Geliat pertumbuhan bisnis startup di Indonesia mulai menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Kendati demikian, ada hal yang miris diungkapkan Reuters soal minimnya sumber daya manusia (SDM) sesuai dengan kebutuhan industri. Setiap tahun padahal ratusan universitas rutin mencetak wisudawan dan wisudawati di jurusan teknologi. Benarkah ini semata soal institusi pendidikan yang tidak bisa keep up dengan sektor industri atau apakah ada faktor lain?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, DailySocial mengumpulkan pendapat dari penggiat startup, orang yang pernah berkecimpung di institusi pendidikan, dan investor. Responsnya dan strateginya untuk mengatasi permasalahan tersebut cukup bervariasi.

Bernardus Sumartok, CEO Tripvisto, mengakui industri startup di Indonesia sangat membutuhkan sumberdaya bertalenta tinggi untuk bekerja di perusahaan. Namun, ketersediannya masih sangat minim. Padahal, lanjut dia, saat melakukan tes kerja pihaknya memberikan tugas calon kandidat tergolong dasar.

Ambil contoh, untuk kandidat Engineer, mereka diharuskan menunjukkan keahliannya dalam database design yang penting untuk membangun platform dengan skala dan arsitektur yang bagus.

Sumartok melanjutkan, kandidat yang berkualitas dan bisa langsung bergabung sangat sedikit sekali dibandingkan jumlah lulusan fresh graduate jurusan teknologi di Indonesia.

Menurutnya, hal ini disebabkan mayoritas lulusan pada akhirnya memilih bekerja di startup yang lebih well funded dan well established.

“Alasan itu semua bisa dimengerti, akan tetapi selagi masih muda sebaiknya banyak belajar di startup yang baru berdiri sebab banyak hal yang bisa dipelajari di sana,” ujarnya.

Pernyataan Sumartok didukung oleh Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures. Menurutnya, terjadi mismatch antara supply dan demand. Lebih banyak demand daripada supply. Mahasiswa lulusan teknologi informasi (TI) sangat banyak. Namun, mencari yang pintar, berdedikasi tinggi, dan jujur tidak banyak.

Dia berpendapat solusinya tergantung dari mahasiswa itu sendiri, sebab mereka sendirilah yang mengerti bagaimana posisinya di kampus dan di industri.

Willson mengatakan, “Mahasiswa perlu agresif mencari cara bagaimana mendapatkan capacity building yang mumpuni sebelum lulus kuliah, biasanya dengan belajar dari luar kampus. Namun mahasiswa yang cenderung pasrah hanya menerima ilmu dari kampus saja, biasanya di tempat kerja juga kurang bagus prestasinya.”

Masalah multidimensi

Romi Satria Wahono, CEO PT Brainmatics Cipta Informatika, mengakui fakta SDM bertalenta tinggi masih sulit ditemui di Indonesia. Menurutnya, kurangnya SDM untuk memenuhi kebutuhan industri termasuk ke dalam masalah multidimensi.

Pertama, universitas yang sering terlambat merespon untuk melakukan pembaruan dari segi kurikulum hingga kualitas pendidik. Kedua, dosen sebagai aktor utama pendidikan dan pembimbing mahasiswa tidak memiliki kreativitas untuk memperbaiki materi ajar dan mengupdate buku teks yang digunakan.

Terakhir, mahasiswa Indonesia yang cenderung pasif, tidak kreatif, dan tidak kritis hanya mendengar dan menaati apa yang dikatakan dosen.

“Padahal sudah fatsun dalam pendidikan jangan pernah menjadikan dosen sebagai sumber utama referensi,” ujarnya.

Oleh karena itu, sambungnya, seorang pendidik diharapkan melakukan updating materi ajar dengan standar internasional, kemudian memberi kesempatan magang kepada mahasiswanya mengerjakan proyek riil di industri. Hal ini untuk melatih kemampuannya dan mempraktikkan secara langsung apa yang disampaikan di dalam kelas.

“Mahasiwa juga perlu banyak bergaul, bergerak, kreatif, dan berani mencoba berbagai hal. Selain itu, jadikan technopreneur sebagai satu-satunya karier hidup,” terang Romi.

Karena ini adalah masalah multidimensi, maka industri harus lebih sabar berhubungan dengan lingkungan akademik. Lingkungan akademik pun harus bisa lebih cepat merespons kebutuhan industri. Dua sinergi antar kedua belah pihak itu dibutuhkan meski keduanya mengejar key performance indicator (KPI) yang berbeda.

Akademisi mengejar kontribusi pengetahuan baru dalam bentuk publikasi karya ilmiah, sementara industri mengejar kontribusi untuk masyarakat berbentuk produk yang bermanfaat.

Menciptakan solusi

Ketimbang menyalahkan universitas, dosen, atau mahasiswa, Gibran Huzaifah, CEO eFishery, punya solusi sendiri menghadapi minimnya sumberdaya dengan mencari referensi talenta baru dari tim yang sudah direkrut. Menurutnya, jalur tersebut lebih berpotensi mendapatkan talenta yang sesuai keinginan sebab berada dalam ruang lingkup yang sama.

“Kemudian, kami menjual value dan visi dari perusahaan kepada calon pekerja, enggak hanya menjual dari segi business as usual,” terangnya.

Adrian Li, Managing Partner Convergence Ventures, menambahkan untuk mengatasi ketimpangan ada baiknya mempertimbangkan untuk memperkerjakan talenta yang pernah bekerja di startup luar negeri. Secara jangka pendek solusi tersebut cukup membantu perusahaan untuk mengisi kekosongan talenta. Pasalnya, kebanyakan dari mereka sudah multitalenta.

Sementara itu, untuk jangka panjang, perusahaan startup perlu melakukan investasi ke kampus demi menciptakan talenta yang sesuai kebutuhan industri sekaligus mempersingkat gap antara supply dan demand.

Di sisi lain, menurut Romi, untuk menciptakan solusi di lingkungan akademis pihaknya mendorong agar dosen dapat lebih fokus pada metode pembelajaran yang lebih fundamental dan belajar cepat tanpa banyak teori. Caranya bisa dengan mengadakan seminar dengan narasumber yang sesuai.

Romi melanjutkan, kampus harus didorong untuk merangkul perusahaan startup dalam internship dengan program yang terstruktur dan banyak melibatkan mahasiswa ke dalam real life project demi mengasah problem solving skill, bukan sekedar mengerjakan pekerjaan administrasi yang dianggap low value.


Yenny Yusra dan Amir Karimuddin berkontribusi dalam pembuatan artikel ini.