Indonesia
Masih banyak PR yang harus dipersiapkan untuk memaksimalkan potensi Internet of Things / Shutterstock
Masih banyak PR yang harus dipersiapkan untuk memaksimalkan potensi Internet of Things / Shutterstock

Masih Banyak PR Yang Harus Dipersiapkan Untuk Memaksimalkan Potensi IoT / Shutterstock

Beberapa waktu lalu, saat kita membicarakan IoT (Internet of Things) khususnya di Indonesia, mungkin masih sebatas terkait dengan definisi atau konsep implementasi yang memungkinkan untuk dilakukan di lingkungan kita. Saat ini teknologi yang terus bertumbuh dan merata mau tak mau memaksa kita untuk mampu beradaptasi dengannya. Begitu juga dengan teknologi berbasis IoT yang sudah mulai ramai diproduksi dan diimplementasikan.

Dalam sebuah kesempatan berdiskusi intensif terkait IoT bersama National Technology Officer Microsoft Indonesia Tony Seno Hartono, dikatakan bahwa saat ini ekosistem IoT di Indonesia sudah mulai terbentuk, termasuk antusiasme yang mulai terus meningkat. Meskipun demikian masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan supaya adopsi IoT lebih merata.

Berikut adalah detil bahasan DailySocial dan NTO Microsoft Indonesia:

Bagaimana lanskap IoT di Indonesia yang ada saat ini jika dibandingkan ketika pertama kali IoT tersebut mulai ramai diperbincangkan?

Ekosistem IoT di Indonesia mulai terbentuk. Terlihat jelas bahwa antusiasmenya cukup besar. Selain itu juga ada peraturan-peraturan Menteri dan Gubernur yang bisa mendorong tumbuhnya IoT ini, misalnya Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI Nomor 02/PRT/M/2015 dan Peraturan Gubernur DKI Nomor 38/2012 yang mengharuskan penggunaan energi yang hemat untuk gedung-gedung tinggi.

Pemantauan penggunaan energi ini sangat mudah dilakukan menggunakan sensor-sensor berbasis IoT yang kemudian mengirimkan data-datanya ke layanan komputasi awan untuk dilakukan analisis, dan ditampilkan ke dalam bentuk dashboard pelaporan untuk pemerintah dan pemilik gedung. Artinya kalau pemerintah serius, maka Permen dan Pergub tersebut bisa direalisasikan dengan murah dan mudah dengan teknologi IoT.

Apakah tech startup di Indonesia juga akan mulai banyak memperhitungkan menggarap produk berbasis IoT?

Saat ini solusi-solusi IoT baru dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah cukup lama bergerak di bidang ini. Saya sendiri belum melihat adanya perusahaan startup teknologi yang menggarap produk berbasis IoT secara serius di dalam negeri. Penyebabnya adalah pada umumnya solusi IoT yang bernilai komersial tinggi dan membutuhkan dukungan jaringan yang kuat dan kemampuan mengolah data yang sangat besar. Perusahaan-perusahaan startup yang memiliki modal kecil mungkin tidak cukup kuat untuk terjun ke dunia ini.

Teknologi Cloud Penyeimbang Mahalnya Infrastruktur IoT / Shutterstock

 

Namun kita dapat menggunakan pendekatan yang lain. Salah satunya dengan memanfaatkan layanan komputasi awan untuk mengolah dan menganalisis data-data dari sensor-sensor IoT dengan tarif yang terjangkau. Dengan solusi ini, maka setiap perusahaan startup dengan mudah terjun memberikan solusi IoT tanpa memerlukan modal besar di awal. Solusi-solusi yang bisa dikembangkan bisa dari pengaturan mesin cuci, lift di gedung-gedung, sampai solusi smart city.

Lalu apa tantangan yang mungkin akan dihadapi ketika hendak masuk ke sektor IoT tersebut, jika melihat keadaan konsumen ataupun infrastruktur yang ada di negara kita saat ini?

Beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi ketika sebuah industri akan terjun pada produk berbasis IoT menurut saya:

  1. Pemahaman mengenai faktor keamanan dan privasi sangat rendah, padahal IoT ini memungkinkan setiap perangkat saling terhubung dan menjadi titik masuk yang rentan untuk berbagai serangan. Misalnya perangkat-perangkat yang harganya lebih murah bisa dipastikan lebih sensitif terhadap penyadapan yang melanggar aspek keamanan dan privasi.
  2. Integrasi yang sulit, dikarenakan keberagaman perangkat, platform, protokol yang berbeda-beda, dan ketiadaan standar untuk interkonektivitas.
  3. Kesulitan mengembangkan model bisnis atau solusi-solusi berbasis IoT yang menarik konsumen dan menguntungkan bagi pemain IoT.
  4. Ketersediaan infrastruktur jaringan yang berkualitas dan terjangkau yang jarang terdapat di Indonesia sangat membatasi penerapan IoT.
  5. Perangkat-perangkat IoT juga rawan dicuri di Indonesia, sehingga membutuhkan pengamanan ekstra, atau peletakan di tempat-tempat yang keamanannya tinggi.
  6. Ketersediaan catu daya yang handal juga membatasi pemanfaatan IoT, alternatifnya adalah dengan menambahkan baterai dan sel surya.
  7. Kebutuhan analisis data-data IoT yang berkapasitas besar, hal ini bisa jadi kendala besar, namun sekarang sudah ada solusi cloud yang mampu melakukan pemrosesan dan analisis data-data IoT.

Untuk mengawali terjun di bisnis berbasis IoT, adakah hal-hal yang perlu disiapkan sebagai awalan, seperti melakukan edukasi masyarakat atau yang lainnya?

Pemerintah perlu mempersiapkan peraturan atau undang-undang yang jelas tentang keamanan dan privasi, terkait dengan pemanfaatan IoT. Misalnya apakah data dari IoT ini termasuk data yang harus dilindungi dan harus berada di dalam wilayah Indonesia? Jika iya, maka pemerintah juga harus mengeluarkan aturan bahwa semua jenis data yang harus dilindungi harus diamankan menggunakan penyandian dan harus disertifikasi menggunakan SNI 27001 misalnya.

Pemerintah juga harus mendorong pentingnya standar interoperabilitas untuk mempermudah perangkat IoT saling berkomunikasi. Alternatifnya adalah penyedia solusi IoT harus bisa mendukung semua jenis perangkat, platform, protokol, dan berbagai standar. Pemerintah bisa menggalakkan lagi penerapan Peraturan Menteri dan Peraturan Gubernur yang mendorong pemanfaatan IoT. Institusi yang patuh juga harus diberikan keringanan pajak, dan yang melanggar harus dikenakan pajak tambahan. Hal ini akan sangat mendorong industri IoT.

Operator telekomunikasi juga bisa memberikan dukungan dengan membuatkan layanan-layanan khusus untuk IoT, misalnya membuatkan layanan dengan tarif murah untuk IoT, karena IoT juga hanya membutuhkan konektivitas yang relatif kecil. Dan selebihnya terkait dengan pengamanan-pengamanan fisik yang harus ditingkatkan, sehingga tidak ada lagi kasus pencurian-pencurian terhadap perangkat-perangkat IoT (ini sama dengan pengamanan terhadap pencurian kotak sampah, WiFi access point, dan sebagainya di tempat-tempat umum).

Adakah sesuatu yang ditawarkan Microsoft untuk membangun tren IoT di tanah air?

Microsoft sangat serius dengan adanya tren IoT ini. Oleh karena itu Microsoft juga membuat Windows 10, yang akan diluncurkan pada tahun 2015 ini juga, sedemikian ringkas dan nantinya bisa berjalan mulai dari perangkat IoT, sampai tablet, laptop, Xbox, smartphone, dan sebagainya. Microsoft juga memiliki portal-portal khusus untuk para pengembang IoT untuk membuat pengembangan solusi IoT menjadi sangat mudah.

Di Indonesia sendiri, Microsoft memiliki program BizSpark untuk startup, DreamSpark untuk mahasiswa, YouthSpark untuk para muda-mudi, untuk mendorong adopsi teknologi pemrograman di Indonesia. IoT hanyalah salah satu teknologi yang mungkin bisa dikembangkan lebih lanjut melalui program-program tersebut. Microsoft juga bekerja sama dengan pembuat chip, board, makers, komunitas pehobi IoT, dsb untuk mendorong adopsi IoT melalui Windows 10 atau Microsoft Azure.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Interview
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…