1. Startup

Semangat Baru Veritrans yang Kini Menjadi Midtrans

Ada tiga area fokus baru, yakni Payment Service, Risk Management, dan Chat Commerce

Ada yang baru dari Veritrans, salah satu perusahaan fintech Indonesia di sektor payment gateway. Di ulang tahun keempat mereka yang jatuh pada bulan Oktober, Veritrans memutuskan untuk berganti nama menjadi Midtrans. Perubahan ini juga sekaligus membawa tiga area fokus baru Midtrans di ranah pembayaran digital, yaitu Payment Service, Risk Management, dan Chat Commerce.

VP of Community Management Midtrans Diera Yosefina Hartono mengatakan bahwa perubahan nama dan fokus baru dari Midtrans merupakan salah satu bentuk adaptasi untuk dunia e-commerce yang dinamis dan berubah cepat. Jika di awal niatnya hanya memecahkan masalah pembayaran, kini dengan masalah yang bertambah, solusi yang ditawarkan pun coba diperluas.

Sementara itu President Direktur Midtrans Ryu Kawano melalui keterangan media menyampaikan, "Sejak tahun lalu kami sudah memposisikan diri untuk tidak hanya sekedar payment gateway. [...] Tahun ini, kami telah mengambil beberapa langkah lebih maju lagi dengan merilis tiga produk di tiga bidang berbeda, payment services, risk management, dan chat commerce."

Di sisi payment service, Midtrans akan fokus pada bidang pembayaran dengan merilis tools versi paling baru bernama Snap yang dilengkapi fitur pop-up window dan memungkinkan alur transaksi menjadi lebih cepat dan sederhana bagi konsumen. Diklaim, terdapat 16 metode pembayaran yang dapat diintegrasikan pada Snap, mulai dari card payments, direct debit, hingga transfer bank. Lebih jauh, di Q1 2017 mendatang Midtrans juga berencana merilis fitur baru yang memungkinkan merchant untuk menyalurkan pembayaran kepada mitra dan rekan mereka.

Di sisi risk management, Midtrans fokus pada produk pattern detection system Aegis yang telah dirilis tahun lalu untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Dalam Aegis sendiri saat ini disematkan beberapa fitu baru seperti algorithmic fraud scoring, transaction relationship visualization, dan fraud pattern analytics reporting.

Di sisi chat commerce, Midtrans akan fokus pada tools yang bernama Prism yang memungkinkan merchant untuk menambahkan chat sebagai metode checkout pada situs e-commerce mereka. Prism ini lahir dari pengamatan Midtrans terhadap kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar melakukan chatting.

Berdasarkan hasil riset internal Midtrans, konsumen yang berinteraksi di chat window dengan petugas customer service disebutkan memiliki conversion rate hingga 12-15 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan konsumen yang hanya mengunjungi situs e-commerce tanpa interaksi apapun yang hanya memiliki conversion rate sebesar 1-3 persen.

Perubahan nama dan juga logo perusahaan ini juga menurut Diera tidak membawa dampak signifikan terhadap operasinal dan decision making di tubuh perusahaan.

Sejak awal berdiri, Veritrans (sebelum berganti nama) memang telah mendaftarkan nama PT mereka dengan nama Midtrans. Di samping itu, Veritrans Jepang yang merupakan investor awal pun disebutkan Diera hanya memiliki saham minoritas di tubuh perusahaan.

"Jadi, perubahan ini memang lebih ke arah marketing, [...] tidak ada perubahan apapun di sisi para stakeholder. [...] Dengan nama baru ini kami juga berharap tidak lagi selalu diasosiasikan dengan hanya payment saja [karena produknya sudah meluas]." ujar Diera.

Midtrans yang berdiri pada tahun 2012 saat ini telah bermitra dengan pemain-pemain e-commerce besar di tanah air seperti Tokopedia, MatahariMall, BukaLapak, dan juga Traveloka. Di samping itu, Garuda Indonesia dan Cinemaxx juga telah menjadi rekan Midtrans. Dengan perubahan ini, ke depannya, Midtrans juga diharapkan untuk dapat menjangkau klien-klien baru yang lebih luas lagi.