[Manic Monday] Pentingnya Infrastruktur Hiburan

[Manic Monday] Pentingnya Infrastruktur Hiburan

20130930-161121.jpg
20130930-161121.jpg

Kini, kita sebagai konsumen hiburan memiliki pilihan yang sangat banyak. Saat ini kita masih bisa menikmati berbagai saluran hiburan warisan dari abad ke-20: TV, radio, dan media cetak – bahkan, variasi konten dari ketiga media tersebut makin tinggi, menjawab makin melebarnya preferensi dan kebutuhan masyarakat akan hiburan dan informasi. Dan dengan tumbuh berkembangnya media digital seperti internet, ragam konten maupun teknologi hiburan pun makin meningkat. Dalam periode kurang lebih 10 tahun, telepon selular telah berkembang dari alat komunikasi menjadi salah satu media hiburan utama masyarakat, sampai-sampai kepesatan teknologi telepon selular sudah menyaingi industri komputer pribadi (PC). Berbagai hiburan bisa dicapai dengan hanya beberapa klik, melalui browser ataupun aplikasi.

Yang mungkin tidak disadari oleh kebanyakan konsumen hiburan, adalah fakta bahwa penyediaan berbagai infrastruktur untuk hiburan-hiburan tersebut adalah sesuatu yang cukup rumit dan melibatkan orang banyak. Untuk ‘sekedar’ menyampaikan satu majalah setiap bulan kepada pembaca, paling tidak pihak-pihak ini terlibat: jurnalis, redaktur, bagian penjualan iklan majalah, desainer, tim pencetak majalah, agen distributor majalah, supir truk/motor yang mengantarkan majalah ke berbagai titik distribusi, penjual majalah, dan pastinya pembeli majalahanya sendiri. Belum lagi kalau memperhitungkan apabila majalah tersebut sering mengadakan acara (berarti ada tim penyelenggara acaranya), dan ada website (yang berarti ada sekelompok orang lagi yang mengurusi website dari konten, desain, programming, hosting website sampai bandwidth servernya).

Dalam membangun layanan digital sekalipun, ada banyak komponen yang saling terkait, bahkan di seluruh dunia, hanya untuk menyampaikan sesuatu, misalnya, satu unduhan lagu dari iTunes. Satu rentetan orang bekerja sama dari penyedia layanan internet di Indonesia sampai server iTunes di AS, yang juga berkait dengan mekanisme pembelian yang ditangani berbagai orang dan sistem lain, sehingga memastikan pembeli mendapatkan unduhan lagu sesuai pesanannya, dan pembayarannya diproses dengan benar sehingga dapat terbukukan dengan baik dan memberikan penghasilan bagi musisi atau label pemilik lagu tersebut. Ironisnya, layanan digital yang baik adalah layanan yang memastikan segala proses ini terjadi dengan proses yang nyaris tak terasa untuk konsumennya.

Peliknya membangun sebuah layanan hiburan digital untuk Indonesia adalah, susunan dan keseimbangan infrastruktur dari konsumen ke penyedia layanan terkadang tidak tertata dengan baik. Masalah bisa sesederhana koneksi internet tidak stabil, yang titik masalahnya bisa dimanapun antara komputer/telepon selular di pengguna, keadaan jaringan, penyedia layanan internet di Indonesia, interkoneksi internet ke luar negeri (apabila layanannya di luar negeri), dan server layanan tersebut. Masalah klasik – lebarnya bandwidth atau kapasitas server tidak sanggup melayani permintaan pengguna yang meningkat.

Dari sisi pembuat konten, hadirnya infrastruktur yang memadai juga cukup penting. Pembuat film pastinya memerlukan gedung bioskop yang memadai dan dapat menayangkan film-film karya mereka, akan tetapi infrastruktur bisnis pun cukup penting karena adanya perusahaan distributor film dapat sangat membantu, karena mereka yang akan mengurusi soal distribusi film ke bioskop-bioskop, maupun mengatur soal promosi film tersebut. Promosi sebuah film pun membutuhkan infrastruktur yang tepat, sesederhana menghadirkan trailer 1 menit untuk diputar sebelum film, atau pada jaringan iklan via layar LCD yang ada di gedung perkantoran maunpun taksi.

Infrastruktur untuk hiburan ini adalah satu rentetan komponen yang saling bekerja sama yang memastikan konten mengalir dari pembuat konten ke penikmat yang sesuai, dan apabila ada, pembayaran untuk pembelian konten tersebut mengalir dari penikmat ke pembuat. Infrastruktur ini akan berkembang menjadi ekosistem apabila mempertimbangkan semua infrastruktur media dan promosi yang mengarahkan orang ke tempat-tempat mereka bisa membeli atau menikmati konten tadi. Dan dalam infrastruktur dan ekosistem hiburan tersebut, di mana ada masalah, pastinya ada kesempatan bisnis.

Ario adalah co-founder dari Ohdio, layanan streaming musik asal Indonesia. Ario bekerja di industri musik Indonesia dari tahun 2003 sampai 2010, sebelum bekerja di industri film dan TV di Vietnam. Anda bisa follow akunnya di Twitter – @barijoe atau membaca blog-nya di http://barijoe.wordpress.com.

[ilustrasi foto dari Shutterstock]

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Opini
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…