Menilik Strategi Pengiklanan Tokopedia

Menilik Strategi Pengiklanan Tokopedia

Strategi pengiklanan yang diadopsi Tokopedia justru bertolak belakang dibandingkan kompetitornya
Chelsea Islan di iklan Tokopedia / Tokopedia
Chelsea Islan di iklan Tokopedia / Tokopedia

Kalau anda pernah berinteraksi dengan dunia luar, ada kemungkinan yang cukup tinggi bahwa anda pernah melihat iklan Tokopedia. Anda bisa sebutkan semua metode pengiklanan yang ada: televisi, radio, majalah, koran, dimanapun anda berada, akan sangat sulit untuk tidak terekspos dengan iklan Tokopedia yang bertajuk “Ciptakan Peluangmu”. Iklan-iklan ini biasanya ditemani tagline “Sudah cek Tokopedia belum?”, sebuah frase yang ingin dipopulerkan oleh Tokopedia.

Menarik untuk membandingkan iklan-iklan Tokopedia dengan iklan-iklan yang diusung oleh para pemain e-commerce lainnya, seperti Traveloka, Tiket, OLX, Bukalapak, Zalora, Lazada dan lain-lain. Semua pemain online tersebut, selain Tokopedia, memiliki kesamaan yaitu performance-based advertising. Hampir semua perusahaan tersebut memilih untuk mempromosikan diskon-diskon barang tertentu atau subsidi harga demi memberikan harga yang kompetitif untuk konsumen.

Tokopedia, dengan kampanye “Ciptakan Peluangmu” sepertinya justru bertolak belakang dengan para kompetitor mereka yang memastikan tiap sen uang yang dihabiskan untuk beriklan, dihabiskan dengan bijaksana dengan Return on Investment yang baik. Tokopedia sepertinya hanya ingin mengingatkan masyarakat bahwa peluang tidak bisa ditunggu, tapi harus dikejar. Harus diciptakan. Dalam hal ini, konteks yang dimaksud adalah peluang untuk berjualan online, dengan sedikit dorongan, masyarakat bisa menjadi penjual online yang produknya menjangkau seluruh pelosok Indonesia.

Termasuk dengan pemilihan Chelsea Islan sebagai duta Tokopedia yang terbilang unik. Terlihat Tokopedia berusaha menyasar tidak hanya pasar pembeli online, namun juga pembeli online yang kabarnya didominasi oleh kaum perempuan, muda dan penuh semangat.

Saya melihat strategi Tokopedia ini sebagai pendekatan yang sangat menyegarkan, dan memang bisa dibilang lebih ke arah pendekatan emosional dan bukan sekadar pendekatan performa iklan dan ROI. Namun strategi ini bukan bisa diambil tanpa resiko. Strategi emosional seperti yang dilakukan Tokopedia membutuhkan exposure yang jauh lebih masif, dan juga perhitungan ROI yang berbeda dan tidak bisa mengharapkan hasil dalam waktu yang pendek. Ketika iklan berbasis performa hanya butuh beberapa hari untuk melihat performa dari sebuah iklan, iklan emosional seperti milik Tokopedia butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk terlihat hasilnya.

Tentu saja, waktu dan kas di bank sepertinya tidak akan menjadi masalah bagi Tokopedia, setidaknya dalam waktu dekat ini. Sebuah keistimewaan yang sebenarnya juga dimiliki oleh hampir semua kompetitor Tokopedia.

Menarik untuk melihat bagaimana strategi ini akan terbayarkan bagi Tokopedia, dan akan bisa terlihat hasilnya dalam 1-2 tahun ke depan, apakah Tokopedia bisa memenangkan hati dan pikiran pengguna yang dalam beberapa tahun lagi akan mendatangkan jutaan pembeli dan penjual online. Memang, layanan seperti Tokopedia yang juga bersaing dengan BukaLapak dan OLX, biasanya tidak menjadi satu-satunya pilihan bagi penjual maupun pembeli online. Banyak penjual di luar yang memilih untuk menggunakan semua layanan tersebut sebagai storefront online mereka dan melayani pembeli dari semua layanan tersebut.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Analisis
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…