Categories

Game

Bagaimana Video Game Mendorong Saya Untuk Belajar Banyak Ilmu Baru

Dari mulai sains, sejarah, sampai filosofi.

Yoga Wisesa - 16 July 2018

Manusia umumnya takut pada apa yang tak mereka mengerti, dan pandangan ini berlaku buat segala hal, termasuk saat permainan video jadi populer puluhan tahun silam. Meski sekarang pandangan publik terhadap game sudah jauh lebih positif, permainan video kadang masih saja disalahkan atas problem kesehatan atau ketika ada peristiwa  tragis yang terjadi.

Ada banyak penelitian yang menampik anggapan-anggapan keliru itu, tapi di artikel ini, saya tidak mau membahas soal dampak positif atau negatif dari permainan video. Saya mau mengajak Anda mengapresiasi ide liar dan imajinatif talenta-talenta yang menggarapnya, serta melihat betapa melimpahnya ilmu pengetahuan di dalamnya. Dan pada akhirnya, saya ingin menunjukkan betapa efektifnya game dalam mendorong saya mempelajari beragam ilmu baru.

Ada banyak orang tua modern menyadari bagaimana game mendorong anak-anak mempelajari bahasa asing. Namun ‘rahasia’ game terbuka lebar begitu bahasa tak lagi jadi batasan, ketika Anda menginvestasikan puluhan (bahkan ratusan) jam untuk menikmatinya, sewaktu Anda telah mengenal karakter-karakternya layaknya teman-teman seperjuangan, dan ketika dunia permainan sudah menjadi rumah kedua.

 

Ilmu dari sci-fi

Untuk memulainya, saya akan mengambil contoh satu trilogi sci-fi buatan BioWare, yakni Mass Effect. Di mata gamer awam, permainan menawarkan jalan cerita yang familier: manusia harus bertahan hidup dari serangan alien, dan karakter utamanya adalah individu terpilih yang ditakdirkan buat jadi juru selamat. Gagasan ini cukup sering muncul, menjadi basis narasi XCOM, seri Halo, hingga Star Control.

study 18
Star Control: Origins

Namun penggemar berat dan gamer-gamer yang teliti akan melihat bagaimana BioWare mengusung konsep serupa cerita-cerita pendek H.P. Lovecraft: cosmicism. Lovecraft ialah penulis kisah horor berbasis mitos Cthulhu. Sederhananya, cosmicism adalah filosofi yang menyatakan bahwa di jagat raya ini, keberadaan manusia sangat kecil dan tidak signifikan. Seperti makhluk pendahulu yang sudah punah, kita akan sirna dan digantikan oleh spesies lain.

study 1
Halo 5: Guardians

Terdengar dingin dan menyeramkan bukan? Ide ini menjadi dasar BioWare menciptakan Reaper, sebuah ras mesin sintetis-organik penghancur. Tidak diketahui apa motivasi Reaper menghancurkan makhluk biologis hingga akhirnya Anda (sebagai Commander Shepard) menyadari bahwa tujuan Reaper hanyalah memanen kehidupan setiap 50 ribu tahun sekali.

Segala teknologi canggih yang membantu manusia dan ras lain menjelajahi bintang adalah peninggalan mereka. Reaper sendiri diprogram oleh penciptanya untuk menjaga keseimbangan alam raya dengan memastikan tidak ada makhluk biologis yang lebih superior dari ras lain. Dan siklus tersebut terjadi berulang-ulang, hingga akhirnya dihentikan oleh Shepard.

study 6
Mass Effect 3

Meski dasar dari cosmicism ialah cerita fiktif, apakah ia tidak membuat kita berpikir bahwa memang benar keberadaan manusia itu sangat kerdil di hadapan kosmos? Secara pribadi, ‘perspektif kosmos’ ini mendorong saya melihat sesuatu dengan rendah hati.

Mass Effect dan beberapa game sci-fi lain menyemangati saya belajar ilmu astrobiologi dan astrofisika lebih jauh lagi. Mereka membuat saya haus akan acara-acara dokumentasi sains seperti Cosmos: A Spacetime Odyssey, One Strange Rock dan Through the Wormhole, serta mendorong saya untuk melahap buku Astrophysics for People in a Hurry tulisan Neil deGrasse Tyson.

study 5
Mass Effect 3

Berbekal ilmu terbatas yang saya miliki, sewaktu menikmati game atau film sci-fi, saya bisa mengetahui skenario apa yang mungkin terjadi (awet muda dengan ‘melipir’ di lubang hitam) dan mana yang mustahil (melaju lebih cepat dari cahaya, hukum fisika tidak mengizinkannya).

study 4
Mass Effect 3

 

Sejarah

Anda tidak akan kehabisan pilihan game bertema sejarah, dan permainan-permainan ini hadir dalam berbagai genre: strategi, action, shooter. Namun cinta pertama dan judul yang berjasa memercik ketertarikan saya pada sejarah ialah Age of Empires. Dalam gameplay real-time strategy-nya tersimpan detail-detail menarik kebudayaan kuno, dari mulai Mesir, Yunani, Babilonia hingga Yamato. Ketika game ini dirilis, saya baru berusia sembilan tahun.

study 8
Age of Empires II HD

Maraton game-game sejarah baru benar-benar saya mulai di tahun 1999 hingga 2000. Saat itu, Age of Empires II meluncur, dan tak lama disusul oleh Shogun: Total War dan Sid Meier’s Civilization III. Ketiga judul ini menggelitik saya buat mencari tahu soal masa prasejarah, zaman Pertengahan, Renaissance serta apa yang sebenarnya terjadi di periode Sengoku (Jepang, sekitar abad ke-15 hingga 17). Mereka tidak membuat saya paham sejarah secara instan, namun waktu itu, saya mulai mengerti detail-detail kecil dalam potongan sejarah – seperti krusialnya Constantinople serta Damascus bagi peradaban di era keemasan kota-kota itu.

study 9
Shogun: Total War

Game juga yang membuka mata saya soal betapa menakutkannya Perang Dunia 2. Ada beragam buku dan film yang mengangkat hal ini, dan saya yakin Anda tidak lagi asing dengannya. Namun saya ingin mengungkap satu trivia kecil: Tahukah Anda, sutradara Steven Spielberg punya jasa melahirkan seri Medal of Honor? Dan bukan kebetulan, proses pengembangan game ini berbarengan dengan pengerjaan film Saving Private Ryan. Dan idenya muncul saat Spielberg  melihat putranya bermain GoldenEye 007.

study 10
Medal of Honor: Allied Assault

Steven Spielberg berpartisipasi dalam proyek tiga permainan Medal of Honor pertama. Seri ini mencapai puncaknya di Allied Assault (2002), dan saya masih ingat satu skenario tak terlupakan: untuk pertama kalinya, gamer bisa merasakan kekacauan dan kengerian pendaratan di pantai Normandy, Perancis, pada tanggal 6 Juni 1944. Level ini merupakan reproduksi dari adegan pembuka Saving Private Ryan.

study 11
Medal of Honor: Allied Assault

Namun saya ingin mengajak Anda mundur sedikit, yaitu saat EA Games dan DreamWorks Interactive meluncurkan Medal of Honor: Underground. Permainan shooter ini mengisahkaan invasi Jerman di Perancis pada tahun 1940. Tokoh utamanya adalah seorang gadis anggota pemberontak yang akhirnya direkrut OSS dan ditugaskan hingga ke Afrika Utara. Waktu itu, saya tidak mendengar adanya keluhan gamer terkait penggunaan tokoh protagonis wanita seperti yang terjadi ketika Battlefield V diungkap belum lama ini.

study 19
Battlefield V

Rasa takjub saya terhadap mesin dan taktik perang era PD2 memuncak di usia 13 tahun. Dan kebetulan sekali, permainan-permaianan simulasi banyak bermunculan. Judul yang betul-betul mengesankan saya adalah Silent Hunter II dan IL-2 Sturmovik. Keduanya memang fokus pada jenis kendaraan tempur berbeda (kapal selam Jerman U-boat dan pesawat tempur Soviet), namun berkat mereka saya bisa melihat konflik dari perspektif berbeda, di lokasi berbeda.

study 12
IL-2 Sturmovik: Battle of Stalingrad

Saya tidak mau membahas game ber-genre simulasi terlalu rinci, namun permainan-permainan ini dapat memuaskan dahaga Anda terhadap detail. Bagi saya pribadi, game simulasi sejatinya adalah museum interaktif virtual.

 

Spekulasi masa depan manusia

Permainan bertema futuristis yang mencoba menggambarkan kehidupan manusia di masa depan sangat melimpah, dan di bagian ini, saya kembali membahas soal sains di video game. Beberapa developer mengeksplorasi konsep ini dengan cukup bebas, namun studio lain mencoba memproyeksikan masa yang akan datang berdasarkan situasi dunia dan perkembangan teknologi sekarang.

study 13
XCOM 2

Menakar dari hal tersebut, kita bisa memilah seperti apa skenario punya peluang untuk terjadi (dan Anda bisa menyingkirkan Fallout, Half-Life, Warhammer 40,000 dan XCOM dari daftar). Dan satu franchise yang selalu diasosiasikan dengan tema futurisme adalah Deus Ex.

study 15
Fallout 4

Saat meluncur di tahun 2000, mungkin Deus Ex hanya satu dari sedikit game yang membahas nanoteknologi (juga menjadi tema seri Metal Gear Solid). Para kreator kisah fiksi (termasuk developer Ion Storm) umumnya menggambarkan bagaimana teknologi ini memberikan manusia kemampuan super serta membantu kita memerangi penyakit mematikan.

study 14
Deus Ex

Simpelnya, nanoteknologi ialah teknologi yang difokuskan pada metode manipulasi zat/materi dalam skala super-kecil. Jangkauannya sangat luas: dari mulai biologi, kimia dan pengobatan, produksi semikonduktor, sampai fabrikasi mikro. Ia juga tidak bisa dipisahkan dari ilmu fisika quantum yang menelaah karakteristik partikel-partikel sub-atom. Di telinga khalayak awam, nanoteknologi memang terdengar sangat fiksi ilmiah, namun institusi pendidikan ilmu ini sudah ada di Indonesia.

study 16
Deus Ex: Human Revolution

Lompat 11 tahun dari pelepasan Deus Ex, sekuel berjudul Deus Ex: Human Revolution mengeksplorasi ide transhumanism. Biasa dilambangkan dengan simbol H+, transhumanism adalah gerakan intelektual yang punya tujuan memperbaiki kondisi manusia saat ini berbekal teknologi.

Terdengar familier bukan? Pada dasarnya, segala hal yang membantu manusia mengatasi penyakit dan keterbatasan fisiknya masuk ke ranah transhumanism. Tanpa sadar, kita sudah mendapatkan realisasi dari gagasan ini, contohnya implan buat penderita kelumpuhan hingga chip yang bisa memberikan Anda indra keenam.

study 17
Deus Ex: Mankind Divided

Tapi dari sana, muncul beragam pertanyaan: Adakah batasan etika dari pemanfaatan teknologi? Lalu apakah dengan modifikasi-modifikasi yang dilakukan pada tubuh, kita masih bisa disebut sebagai manusia? Lalu apa dampaknya secara sosial dan budaya? Selanjutnya, transhumanism akan memicu pembahasan secara lebih luas lagi, terutama dari sisi filosofi dan agama.

(Jika Anda menyukai tema-tema filsafat dan gagasan yang menggelitik nalar, saya sangat merekomendasikan Pillars of Eternity dan sekuelnya, Divinity: Original Sin II, Torment: Tides of Numenera, dan seluruh game Bioshock.)

 

Penutup

Beragam ilmu yang saya bahas di atas memperlihatkan bahwa ada banyak bidang pengetahuan yang mendasari serta menginspirasi penggarapan sebuah karya digital, walaupun sejatinya mereka diramu untuk menghibur Anda. Menurut saya, hal inilah yang membuat sejumlah permainan lebih superior dibanding judul lain, dan alasan mengapa saya cukup kritis dalam memilih game. Di usia yang tidak lagi muda, saya merasa ada baiknya mempelajari ilmu baru sembari menikmati hobi.

Dan pada akhirnya, saya ingin mengajak Anda menggunakan pertimbangan ini saat memilih permainan video. Menikmati game multiplayer populer bersama kawan-kawan memang seru dan bisa membantu kita melepas kepenatan, tapi apa salahnya juga belajar sambil bermain?

Catatan: tiap screenshot diambil dari page resmi masing-masing game di Steam, Xbox, dan EA Origin. Header: GeForce.com.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter

Thank you for Reading DailySocial.id

Starting at less than Rp 5.000/Day. You get unlimited access to DailySocial.id