1. Startup

Klaim Profitable, Startup Proptech Jendela360 Rencanakan Galang Dana Pra-Seri A

Telah mengantongi pendanaan awal dari entitas yang terafiliasi dengan Sinar Mas Group

Pandemi telah mengubah kebiasaan orang melakukan pembelian properti. Jika dulunya masih banyak yang mencari properti secara offline, kini mekanisme online banyak dipilih. Meskipun di awal pandemi bisnis proptech sempat mengalami kendala, namun setelah kebanyakan orang telah melakukan adaptasi, lantas mengalami pertumbuhan yang semakin membaik.

Salah satunya dirasakan pengembang platform proptechJendela360, mereka mencatat pertumbuhan hingga 3x selama pandemi. Hal ini menunjukkan sudah makin baiknya bisnis proptech dan di prediksi akan terus mengalami kenaikan yang positif.

Kepada DailySocial.id. Co-founder & CEO Jendela360 Daniel Rannu menyebutkan, tercatat selama pandemi pembelian properti untuk rumah mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Sebagai platform yang mengedepankan teknologi virtual tour, mereka melakukan sejumlah penyesuaian dalam bisnis -- salah satunya melihat tren bekerja di rumah yang banyak dilakukan perusahaan kepada pegawainya. Selain itu kebanyakan dari mereka yang melakukan pembelian rumah adalah ingin memanfaatkan ruangan tersebut sebagai home office.

"Kami juga melakukan penyesuaian dalam hal penyewaan properti, dalam hal ini apartemen. Jika dulunya kami hanya menawarkan jangka panjang saja, kini kami memberikan opsi waktu penyewaan jangka pendek untuk penyewa, namun tidak harian," kata Daniel.

Penggunaan virtual tour untuk melihat lokasi dan desain rumah lebih detail juga diklaim mengalami pertumbuhan yang positif dari sisi penggunaan. Meskipun tidak menambahkan fitur ke dalam teknologi tersebut, namun untuk memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna, Jendela360 berupaya untuk memberikan kualitas terbaik dan informasi lengkap kepada pengguna.

More Coverage:

Bukalapak Terus Lengkapi Ekosistem Layanan, Mulai Masuk ke Proptech sampai Car Marketplace

Dengan menggabungkan teknologi berupa data dan skill langsung di lapangan, diharapkan bisa membangun fondasi yang kuat bagi Jendela360. Saat ini mereka masih fokus menyediakan informasi properti rumah tinggal dan penyewaan apartemen, belum ada rencana untuk menambah pilihan properti lainnya.

"Kami juga akan fokus kepada traksi karena saya melihat saat ini peluangnya sangat besar untuk penjualan rumah dan penyewaan apartemen. Menjadi bijaksana bagi kami jika nantinya bisa menjadi raja di dua kategori tersebut yaitu rumah dan apartemen," kata Daniel.

Pendanaan dari Sinar Mas Group

Setelah sebelumnya mengantongi pendanaan awal sebesar $1 juta yang dipimpin oleh BEENEXT, awal tahun ini Jendela360 juga kembali mengantongi pendanaan awal dari entitas yang terafiliasi dengan Sinar Mas Group. Tidak disebutkan lebih lanjut berapa nilai investasi yang diterima, namun investasi strategis ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan Jendela360 lebih baik lagi.

"Properti merupakan bisnis networking, menjadi logis bagi kami melalui kerja sama ini dengan Sinar Mas Group. Melalui pendanaan ini kami akan mengembangkan teknologi dan data sicence. Sisanya akan kami manfaatkan untuk kegiatan marketing dan branding," kata Daniel.

More Coverage:

[Video] Fokus Living Lab Ventures Perkuat Ekosistem Sinar Mas Land

Secara operasional saat ini Jendela360 mengklaim telah profitable. Untuk memanfaatkan momentum tahun ini rencananya mereka akan kembali menggalang dana untuk tahapan pra-seri A.

Sejak meluncur saat ini Jendela360 telah memiliki listing di seluruh Indonesia. Namun kebanyakan traffic yang ada berasal dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, Jendela360 juga akan mengembangkan konsep O2O. Konsep ini ke depannya akan menjadi pilihan bagi kebanyakan platform proptech di tanah air, yaitu menggabungkan konsep online dan offline.

"Di Indonesia untuk pembelian properti tidak semua bisa dilakukan secara online. Semua harus dilengkapi dengan konsep O2O untuk bisa melakukan penjualan sebagai platform marketplace yang mengedepankan teknologi virtual tour. Di saat yang sama mereka masih membutuhkan human touch dan pembelian properti termasuk pembelian yang emosional," kata Daniel.

Masa depan virtual tour

Mengutip dari Forbes tercatat sekitar 78% pembeli rumah mengatakan mereka memilih untuk melihat lebih banyak properti secara virtual dengan 3D tour karena masalah keamanan. Selain itu, 69% penjual rumah yang tidak menganggap 3D tour sebagai kebutuhan sebelum pandemi, kini mulai melihat bahwa 3D tour diperlukan.

More Coverage:

Startup Proptech “Kabina” Terima Pendanaan Awal Dipimpin East Ventures

Di sisi lain, iGUIDE telah melihat peningkatan 400% dalam virtual tour real estat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan lama setelah pandemi, virtual tour akan tetap ada karena mereka membuat pencarian rumah menjadi lebih mudah, menghemat kunjungan sebenarnya untuk daftar pembeli yang terpilih.

Mayoritas pemilik rumah lebih cenderung bekerja dengan agen yang menawarkan video properti real estat. Panduan video menyoroti fitur unik properti, tetapi manfaat utamanya adalah menunjukkan denah rumah. Ini memungkinkan pembeli untuk merasakan seolah-olah mereka sedang mengunjungi properti secara langsung. Tercatat sekitar 70% pembeli rumah menonton video house tour sebelum mengunjungi langsung.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again