Categories

Interview

Payment Gateway Asal Singapura Xfers Siap Ramaikan Pasar Fintech Indonesia

Indonesia dinilai sebagai pasar yang menarik karena masih didominasinya penggunaan bank transfer dalam transaksi e-commerce

Marsya Nabila - 23 September 2016

Bisnis e-commerce memiliki berbagai unsur pendukung yang menopang kemajuannya, mulai dari logistik hingga alat pembayarannya. Bisa dikatakan e-commerce menjadi salah satu pemicu banyak bermunculannya pemain bisnis baru. Terlebih solusi pembayaran online adalah ranah yang menarik untuk digali potensinya di tanah air. Tak terkecuali bagi Xfers, perusahaan payment gateway asal Singapura yang bisa digunakan untuk siapapun yang memiliki tabungan di bank untuk menerima pembayaran.

Perlu diketahui, rencana Xfers memasuki Indonesia sudah direncanakan pada awal tahun ini. Pasca perolehan pendanaan awal (seed funding) yang didapat Xfers sebesar $2,5 juta. Adapun investornya dipimpin oleh Eduardo Saverin (Co-Founder Facebook). Golden Gate Ventures, 500 Startups, GMP Venture Partners, Partech Ventures, BWB Ventures dan Convergence Ventures merupakan investor yang turut berpartisipasi dalam putaran pendanaan awal ini.

Co-Founder Xfers Samson Leo menjelaskan payment gateway bisa menunggangi perkembangan tren e-commerce, sebab setiap e-commerce memerlukan sistem online payment. Di Indonesia menurut Leo pembayaran dengan cara bank transfer masih menjadi pilihan utama konsumen Indonesia yang berbelanja online. Ini membuat penjual harus memeriksa mutasi rekening bank secara manual dengan berkala.

Dengan aplikasi ini, merchant atau penjual individu bisa mengumpulkan pembayaran online dari siapapun lewat sebuah link. Bahkan bila ada pembayaran yang masuk merchant akan mendapat notifikasi. Fitur ini dinamakan Payment Link.

Ada dua sasaran konsumen yang dibidik oleh Xfers. Pertama, merchant yang menggantungkan diri ke bank sebagai sarana pembayarannya, termasuk perusahaan remitansi dan crowdfunding. Kedua, merchant ritel online yang bisnisnya masih berkonsep peer-to-peer (P2P), sekitar 80% dari mereka menggunakan transaksi lewat media sosial.

Ia melanjutkan, Indonesia memiliki tantangan resiko fraud yang tinggi. Banyak pembeli yang sudah memesan barang secara online dan sudah membayar, namun bisa saja tidak mendapatkan barang sesuai dengan apa yang ia pesan. Misalnya barang tersebut adalah imitasi atau palsu.

"Kami sadar bahwa kami bukan satu-satunya yang menawarkan solusi untuk online payments. Sudah banyak perusahaan yang berusaha untuk menguasai ranah online payments dan masing-masing perusahaan punya fokusnya sendiri. Kendati demikian, kami ingin membantu mengubah ekosistem payment gateway di Indonesia menjadi lebih baik," ujarnya kepada DailySocial.

Ingin buat pertumbuhan bisnis Indonesia lebih tinggi dari Singapura

Leo melanjutkan, perkembangan bisnis Xfers di Singapura sudah mencapai peningkatan yang eksponensial. Pada awalnya, Xfers baru dapat memproses $80 ribu Dolar Singapura di Mei 2015, kini sudah mencapai $4,5 juta Dolar Singapura pada April 2016. Artinya, pihaknya sudah melihat kenaikan transaksi per bulan sebesar 50x lipat semenjak Mei 2015.

"Kami ingin mencapai growth level yang sama di Indonesia, terutama karena populasi Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa dibandingkan dengan Singapura hanya 5,5 juta."

Untuk itu, pihaknya kini gencar menggaet penjual online, perusahaan fintech, event organizers dari korporasi, kampus dan freelancers. Strateginya dengan bekerja sama dengan rekanan lokal untuk mengeksplorasi cara-cara untuk membuat standar pelayanan di Jakarta dapat sebaik di Singapura. Saat ini, Xfers sudah bekerja sama dengan Bank Mandiri, BCA dan BNI.

Menurut Leo, dia juga menyadari pentingnya lokalisasi. Budaya orang Indonesia berbeda dari daerah ke daerah. Maka dari itu, hal ini akan sangat mempengaruhi cara perusahaan untuk menarik konsumen, tidaklah sama. Setelah Indonesia, lanjut Leo, ada beberapa negara lainnya di Asia Tenggara yang bakal disinggahi Xfers.

"Kami masih fokus di Indonesia karena masyarakat Indonesia sudah mulai mendukung e-commerce dan meninggalkan uang tunai sebagai metode pembayarannya. Tidak menutup kemungkinan kalau kami juga akan explore negara lain di ASEAN yang juga masih banyak menggunakan bank transfer sebagai metode pembayarannya," pungkasnya.

Beberapa pemain payment gateway di Indonesia sudah lebih dahulu terjun ke bisnis ini, ada dua pemain besar yang sudah cukup terkenal gaungnya seperti Veritrans dan Doku. Selain itu ada ESPAY, Fasapay, iPaymu, dan NICEpay.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter