Interview

Strategi GrabTaxi Untuk Kuasai Pasar Indonesia

Beberapa waktu lalu GrabTaxi telah resmi hadir di Indonesia. Sebenarnya, apa yang membuat layanan yang telah beroperasi di lima negara ini tergiur masuk ke Indonesia, dan yang ditawarkan layanan ini untuk bisa meraih sukses di negara ini?

GrabTaxi sendiri intinya adalah layanan pemesanan taksi melalui aplikasi yang telah tersedia di empat sistem operasi mobile yaitu Android, iOS, Windows Phone, dan BlackBerry. Orang-orang bisa memesan taksi langsung kepada supir taksi yang berada di sekitar lokasi pengguna.

Indonesia sendiri merupakan negara ke-enam setelah sebelumnya diluncurkan di Malaysia,Filipina, Vietnam, Thailand, dan Singapura. Di lima negara ini, sejak diluncurkan pada 2012 hingga saat ini GrabTaxi telah berhasil merangkul puluhan ribu supir taksi.

Menurut Cheryl Goh, Regional Marketing Head GrabTaxi, layanan ini bisa menawarkan solusi terkait permasalahan seputar taksi di Jakarta. Jakarta memang kota dengan tingkat mobilitas yang tinggi, termasuk adanya armada taksi yang banyak. Meski banyaknya armada dan perusahaan taksi yang beredar, namun tetap saja masyarakat kesulitan untuk mendapatkan taksi. “GrabTaxi Hadir untuk menawarkan solusi terhadap pengguna dengan bekerja sama dengan supir taxi, untuk mendapatkan penumpang yang membutuhkan jasanya secara cepat dan berada tidak jauh darinya.”

Menurut Cheryl Goh, fokus layanannya memang di setiap kota di Asia Tenggara dan Jakarta sebenarnya telah menjadi perhatiannya sejak dulu.

“Fokus kami selalu berada di setiap kota besar di Asia Tenggara. Peluncuran di Jakarta selalu menjadi bagian dari rencana. Kami telah memutuskan sekarang adalah waktunya, karena kombinasi dari faktor-faktor seperti kondisi pasar, kemampuan bekerja dengan mitra lokal yang tepat dan memahami pasar lokal sudah cukup baik, untuk bisa menghadirkan solusi yang meningkatkan pengalaman pemesanan taksi untuk penumpang dan meningkatkan kehidupan pengemudi,” ujarnya.

Berhubung baru diluncurkan, memang masih terlalu dini untuk mengukur bagaimana sambutan yang diterima dari pengguna. Tetapi dari sisi pengemudi taksi yang berpartisipasi, Cheryl mengatakan animonya cukup bagus.

“Di setiap kota tempat kami broperasi, kami selalu berupaya untuk membangun kerja sama yang baik dengan para pemilik dan pengemudi taksi, menawarkan cara untuk memperkuat dan membantu operasi mereka untuk lebih efisien, dengan sistem pengelolaan yang kami punya. Hingga saat ini respons mereka sangat bagus dan karenanya kami berharap bisa terus memperluas kerja sama dengan pihak-pihak lain di masa depan,” jelasnya.

Dia menambahkan, kondisi yang ada saat ini juga menjanjikan peluang di celah pasar lain, terutama di segmen pasar premium.

Terakhir, GrabTaxi juga terlihat optimis bisa meraup sukses di Indonesia, kendati saat ini persaingannya cukup ketat, mengingat selain mereka, sudah ada juga layanan EasyTaxi dan ride sharing Uber.

“Ada tiga hal yang membuat kami bisa menjadi pemimpin pasar di negara-negara tempat kami beroperasi selama ini. Pertama, kami fokus pada peningkatan kesejahteraan pengemudi dan kepuasan pelanggan. Kedua, kami menawarkan solusi yang memang cocok dengan permasalahan yang dihadapi masing-masing negara. Misalnya saja, di kawasan Asia Tenggara penggunaan uang tunai adalah media yang paling umum, jadi aplikasi kami tidak mensyaratkan pengguna untuk harus punya kartu kredit. Terakhir, di masing-masing negara kami menggunakan pendekatan yang sangat lokal. Sebab, setiap pasar lokal adalah unik sehingga kita juga harus punya strategi-strategi yang unik dan sesuai dengan masing-masing kondisi.”

[Ilustrasi foto: Shutterstok]

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter