[Manic Monday] Pengaruh Kesenjangan Digital Terhadap Layanan Digital

[Manic Monday] Pengaruh Kesenjangan Digital Terhadap Layanan Digital

20130819-183321.jpg
20130819-183321.jpg

Kesenjangan digital adalah sebuah keadaaan di mana akses terhadap koneksi internet dan semua layanan yang tersedia melalu internet tidak merata. Pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan, k0ta-kota besar di seluruh dunia mungkin semuanya sudah menikmati akses internet, tetapi masih banyak daerah di dunia yang masih belum terjangkau, terutama daerah-daerah pedesaan. Kondisi ini seperti dilema telur dan ayam, berhubung investasi untuk membangun jaringan ke pelosok itu cukup mahal, tapi potensi pengguna internet di daerah-daerah tersebut masih kecil. Ini sebabnya banyak program ‘internet masuk desa’ itu didukung oleh pemerintah ataupun program-program independen seperti yang dilakukan Google.

Negara-negara di dunia berkembang seperti Indonesia cukup beruntung, karena banyak yang nyaris tidak mengalami tahap di mana akses ke internet itu hanya dapat dilakukan melalui jaringan telepon. Ketergantungan pada jaringan telepon berkabel, seperti yang dialami di negara-negara maju di Amerika Utara dan Eropa, hanya dialami mungkin 10 tahun, sebelum masuknya akses internet nirkabel melalui jaringan telekomunikasi selular.

Namun tetap saja, penyebarang jaringan telepon selular ini masih membutuhkan infrastruktur fisik berupa tower BTS, yang harus dibangun satu per satu sesuai kebutuhan tiap-tiap daerah. Selain itu, jenis layanan yang bisa ditawarkan para pengguna jaringan telepon selular ini, secara praktis akan tergantung ke jenis handphone yang paling umum digunakan.

Perencanaan sebuah layanan berbasis digital tentunya harus memperhitungkan konsumennya seperti apa. Biasanya yang paling utama dicari dalam perencanaan adalah potensi konsumen terbesar, yang untuk layanan berbasis digital di Indonesia adalah pengguna telepon selular.

Pengguna telepon selular pun ada berbagai macam jenis, baik berdasarkan jenis handphone, sistem operasi, sampai jenis pembayaran (pascabayar versus prabayar) tetapi tentunya porsi potensi pengguna terbesar di Indonesia adalah pengguna handphone yang sudah bisa SMS dan telepon – saja. Internet belum tentu, email belum tentu, apalagi aplikasi.

Maka dari itu, berbagai layanan yang dibangun untuk pengguna telepon selular ini adalah yang bisa berbasis SMS atau telepon, seperti layanan SMS premium yang berbasis SMS, atau RBT yang berbasis panggilan telepon.

Pengguna telepon selular di Indonesia memang sudah sedemikan besar – mendekati 100% penetrasi penduduk – hanya saja, angka ini tidak mewakili seberapa lebar pemerataan penggunaan handphone ini. Angka ini juga belum menggambarkan bahwa lebih dari 75% penduduk masih menggunakan feature phone dan sejenisnya, yang perlu jadi pertimbangan dalam membuat layanan digital untuk mereka.

Dari sisanya yang merupakan pengguna smartphone, akan terdapat lagi beberapa irisan antara yang bersedia membeli aplikasi atau berlangganan layanan dengan yang tidak, preferensi layanan (senang dengan satu ekosistem iOS/Android/Windows Phone/BlackBerry atau ingin layanan cross-platform), dan sebagainya. Dan ini belum bicara soal daya beli (dan motivasi membeli), salah satu hal lain yang dipengaruhi oleh kesenjangan digital.

Kalau hanya mengikuti logika data dan logika pasar, pasti semua layanan digital itu akan berbasis SMS atau panggilan telepon; sayangnya dinamika konsumen – dan dinamika politik korporat – membuat logika ini nyaris tak berlaku. Beberapa tahun lalu kita mengalami penghentian semua layanan berbasis langganan SMS premium (termasuk RBT), dan layanan IVR yang berbasis panggilan telepon tidak pernah bertumbuh sebesar di negara-negara lain.

Habisnya era premium SMS pelan-pelan berganti ke era layanan web dan aplikasi, yang kini, karena kesenjangan digital tadi, masih hanya mengejar potensi 25% dari pengguna telepon selular (dan pengguna internet via komputer yang pertumbuhannya tidak sebesar internet selular). Karena hal ini, timbul kesenjangan digital baru – kesenjangan pengetahuan mengenai bisnis. Pemain lokal yang relatif baru masih belajar ranah online, sementara pemain dari luar negeri dengan pengalaman lebih masuk ke Indonesia.

Salah satu cara mengembangkan bisnis adalah mencari titik-titik di mana terdapat sebuah ‘kesenjangan’ ini, dan membentuknya menjadi sebuah kesempatan baru. Proyek ‘balon internet’ Google mungkin tidak akan menghasilkan uang secara langsung untuk Google, tapi dengan bertumbuhnya pengguna internet yang dicapai dengan proyek seperti ini, Google memiliki potensi audience yang makin besar, dan potensi menyediakan tempat iklan yang lebih besar juga.

Hilangnya berbagai layanan SMS premium semenjak Oktober 2011 lalu memberikan kesempatan untuk mengisi pasar kosong dengan membuat layanan yang lebih menarik, bahkan ‘menjembatani’ pengguna menuju penggunaan smartphone, yang tentunya dapat menawarkan layanan yang lebih kaya. Tapi pastinya, kita bekerja untuk mengecilkan kesenjangan, bukan untuk mempertahankannya.

Ario adalah co-founder dari Ohdio, layanan streaming musik asal Indonesia. Ario bekerja di industri musik Indonesia dari tahun 2003 sampai 2010, sebelum bekerja di industri film dan TV di Vietnam. Anda bisa follow akunnya di Twitter – @barijoe atau membaca blog-nya di http://barijoe.wordpress.com.

[sumber gambar dari Shutterstock]

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Berita
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…