Meskipun banyak layanan messaging global, seperti BlackBerry Messenger, WhatsApp, atau Line, yang menikmati kepopuleran di Indonesia, bisa dibilang tidak ada platform messaging lokal yang menikmati kesuksesan serupa. Stealth Messenger hadir berupaya menawarkan kenyamanan berkirim pesan yang didukung oleh teknologi keamanan yang tinggi. Beberapa fiturnya mengingatkan kita akan Telegram.

Dibangun oleh Rockliffe Systems yang telah berpengalaman berkecimpung di dunia teknologi email dan messaging, Stealth memberikan pengalaman private secure messenger yang bakal menyulitkan siapapun untuk mengakses percakapan tanpa izin. Stealth dilengkapi dengan fungsi password dan tidak menyimpan pembicaraan di server manapun karena data dienkripsi dan disimpan di perangkat. Menurut situsnya, Stealth mengenkripsi dengan teknologi enkripsi AES/EAX dan menggunakan fungsi derivatif password PBKDF.

Jika kita berusaha membukanya tanpa “kunci” yang tepat, yang terlihat hanyalah deretan kata-kata tak bermakna. Stealth juga memudahkan kita untuk “menghapus” suatu percakapan setelah durasi tertentu menggunakan fitur “burnt”. Saat ini aplikasi tersebut telah tersedia untuk platform Android dan menyusul berikutnya untuk platform iOS.

CEO Rockliffe Systems Indonesia Igusti Manik Sugiyani dalam perbincangannya dengan DailySocial menginginkan Stealth bisa dinikmati masyarakat luas sebagai sumbangsih Indonesia bagi perkembangan teknologi komunikasi. Jika Jepang punya Line, Korea Selatan berbangga dengan Kakao Talk, dan Tiongkok mendukung penggunaan WeChat, siapa tahu Stealth bisa jadi kebanggaan Indonesia. Stealth dibangun oleh tim pengembang yang berbasis di Amerika Serikat dan Indonesia.

Tentu saja Stealth tidak dihadirkan untuk menggantikan platform komunikasi populer tersebut. Stealth cukup digunakan saat penggunanya butuh berkomunikasi secara aman. Manik berharap fitur-fitur keamanan ini bisa menarik perhatian konsumen untuk menggunakannya, terutama jika membicarakan tentang data sensitif.

Meskipun perbandingannya tidak apple-to-apple, Stealth bisa diibaratkan seperti Telegram, yang makin populer sebagai platform messaging alternatif, tapi dengan fitur keamanan paripurna. Baik Telegram maupun Stealth fokus di urusan keamanan dan mampu menghapus suatu berkas yang dibagikan setelah durasi tertentu. Stealth menawarkan fitur keamanan yang lebih luas ketimbang Telegram. Target pasar utama Stealth sendiri adalah kaum profesional secara perorangan, bukan terkait suatu sistem korporasi.

Secara teknologi, menurut saya Stealth cukup mumpuni untuk membantu seorang pengguna menyimpan berbagai data, baik percakapan maupun berkas, secara aman dan bebas gangguan privasi. Yang jadi permasalahan memang apakah orang Indonesia menyukai dan memerlukan fitur seperti ini, apalagi kecenderungannya orang Indonesia kurang peduli dengan privasi. Test case secara langsung bakal menentukan penerimaan Stealth di masyarakat, apakah memang Stealth menawarkan sesuatu yang benar-benar dicari oleh konsumen Indonesia.

[Ilustrasi foto: Shutterstock]

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.