1. Startup

Program Akselerator Asal Australia Haymarket HQ Hadir di Indonesia

Meluncurkan program "Southeast Asia Tech Immersion Mission" yang difokuskan untuk ekosistem startup di Indonesia, Singapura dan Vietnam

Program akselerator go-to-market asal Australia, Haymarket HQ, mengumumkan peluncuran "Southeast Asia Tech Immersion Mission" yang didukung penuh oleh Investment NSW. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung perusahaan teknologi dan investor dari Pusat Teknologi Sydney yang tertarik untuk mengeksplorasi dan terhubung dengan ekosistem kawasan ini.

Berdasarkan peluang dan potensi yang ditawarkan, ada tiga negara yang akan menjadi fokus utama pada program ini, mencakup Indonesia, Singapura dan Vietnam. Indonesia disebut sebagai salah satu yang utama karena memiliki populasi terbesar di Asia Tenggara serta memiliki sektor teknologi yang tengah berkembang pesat.

Program ini akan diadakan selama 9 hari, menyasar para pendiri dan investor yang ingin menjajaki peluang di Indonesia, Singapura, dan Vietnam. Sekitar 15 delegasi dari Tech Central Sydney akan dipilih untuk mengembangkan pemahaman tentang ekosistem teknologi di Asia Tenggara, meningkatkan akses ke modal dan kesepakatan, koneksi dengan pelanggan, dan jaringan mereka.

CEO Haymarket HQ Duco van Breemen mengungkapkan bahwa Asia Tenggara merupakan rumah bagi kelas menengah dengan pertumbuhan tercepat di dunia, serta konglomerasi dan VC yang signifikan secara global, unicorn teknologi, dan sekumpulan besar talenta teknologi yang telah memberdayakan beberapa perusahaan teknologi Australia saat ini.

"Program ini dirancang untuk memungkinkan delegasi untuk mengeksplorasi dan terhubung dengan ekosistem di kawasan ini, sehingga mereka bisa memanfaatkan kekayaan peluang yang ditawarkannya,” ujar van Breemen.

SEA Tech Immersion Mission juga akan didukung oleh grup investasi swasta Arkblu Capital (investor Wahyoo, Jago, dan Izy di Indonesia) yang berbasis di Tech Central. Grup yang telah memiliki kantor di Sydney dan Jakarta ini menawarkan delegasi akses ke jaringan tepercaya di wilayah tersebut, memperkenalkan mereka ke kontak yang tepat yang memahami nuansa SEA dan tuntutan bisnis Australia.

Bersama dengan diluncurkannya inisiatif ini, Haymarket HQ juga sekaligus mengumumkan peluncuran Program Australia Vietnam Growth (AVG) untuk mendukung organisasi teknologi dan badan industri Australia untuk mengeksplorasi, memvalidasi, dan berekspansi ke Vietnam.

Program tersebut didukung penuh oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) di bawah Program Hibah Keterlibatan Ekonomi Australia Vietnam yang Ditingkatkan (AVEG). Selaras dengan prioritas strategis Australia, program ini berfokus pada ekonomi hijau dan digital dengan tujuan untuk menghasilkan hasil komersial serta membangun gerbang perdagangan dua arah yang berkelanjutan antara kedua negara.

Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, Vietnam juga memiliki ekonomi digital yang bertumbuh dengan cepat, didorong oleh perkembangan infrastruktur digital dan ekonomi siber yang kuat. Teknologi digital dimanfaatkan untuk peningkatan infrastruktur industri, menyederhanakan rantai pasokan dan logistik, memberikan peningkatan kota pintar untuk mengurangi limbah, polusi, dan kemacetan lalu lintas, serta membantu bisnis beroperasi lebih efisien.

Melihat kerja sama Haymaker HQ yang dijalin bersama Vietnam, tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada inisiatif baru yang bisa dilakukan bersama Indonesia. SEA Tech Immersion Mission sendiri didasarkan pada kerangka kerja Haymarket HQ yang telah dicoba dan diuji yang telah mendukung lebih dari 800 perusahaan untuk berekspansi ke pasar baru di seluruh wilayah APAC.

Ekosistem startup teknologi di Indonesia

Tahun 2022 dianggap banyak orang jadi tahun yang menantang, pasca-pandemi dua tahun lalu yang memberikan efek kejut bagi perekonomian kita. Isu pasar keuangan global, makroekonomi, hingga resesi jadi “momok” yang seakan memberi peringatan bagi ekosistem startup teknologi kita bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

More Coverage:

Fenomena "tech winter" yang terjadi dalam skala global ini sangat disayangkan juga memberikan dampak di ekosistem tanah air. Kabar pengurangan pegawai, sampai penutupan bisnis atau pivot, dialami oleh beberapa entitas startup dalam berbagai skala - yang bahkan dialami pula oleh startup-startup berstatus ‘unicorn’.

Meskipun begitu, tidak sedikit startup baru yang hadir menawarkan inovasi dengan nilai tambah dan investor yang terus mengalirkan pendanaan untuk menyokong ekosistem startup teknologi tanah air. Berdasarkan data publik yang dicatat DailySocial.id, di semester ganjil tahun ini setidaknya 73 pendanaan startup diumumkan ke publik (34 transaksi disebutkan nominalnya) dengan nilai $707 juta.