1. Startup

Indonesia di Urutan Bawah dalam Daftar "IT Industry Competitiveness Index 2011"

Meskipun startup teknologinya menciptakan geliat yang cukup signifikan, ternyata secara keseluruhan kondisi Teknologi Informasi Indonesia masih sangat buruk di mata dunia internasional. Dalam daftar IT Industry Competitiveness Index 2011 yang disusun oleh oleh Business Software Alliance (BSA), Indonesia berada di urutan 57 dari 66 negara yang dinilai (naik 2 strip dari perhitungan tahun sebelumnya). Khusus untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di posisi paling buncit, "mengalahkan" Filipina dan Vietnam.

Sebagai perbandingan, di penilaian ini Singapura menduduki urutan ketiga (naik 6 peringkat dari posisi tahun lalu) dan Malaysia di urutan 31 (naik 11 peringkat dari urutan sebelumnya). Thailand, Filipina , dan Vietnam berturut-turut berada di urutan 50, 52, dan 53. Indonesia hanya berada di atas negara-negara berkembang lainnya seperti Venezuela, Ekuador, Bangladesh ataupun Pakistan. Berada di urutan paling bawah dalam daftar ini adalah Iran, sementaranya pemuncaknya tentu saja Amerika Serikat.

Dibuat sejak tahun 2007, IT Industry Competitiveness Index membandingkan berbagai negara di sejumlah kawasan tentang kesiapannya mendukung industri Teknologi Informasi yang kuat. Ada enam faktor yang berperan dalam hal ini, yaitu lingkungan bisnis secara keseluruhan, infrastruktur Teknologi Informasi, sumber daya manusia, ekosistem hukum, ekosistem riset, dan dukungan untuk pengembangan industri Teknologi Informasi. Dari kesemuanya, ekosistem riset (RD) memiliki pembobotan yang paling tinggi. Anda dapat melihat metodologinya lebih lanjut di laman ini.

Khusus untuk Indonesia sendiri, kelemahan paling besarnya terletak di infrastruktur dan ekosistem riset. Bahkan nilai yang diperoleh untuk riset hanya 0.1, artinya riset yang berkaitan dengan Teknologi Informasi jumlahnya super sedikit. Satu-satunya yang "lumayan" untuk sisi Indonesia adalah Human Capital. Di area ini Indonesia memperoleh nilai yang sedikit lebih baik ketimbang negeri jiran Malaysia. Tapi itu belum cukup untuk menjadikan Indonesia rising star, seperti halnya Malaysia yang secara keseluruhan melejit 11 peringkat dari tahun sebelumnya karena nilai yang diperoleh untuk sektor R&D sangat tinggi (43.9).

Begitu banyak PR yang harus dikerjakan oleh regulator, pelaku bisnis, dan pelaku riset untuk meningkatkan daya saing Indonesia di bidang Teknologi Informasi, setidaknya di kawasan Asia Tenggara. Masih berkilah kenapa perusahaan-perusahaan teknologi besar lebih memilih negara tetangga ketimbang Indonesia?

&