Categories

Interview

Cerita Startup: Nusantics dalam Usaha Memanjukan Penelitian Mikrobioma demi Menopang Struktur Kehidupan

Nusantics adalah startup teknologi genom pertama dan satu-satunya di Indonesia. Perusahaan juga telah mengembangkan dua generasi alat uji COVID-19, segera menyusul generasi yang ketiga.

KrAsia - 15 January 2021

Sharlini Eriza Putri, Vincent Kurniawan, dan Revata Utama adalah tiga anak muda dari berbagai latar belakang yang memiliki rasa ingin tahu sangat besar: Putri merupakan ahli kimia, Kurniawan ahli di bidang teknik industri, dan Utama merupakan lulusan ilmu biomedis dengan pengalaman di bidang teknologi genomik. Ketiganya memiliki kepedulian yang sama: Masalah kesehatan yang disebabkan oleh degradasi lingkungan yang semakin hari semakin parah dan membahayakan masyarakat.

Para sahabat ini ingin mengetahui lebih lanjut tentang alasan di balik masalah tersebut, yang membuat mereka mempelajari dunia mikrobioma, ekosistem mikroorganisme yang kompleks termasuk bakteri, jamur, dan virus yang hidup di dalam dan di dalam setiap makhluk hidup di Bumi, termasuk tubuh manusia. Setiap orang memiliki profil mikrobioma yang unik. Hal ini memainkan peran penting dalam pengembangan sistem kekebalan.

Para ilmuwan percaya bahwa kombinasi mikrobioma yang sehat dari semua elemen di planet ini — lautan, tanah, manusia, hewan, dan tumbuhan — menopang struktur kehidupan. Oleh karena itu, memahami pentingnya keseimbangan mikrobioma dapat mengarah pada cara hidup yang lebih berkelanjutan bagi manusia dan lingkungan. Atas dasar pemikiran tersebut, grup ini mendirikan Nusantics pada tahun 2019, startup teknologi genom pertama dan satu-satunya di Indonesia.

(ki-ka): Vincent Kurniawan sebagai COO, Sharlini Eriza Putri sebagai CEO, dan Revata Utama selaku CTO Nusantics / Nusantics.

“Genom adalah 'cetak biru' dari organisme. Kita tahu bahwa tubuh manusia terdiri dari sel-sel yang membangun organ dan kemudian sistem organ, yang akhirnya menjadi satu manusia. Yang tidak diketahui banyak orang adalah bahwa 52% tubuh manusia terdiri dari mikrobioma, dan tanpa mikrobioma, kita tidak akan menjadi manusia yang berfungsi sepenuhnya,” kata CTO Nusantics Revata Utama kepada KrASIA.

"Kami menggunakan teknologi genom untuk mempelajari interaksi dan hubungan antara keanekaragaman mikrobioma dan manusia."

Startup ini pertama kali memperkenalkan teknologinya ke industri kecantikan. Di labnya, Nusantics Hub, startup tersebut melakukan tes usap wajah bagi konsumen untuk menilai dan menilai keragaman mikrobioma kulit. Mereka juga menyediakan layanan konsultasi untuk perawatan keseimbangan mikrobioma kulit. Menurut Nusantics, mikrobioma yang beragam dan seimbang sangat penting untuk kulit yang sehat, jadi memahami keseimbangan mikrobioma dapat menghasilkan pilihan yang tepat tentang produk perawatan kulit yang sesuai dengan kondisi fisik alami seseorang.

“Kami memilih industri kecantikan karena itu merupakan sektor yang sangat menguntungkan dan tidak memiliki regulasi yang rumit. Penerapan teknologi skin microbiome juga relevan dengan kehidupan konsumen sehari-hari,” ungkap CEO Nusantics Sharlini Eriza Putri.

Langkah selanjutnya startup ini adalah berkolaborasi dengan berbagai pemain di industri, seperti perusahaan perawatan kulit dan kosmetik, untuk mengembangkan produk ramah mikrobioma.

Bisnis inti Nusantics terletak pada kapabilitas R&D. Selain membudidayakan produk dan layanan kecantikan, Nusantics berencana bekerja sama dengan pemangku kepentingan di bidang kesehatan dan pendidikan untuk memproduksi test kit untuk menganalisis dan memantau profil mikrobioma.

Terlibat dalam produksi alat tes COVID-19

Saat virus Corona mulai menyebar di Indonesia, sangat sulit untuk melakukan tes karena minimnya alat. Karena CTO Nusantics memiliki pengalaman dalam metode polymerase chain reaction (PCR), startup tersebut memutuskan untuk mendekati Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Indonesia (BPPT) dan dengan sukarela membuat prototipe test kit COVID-19. Kemudian, mereka bergabung dengan satuan tugas virus korona nasional BPPT bidang penelitian dan inovasi teknologi (TFRIC-19).

“Sebelum Nusantics, saya bekerja di sebuah perusahaan yang berfokus pada diagnostik molekuler, di mana saya terlibat dalam penelitian dan pengembangan teknologi chip-in-a-tube, PCR digital, serta mikrobioma. Dasar dari teknologi genom adalah PCR,” ujar CTO Nusantics Revata Utama.

Pemetaan genom sangat penting karena virus terus bermutasi untuk beradaptasi dengan inang dan lingkungannya, dan sekuensing seluruh genom sangat penting untuk penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19 di Indonesia.

Pandemi telah memberi startup ini tujuan baru. Nusantics telah mengembangkan dua generasi alat uji COVID-19. Jenis pertama didistribusikan ke 19 provinsi di seluruh Indonesia sebagai bagian dari gerakan Indonesia Pasti Bisa, program yang diprakarsai oleh perusahaan modal ventura tahap awal East Ventures bekerja sama dengan BPPT dan perusahaan farmasi milik negara Bio Farma untuk mendukung produksi 100.000 COVID -19 alat uji. Proyek ini mendistribusikan 100.020 alat uji RT-PCR Juni lalu.

“Karena generasi pertama diciptakan pada awal pandemi, tujuan utama kami adalah menyediakan alat tes dengan cepat. Kami membuatnya dengan desain singleplex, sedangkan generasi kedua dibuat dengan desain multipleks yang membuat proses diagnostiknya tiga kali lebih cepat dan relevan dengan mutasi terkini,” kata Utama.

Bio Farma telah memproduksi dan mengkomersialkan kedua generasi test kit tersebut, dengan kapasitas produksi 1,5 juta test kit per bulan. Jika diperlukan, hasilnya bisa digandakan.

Tanpa kepastian akan akhir dari pandemi, Nusantics terus mengembangkan alat tes generasi ketiga yang dapat mendeteksi virus SARS-CoV-2 dari sampel air liur.

“Kami masih dalam proses meneliti apakah sampel air liur bisa digunakan sebagai pengganti swab. Pengalaman menjalani tes usap bisa jadi tidak nyaman, bahkan menyakitkan bagi sebagian orang. Hidung pasien mungkin gatal setelahnya dan mereka akan bersin, yang membuat petugas kesehatan yang melakukan tes berisiko terkena virus. Karena itu mereka perlu memakai alat pelindung diri, ”kata Utama.

“Mengambil sampel dari air liur tentu lebih mudah, tidak melukai pasien dan lebih aman bagi praktisi medis. Secara teori, tes ini juga lebih murah karena membutuhkan lebih sedikit tenaga medis, ”kata Utama. Pengembangan test kit generasi ketiga ini direncanakan akan selesai pada akhir Maret.

Nusantics baru-baru ini mengumumkan pendanaan Seri A dengan jumlah yang tidak diungkapkan yang dipimpin oleh East Ventures. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan kemampuan R&D dengan analisis mikrobioma dan diagnostik medis. Penasihat usaha East Ventures Triawan Munaf juga akan bergabung dengan dewan komisaris Nusantics.

“Riset terkait mikrobioma bermanfaat bagi konsumen, mitra industri, serta pemerintah. Visi jangka panjang kami adalah menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia dengan melakukan penelitian dan diagnosis terkait mikrobioma. Dengan begitu, kita bisa mencegah kerusakan lingkungan di masa mendatang,” kata Putri.

-Artikel ini pertama kali dirilis oleh KrASIA. Kembali dirilis dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari kerja sama dengan DailySocial

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter