Categories

Interview

Strategi Perluasan Mitra untuk Penetrasi Pengguna ala PayPro

Mengoptimalkan QR Code; Mulai menggandeng pengemudi bajaj hingga rencana ke depan mengakomodasi penjual makanan kecil

Randi Eka - 7 November 2017

PayPro adalah pengusung layanan dompet virtual yang menggunakan nomor ponsel sebagai sebuah identitas transaksi, layaknya nomor rekening. Strategi sistem ini dinilai efektif, mengingat visi PayPro memfasilitasi kebutuhan finansial non tunai untuk masyarakat yang belum memiliki akun perbankan (unbanked). Selain menghadirkan layanan mendasar, PayPro mencoba memperluas fungsionalitas sistem yang dimiliki dengan menjalin kemitraan khusus dengan penyedia jasa angkutan bajaj di Jakarta.

Chief Marketing Officer PayPro Heidi Bokau menjelaskan kepada DailySocial sekurangnya ada sekitar 800 bajaj yang telah dan akan menerapkan fitur ini. Setiap armada bajaj akan dilengkapi dengan QR Code sehingga memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran secara non tunai menggunakan aplikasi PayPro. Pendekatan ini dilandasi kebutuhan masyarakat saat ini. Layanan on-demand yang sudah ada terbukti memberikan banyak efektivitas dan transparansi dalam pembayaran dan penggunaan jasa angkutan umum.

Tetap bermitra strategis dengan Indosat Ooredoo

Menjelang akhir kuartal pertama tahun 2017 lalu, Indosat Ooredoo mulai mengumumkan rebranding layanan Dompetku menjadi PayPro. Di waktu yang sama, pihaknya mengumumkan PayPro akan berbadan hukum terpisah dengan Indosat, bahkan tidak memiliki afiliasi sama sekali dari sisi legal. Strategi peleburan Dompetku ke PayPro adalah hasil kerja sama strategis antara perusahaan dengan PT Solusi Pasti Indonesia (SPI) sebagai pengembang platform over the top (OTT).

Kendati demikian, Heidi menerangkan secara singkat bahwa PayPro masih bermitra strategis dalam urusan bisnis bersama Indosat.

“Sampai dengan saat ini Indosat adalah mitra strategis PayPro dan agenda PayPro adalah untuk terus mendukung Gerakan Nasional Non Tunai yang dicanangkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2014,” ujar Heidi.

Alasan lain yang juga masuk akal, PT SPI belum memiliki lisensi e-money dari Bank Indonesia untuk mengoperasikan layanan pembayaran digital. Lisensi PayPro disebutkan masih dimiliki Indosat. Indosat sendiri sudah mendapat lisensi dari BI sejak tahun 2009.

Optimasi QR Code untuk perluasan layanan

Memiliki berbagai fitur transaksi layanan sistem yang dimiliki perbankan, PayPro menilai bahwa debutnya di masyarakat akan diterima. Terlebih dengan berbagai kemudahan, termasuk kemampuan untuk pengisian saldo dan tarik tunai melalui seluruh cabang Alfamart dan Indomaret di Indonesia, layaknya representasi sistem ATM perbankan.

Fitur lain yang coba dioptimalkan adalah model pembayaran dengan QR Code yang dimiliki PayPro. Melalui layanan ini, PayPro ingin coba memfasilitasi transaksi yang sehari-hari dibutuhkan masyarakat, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pokok.

“Ke depannya PayPro ingin menjadi yang terdepan dalam hal pembayaran non tunai. Bayangkan apabila kita membeli sayur atau makan siomay dan melakukan pembayaran cukup dengan melakukan scan QR Code sehingga tidak memerlukan uang tunai,” terang Heidi.

Application Information Will Show Up Here

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter