Korea Internet & Security Agency (KISA), otoritas yang bertanggung jawab untuk memelihara dan melindungi ruang internet di bawah Kementerian Sains dan TI Korea Selatan, membuka peluang bisnis B2B di Indonesia untuk tujuh startup fintech asal negeri Gingseng lewat pertemuan bisnis dengan 15 perusahaan fintech dari Indonesia.

Seluruh startup menawarkan teknologi yang mereka kembangkan masing-masing, mulai dari keamanan finansial, blockchain, remitansi, biometrics, dan sistem pembayaran.

Pertemuan bisnis ini merupakan langkah perdana KISA dalam mempromosikan startup fintech dari Korea Selatan ke pasar internasional. Setelah Indonesia, KISA akan memboyong seluruh peserta ke Vietnam untuk melakukan hal yang sama.

Senior Researcher KISA Jeong Jongil menuturkan alasan di balik dipilihnya Indonesia dan Vietnam, lantaran kedua negara ini memiliki kesamaan penerapan fintech yang bisa dibilang sudah mumpuni sehingga diharapkan terjadi kemitraan yang baik antar satu sama lain.

Alasan berikutnya, pasar di Korea Selatan bisa dibilang sudah cukup kompetitif. Perusahaan fintech di sana sudah mencapai lebih dari 200 perusahaan. Alhasil perusahaan harus mencari market yang lebih potensial di luar negeri.

“Sampai akhir tahun ini diperkirakan akan ada lebih dari 300 startup fintech di Korea Selatan. Pasar sudah makin kompetitif, akhirnya harus cari pasar baru di luar negeri. Seluruh peserta kami kurasi berdasarkan solusi yang mereka tawarkan,” kata Jeong, Senin (13/11).

Berikut adalah nama-nama ketujuh startup Korea Selatan:

1. MOIN

Adalah startup fintech yang bergerak di bidang remitansi dengan memanfaatkan teknologi blockchain. MOIN menggunakan cryptocurrency dibandingkan sistem SWIFT. Perusahaan menjamin kecepatan dalam mengirim uang empat kali lebih cepat dan 80%-90% lebih murah dibandingkan memakai jasa bank.

2. WION

Adalah startup fintech yang bergerak di jasa pembayaran. WION memiliki berbagai produk yang membentuk ekosistem pembayaran jadi lebih seamless. Di antaranya produk WiGLE yang merupakan perangkat infra yang dapat membaca perangkat pengguna dan menyediakan berbagai metode pembayaran seperti beacon, aplikasi keamanan dan sebagainya.

Produk lainnya yang dihadirkan adalah WiCard (kartu kredit wireless), WiTable (layanan pemesanan dan pembayaran di restoran), WiKiosk (pembayaran mobile via kios digital), WiPos (perangkat mPOS), WiWare (pembayaran mobile wireless tanpa smartphone), dan lainnya.

Di Indonesia sendiri, WION tengah melakukan kerja sama bisnis dengan XL Axiata, Finnet, Doku, Alfamart, dan Hyosung ATM.

3. WinningI

Adalah startup fintech yang menggunakan teknologi biometrik dari telapak tangan dan sidik jari sebagai sensor untuk otentikasi, cukup lewat kamera smartphone. Target pengguna layanan ini adalah perusahaan jasa keuangan seperti perbankan, sekuritas, asuransi, dan biometrik mobile.

Teknologi yang dihadirkan WinningI sudah digunakan oleh beberapa perusahaan dari Korea seperti JB Bank, Kwangju Bank, dan SK Telecom.

4. Soft.kr

Adalah startup fintech yang bergerak di jasa Enterprise Risk Management (ERM), menyediakan informasi untuk menganalisis berbagai risiko keuangan demi mencegah terjadinya fraud. Misalnya, analisis pola transaksi, simulasi pola, penilaian risiko, pemantauan dan deteksi real-time, dan lain sebagainya.

5. Coinone

Adalah startup fintech yang menawarkan berbagai jasa berbasiskan teknologi blockchain. Ada dua jenis layanan yang dihadirkan, cryptocurrency exchanges dan cross-border remittance. Dalam cryptocurrency exchanges, Coinone menyediakanenam mata uang uang, diantaranya BTC, BCH, ETH, XRP, dan QTUM.

Sementara crossborder remittance menawarkan jasa remitansi dengan menggunakan cryptocurrency. Pengguna dapat mengirim uang dengan fee yang lebih murah dari bank dan didukung oleh lima bank besar di Asia.

6. To Be Smart

Adalah perusahaan pengembang perangkat lunak yang menggunakan kartu Universal subscriber Identity Module (USIM). Ada tiga produk yang dihadirkan, platform transaksi yang terotentikasi dengan teknologi crypto visual, solusi otentikasi biometrik berbasis electrocardiogram, dan USM pay.

Untuk solusi otentikasi biometrik, To Be Smart mengembangkan dua jenis kartu electrocardiogram. Satu kartu digunakan untuk server, satu lagi didistribusikan ke individu. Cara ini dinilai lebih aman dari penggunakan OTP.

7. Heenam

Adalah perusahaan fintech penyedia jasa scraping dengan nama produk E-Spider. Produk ini menyediakan bahasa penskripan ECMA Script untuk mengirimkan informasi konsumen secara otomatis dari berbagai jaringan, meski berada di sistem operasi atau perangkat yang berbeda.

Penggunaan informasi ini digunakan untuk perusahaan dalam kaitannya pemberian fasilitas kredit, penerbitan kartu ATM tanpa tatap muka, manajemen finansial personal, dan lainnya. Beberapa pengguna Heenam di Korea Selatan, seperti Bank Woori, Hyundai Card, dan Busan Bank.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.