WeCare ingin bisa bantu mendanai hingga 500 pasien

Tahun Depan WeCare Ingin Bisa Bantu Mendanai Hingga 500 Pasien

Ada tiga cara untuk berpartisipasi melalui WeCare, yakni menjadi Donor, Medikator, dan Katalis
WeCare membantu mendanai pasien tak mampu untuk mendapat akses kesehatan yang layak / Shutterstock
WeCare membantu mendanai pasien tak mampu untuk mendapat akses kesehatan yang layak / Shutterstock

Sebulan yang lalu kami sempat membahas sebuah layanan yang memfasilitasi  penyaluran bantuan kesehatan melalui kampanye crowdfunding bernama WeCare. Meski usianya masih muda, WeCare punya target untuk dapat mendanai tak kurang sampai 500 pasien di tahun depan. Saat ini layanan WeCare sendiri terdaftar sebagai lembaga nirlaba di bawah Yayasan Pelita Cakrawala Inspirasi yang juga dikenal dengan nama CharityLights.

Adalah mimpi besar Indonesia untuk menciptakan kesehataan yang merata bagi penduduknya dan WeCare bisa dikatakan sebagai layanan yang hadir untuk bantu mewujudkan utopia itu. Melalui kampanye crowdfunding, WeCare coba menjangkau pasien-pasien di daerah terpencil agar bisa mendapatkan akses kesehatan yang layak. Pun demikian, usia layanan ini masih sangat muda. Tak lebih dari tiga bulan.

Sebenarnya upaya crowdfunding untuk menggalang dana dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai bukanlah barang baru di Indonesia. Di ranah global, ada layanan kickstarter yang sudah banyak dimanfaatkan oleh pengembang lokal menggalang dana untuk memulai proyeknya. Sedangkan di ranah lokal, ada KitaBisa dan Wujudkan dengan fokus yang lebih luas di bidang sosial.

Cerita di balik lahirnya WeCare

WeCare / Shutterstock

WeCare merupakan sebuah layanan yang diinisiasi dan dijalankan oleh Yayasan Pelita Cakrawala Inspirasi yang juga dikenal dengan nama CharityLights. WeCare sendiri telah dapat diakses oleh publik sejak 15 Oktober 2015 lalu.

Pada dasarnya WeCare lahir atas inisiasi dari para pendiri CharityLights yang terdiri dari Gigih Septianto (Operations), Alfian Ramadhan (Engineering) dan Samuel Cahyawijaya (Engineering), dibantu oleh anggota tim lainnya dan Mesty Ariotedjo (Medical Operations) yang juga dikenal sebagai seorang musisi dan public figure.

Gigih menjelaskan, “Pengembangan WeCare secara serius dimulai sejak kami bertemu dengan Mesty, seorang dokter dan musisi yang pada tahun 2012 bekerja sebagai dokter di daerah terpencil di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ide ini telah ia pikirkan sejak bekerja di RSUD Ruteng, satu-satunya rumah sakit daerah yang berada di tiga kabupaten yang meliputi 800.000 penduduk.”

Gigih juga menggarisbawahi beberapa kendala yang penanganan kesehatan menjadi tidak optimal saat itu. Mulai dari minimnya fasilitas kesehatan yang tersedia hingga biaya akomodasi dan transportasi untuk mengakses fasilitas kesehatan yang tidak bisa ditanggung oleh jaminan kesehatan nasional.  Padahal saat itu hampir seluruh penduduk telah memiliki jaminan kesehatan nasional.

“[Melalui WeCAre] Kami berharap dapat membantu memperkuat akses layanan kesehatan yang adil dan merata untuk masyarakat Indonesia terutama di daerah perifer.  Kami juga bercita-cita dapat membangun inovasi layanan kesehatan yang transformatif dan menyeluruh melalui tiga pilar utama kami, [yaitu] Engineering, Business dan Impact,” ujarnya.

Sebelum WeCare berdiri, CharityLights juga telah memiliki sebuh platform sosial bernama PhiRUNthropy . Dengan memanfaatkan aplikasi mobile untuk Windows Phone dan Android, PhiRUNthropy memungkinkan pengguna untuk mengkonversikan jarak mereka ketika berjalan, berlari, atau bersepeda dalam bentuk uang atau donasi.

Cara kerja WeCare dan rencana ke depannya

WeCare / Shutterstock

Pada dasarnya, WeCare bekerja dengan menggalang dana melalui kampanye crowdfunding. Setelah dana yang terkumpul mencapai target untuk pasien tertentu, maka dana tersebut akan segera disalurkan. Menariknya, WeCare berjanji untuk melaporkan segala proses donasi dan distribusi dana yang bersangkutan secara transparan di platform mereka.

Diungkapkan Gigih, “Saat ini WeCare masih bereksperimen dengan beberapa model monetisasi. Salah satunya yang sedang dicoba adalah menerapkan transaction fee sebesar 5% untuk setiap pasien yang terdanai secara penuh lewat WeCare. Kami tidak memotong dari dana yang sudah terkumpul seperti situs-situs crowdfunding pada umumnya namun kami mengalokasikan 5% tersebut ditambahkan pada total jumlah dana yang di-crowdfunding-kan untuk biaya operasional kami.”

Bila ingin berpartisipasi, setidaknya ada tiga cara yang disediakan oleh WeCare, yakni menjadi Donor, Medikator, atau seorang Katalis. Masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam pelayanan kesehatan.

Donor dapat memilih pasien yang ingin dibantu dengan menyumbang sejumlah dana, mulai dari 25.000 Rupiah. Medikator adalah dokter atau petugas kesehatan di daerah terpencil dengan tugas untuk menemukan pasien yang butuh pelayanan kesehatan, rujukan, atau dibantu kepenguurusan BPJS/JKN. Sedangkan Katalis adalah masyarakat awam yang melakukan pencarian atau menemukan pasien yang membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan atau belum memiliki BPJS/JKN.

Mengenai rencana ke depan WeCare, Gigih mengatakan, “Kami baru launch selama 1 bulan untuk menguji minimum viable product [MVP] kami. Target terdekat tentu saja melakukan iterasi untuk memperbaiki sistem yang sudah berjalan saat ini baik di sisi website maupun sistem-sistem lain di luar pengembangan website seperti proses pencarian pasien dan distribusi dana. Target tahun 2016 mendatang kami harap kami sudah dapat mendanai tidak kurang dari 500 pasien.”

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…