Categories

Interview

Pendekatan NICEPay untuk Pasar UKM di Indonesia

Fokus untuk merangkul UKM besar terlebih dahulu yang memiliki masalah pembayaran dengan menawarkan fitur Transfer Payment

Adjie Priambada - 17 June 2016

NICEPay, layanan payment gateway asal Korea yang melenggang April silam, adalah salah satu pemain baru yang meramaikan industri fintech di Indonesia. Target pasar yang coba dibidik selain pemain e-commerce besar yakni para pelaku UKM yang kebanyakan masih berjualan melalui media sosial. Kami sempat berbincang dengan CEO NICEPay Indonesia Dina Kim untuk mengetahui lebih jauh pendekatan seperti apa yang dilancarkan NICEPay dalam merangkul para pelaku UKM di Indonesia.

NICEPay adalah layanan payment gateway asal Korea Selatan yang masuk ke Indonesia melalui joint venture antara PT IONPay Networks dengan NICE Group yang memayungi layanan NICEPay. PT IONPay Networks sendiri sebelumnya memiliki produk payment gateway dengan nama IONPay.

Masuknya NICEPay ke Indonesia tidak lepas dari alasan klasik seperti potensi pasar yang besar. eMarketer memperkirakan di tahun 2017 akan ada lebih dari 100 pengguna internet di Indonesia dan kondisi ini dianggap mendukung pertumbuhan startup dan UKM oleh NICEPay. NICEPay bahkan optimis bisa menjadi pemain payment gateway nomor satu di Indonesia.

Pun begitu, pihak NICEPay juga tidak memungkiri bahwa kondisi Indonesia saat ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan Korea Selatan, khususnya dari sisi industri e-commerce. Dina menyampaikan, akan butuh waktu cukup lama bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut, apalagi mengingat penetrasi kartu kredit di Indonesia yang tidak kunjung membaik.

Belum lagi para pelaku UKM di Indonesia yang masih banyak menggunakan media sosial sebagai media berjualan dibandingan platform e-commerce yang sudah ada atau membuat platform e-commerce sendiri. Menurut pendapat pribadi Dina, perbandingan pelaku UKM yang berjualan melalui media sosial dengan yang memanfaatkan  platform e-commerce di Indonesia saat ini adalah 70 persen (media sosial) berbanding 30 persen (platform e-commerce).

Dina mengatakan, “Maka dari itu untuk tahun ini kami fokus pada merchant yang masih bermasalah dengan sistem pembayarannya. Masih banyak kan yang menggunakan rekening biasa dan terkendala dengan konfirmasi pembayaran. Jadi, kami coba provide dengan solusi [layanan] Tranfer Payment kami.”

Fokus kedua yang diungkapkan Dina adalah mengajak para pelaku UKM yang berjualan melalui media sosial untuk pindah menggunakan shopping cart (pemain e-commerce) rekanan NICEPay. Dina menyebutkan bahwa pihaknya akan mendekati para pelaku UKM tersebut satu persatu, baik itu dengan telemarketing atau bukan, dan memberikan edukasi mengenai kemudahan menggunakan platform e-commerce.

Sebagai informasi, saat ini menurut Dina sudah ada 4000 merchant yang menggunakan layanan NICEPay. Jumlah tersebut sudah termasuk dengan para pemain e-commerce besar seperti elevenia, Bhinneka, Shopee, Tiket, dan juga para pelaku UKM.

“Setiap ada platform e-commerce baru dibuka, mereka pasti butuh solusi pembayaran [payment gateway]. Jadi, kalau e-commerce berkembang artinya [sektor] payment gateway juga harus ikut berkembang. Tanpa solusi pembayaran, e-commerce akan sulit berkembang, begitu juga sebaliknya. Jadi, kita [pemain e-commerce dan solusi pembayaran] harus bisa sama-sama jalan,” tandas Dina.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter