Menarik sekali mengikuti perkembangan teknologi di Indonesia, terlebih ekosistem pengembangan dan daya konsumsi yang sudah cukup tinggi. Kami berkesempatan mewawancarai beberapa narasumber terkait perkembangan perangkat wearable dan IoT (Internet of Things) berikut dengan pernak-pernik yang mewarnainya.

Sebelum lebih jauh bercerita mengenai perkembangan teknologi ini di Indonesia, alangkah baiknya kita mengenal lebih dekat teknologi wearable dan IoT ini. Seperti yang disampaikan Sofian Hadiwijaya, seorang Intel Innovator yang juga merupakan salah satu pendiri Crazy Hackerz (Crackerz), wearable dan IoT adalah dua hal yang berbeda.

Perangkat wearable, menurut Sofian, merupakan generasi selanjutnya dari smart device. Sebuah perangkat dengan teknologi mutakhir yang digabungkan dengan perangkat-perangkat yang sudah akrab dengan keseharian kita, seperti jam tangan, kacamata, pakaian, dan lain sebagainya yang mengantarkan tren baru dalam industri mobile. Bisa dikatakan teknologi sekarang sudah mengalami pergeseran yang semula portable menuju wearable.

Sementara untuk IoT ia menjelaskan, “IoT  adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus guna berbagi data, mengontrol benda-benda fisik via gadget, dan banyak manfaat lainnya. Cara kerjanya adalah dengan memanfaatkan sebuah argumentasi pemrograman yang mana tiap-tiap perintah argumennya itu menghasilkan sebuah interaksi antara sesama mesin yang terhubung secara otomatis melalui Internet.”

Kesimpulannya adalah sebuah wearable device belum tentu dapat terhubung dengan Internet dan IoT pun juga belum tentu merupakan sebuah wearable device. Meskipun demikian, keduanya juga saling mendukung  dan sebenarnya teknologi wearable device adalah bagian perkembangan IoT.

Tren Perkembangan di Tanah Air

Dengan kecanggihan dan rupa yang familiar dengan masyarakat, perangkat wearable ini nyatanya belum begitu tinggi tingkat adopsinya di Indonesia. Sofian menjelaskan bahwa sejauh ini meski sudah banyak brand yang masuk ke Indonesia, adopsi wearable device ini baru dilakukan oleh beberapa kalangan.

Hal senada juga disampaikan I Putu Agus Eka Pratama, seorang dosen yang juga penulis buku berjudul “Smart City Beserta Cloud Computing dan Teknologi-teknologi Pendukung Lainnya”, dan Eka Tresna Irawan, salah seorang Developer di proyek IGOS Nusantara. Menurut mereka adopsi wearable device di Indonesia masih belum terlihat masif, meskipun tren konsumsi produk IT cukup tinggi di masyarakat.

Sedang untuk IoT, ketiganya sepakat, meski baru tahap pengenalan, sambutan positif terlihat dari mulai banyaknya acara, komunitas, dan startup-startup yang masuk di ranah ini.

“Di Indonesia sendiri mulai banyak komunitas IoT dan makerspace bermunculan,” ujar Eka yang sekarang sedang mengembangkan proyek IoT di IGOS ini.

Sofian juga memberikan beberapa contoh startup IoT dari Indonesia yang sudah go international, yakni eFishery dan Cubeacon, sebagai salah satu sinyal positif teknologi ini bisa berkembang dan mendapat penerimaan lebih baik di Indonesia.

“Konsep IoT itu bagus. Andai bisa diterapkan di Indonesia, ada banyak hal yang bisa diselesaikan dengan baik, misal pendidikan, kesehatan, kemacaten, dan lain-lain. Hal ini juga termasuk salah satu pendukung konsep smart city,” papar I Putu.

shutterstock_254849611

Faktor-faktor penghambat di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri akses untuk mendapatkan perangkat wearable dan IoT di Indonesia masih terbilang minim, baik untuk penggunaan ataupun pengembangan.  Hal itu bisa menjadi salah satu faktor penghambat tumbuhnya tren wearable dan IoT di Indonesia.

Faktor lain yang bisa menjadi menghambat adalah kesenjangan. I Putu memaparkan bahwa “digital divide” (kesenjangan digital) dan “knowledge divide” (kesenjangan berbagi pengetahuan) menjadi salah satu faktor penghambat untuk penetrasi sebuah teknologi, tak terkecuali untuk tren wearable dan IoT . Pendidikan dan pemahaman masyarakat dirasa memegang peranan kunci sukses sebuah adopsi teknologi.

Dari sisi pengembangan, Sofian menjelaskan karena sampai saat ini belum ada pabrikan khusus yang membuat wearable device di Indonesia, hal ini menyebabkan para developer masih kesulitan dalam mengetes produk yang diciptakan. Mereka belum bisa mencoba-coba karena masih terbatasnya perangkat wearable yang ada di Indonesia.

Kehadiran marketplace khusus wearable device diharapkan mampu mendorong adopsi

Di Indonesia tidak banyak marketplace yang menjual dan menyediakan perangkat-perangkat ini, salah satu dan mungkin satu-satunya adalah Wearinasia. Mengusung konsep seperti marketplace kebanyakan, Wearinasia percaya dengan potensi pasar yang ada di Indonesia.

“Perkembangan Wearable dan IoT akan sangat menarik karena faktor tidak langsung yaitu penetrasi smartphone yang pertumbuhannya mencapai 30 persen setiap tahun, membawa angin segar. Hal ini tentunya akan semakin membuka lahan baru untuk wearable dan IoT mengingat ‘jantung’ dari mayoritas perangkat tersebut masih tersentral di smartphone,” ujar Chief Marketing Officer Wearinasia Andrew Gunawan.

Startup yang mengklaim sudah berhasil menjual seratus lebih perangkat meski baru beroperasi di Januari 2015 ini mempunyai cara sendiri untuk memasyarakatkan wearable device. Selain menyediakan barang Wearinasia juga rutin menyelenggarakan acara bulanan yang mengupas tentang wearable device dan pernak-perniknya.

“Mengingat wearable dan IoT masih dalam tahap awal, Wearinasia mencoba untuk mengedukasi lewat activation offline dan online sehingga lebih banyak lagi masyarakat yg mengenal wearable. Sampai nanti masyarakat telah menyerap wearable dan IoT (hardware), kami ingin menjadi merek yang juga mampu mengolah data-data tersebut agar mampu memberikan data yang lebih meaningful bagi penggunanya,” ungkap Andrew.