StartupFeature

Isu E-Commerce Indonesia Tahun 2015

Ulasan lebih mendalam mengenai tantangan dan peluang e-commerce bisa diperoleh dalam ajang Echelon Indonesia 2015

Dewasa ini pertumbuhan industri e-commerce di Indonesia semakin bergairah, bahkan diprediksi akan bernilai $25-30 miliar (Rp 320,8-385 triliun) untuk beberapa tahun ke depan berdasarkan laporan Lifting the Barrier to E-Commerce in ASEAN yang diterbitkan oleh A.T Kearney. Meski demikian, potensi tersebut bukan tanpa tantangan. Dengan jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas, juga masalah peraturan seperti perpajakan dapat menjadi batu sandungan bagi perkembangan industri e-commerce di Indonesia.

Sebenarnya sudah banyak pihak yang memprediksikan bahwa di tahun 2015 ini akan menjadi tahunnya industri e-commerce di Indonesia. Misalnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi yang menyebutkan bahwa pasar e-commerce Indonesia pada tahun 2015 ini akan mencapai $10 miliar (untuk perdagangan) dan pertumbuhannya dalam 3-4 tahun ke depan diperkirakan akan mendekati 40 persen. Selain itu Co-Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky mengatakan bahwa tahun 2015 akan menjadi tahunnya marketplace Indonesia.

Namun para pelaku industri e-commerce juga perlu ingat bahwa Indonesia adalah pasar yang unik. Banyak tantangan yang harus di hadapi untuk membuat industri e-commerce berkembang. Berikut ini adalah beberapa tantangan, baru atau hal lama yang terus menjadi isu klasik, yang harus dihadapi oleh para pelaku industri e-commerce di Indonesia saat ini.

1. Pembayaran

Meskipun saat ini masyarakat Indonesia sudah mulai nyaman bertransaksi secara online, konsumen Indonesia masih banyak yang memilih untuk melakukan pembayarannya secara offline (Cash on Delivery). Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh A.T Kearney, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk unbanked (tidak memiliki rekening bank) terbanyak, yaitu sebesar 70 hingga 80 persen. Ini tentu berdampak pada rendahnya penggunaan e-payment oleh para konsumen yang melakukan belanja online.

Kondisi ini memberikan suatu kesimpulan singkat yaitu tingkat kepercayaan konsumen di Indonesia masih dipertaruhkan, meski penipuan belanja online sudah tak semarak dulu. Inilah yang menjadi tantangan bagi banyak pelaku industri e-commerce untuk bisa melakukan langkah strategis dalam meng-edukasi pasar.

2. Efisiensi Logistik

Selain isu mengenai kepercayaan terhadap pembayaran, isu pengiriman barang juga menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan masyarakat enggan berbelanja secara online, meski salah satu perusahaan logistik menyebutkan bahwa sebagian besar pendapatannya berasal dari industri e-commerce.

Terkait dengan kondisi tersebut, selain meningkatkan infrastruktur transportasi dan juga meningkatkan kualitas layanan logistik, beberapa konsep baru mungkin dapat menjadi alternatif dalam mengatasi masalah ini. Misalnya, perusahaan e-commerce mulai merintis in-house delivery-nya sendiri, menerapkan konsep Online to Offline (O2O), atau membangun pusat distribusi di daerah.

3. Regulasi

Saat ini, di Indonesia, para pelaku industri e-commerce sebenarnya sedang dipusingkan dengan bentuk aturan baru yang akan dikenakan oleh pemerintah terhadap mereka. Skema pajak yang sudah jelas saja masih belum tersosialisasi dengan baik tetapi sudah muncul aturan baru yang bentuknya masih belum terlihat dengan jelas. Belum lagi tentang sertifikasi seluruh merchant online yang baru-baru ini digulirkan.

Selain itu, Indonesia juga sebenarnya masih belum memiliki peraturan hukum jelas yang mengatur tentang keamanan dalam bertransaksi online, terutama privacy dan consumer protection (berdasarkan laporan A.T Kearney), jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah kita untuk membuat peraturan hukum yang transparan dan adil guna meningkatkan kepercayaan konsumen tanah air.

Indonesia sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar di masa mendatang melalui industri e-commerce ini dan apa yang kami jabarkan di atas hanyalah sebagian kecil dari tantangan yang harus di hadapi. Lalu seperti apa sesungguhnya tantangan nyata industri e-commerce di Indonesia? Dapatkah Indonesia melahirkan pemain-pemain e-commerce yang diperhitungkan dunia? Sebesar apa potensi pasar Indonesia sesungguhnya?

Melalui ajang Echelon Indonesia 2015 yang akan digelar pada 14-15 April nanti, Anda akan mendapatkan insight lebih banyak soal kondisi e-commerce Indonesia saat ini. Ferry Tenka (CEO Bilna), Alexis Horowitz-Burdick (Founder Luxola), Choon Yan Tan (Startup Advocate Paypal), dan Andrew Senduk (CEO WhatsNew Indonesia) akan mengulas lebih mendalam mengenai tantangan dan peluang e-commerce di Indonesia.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again