Categories

Interview

Mengintip Rencana-Rencana TuringSense Pasca Perolehan Pendanaan Awal

TuringSense mengambil berbagai langkah kerja sama untuk merealisasikan tujuan mereka dalam merevolusi dunia olahraga

Adjie Priambada - 28 July 2016

Setelah mendapatkan seed fundingdelapan bulan silam, TuringSense terus bergerak untuk merealisasikan tujuan mereka dalam merevolusi dunia olahraga. Sekarang mereka tengah menjajaki kerja sama di berbagai belahan dunia. Kami mendapat kesempatan berbincang kembali dengan CTO dan Co-Founder TuringSense Joseph Chamdani, PhD dan Managing Partner Ideosource Edward Ismawan Chamdani untuk mengetahui lebih jauh rencana-rencana apa saja yang disiapkan TuringSense.

TuringSense adalah startup pengembang teknologi wearable untuk olahraga yang berbasis di Sillicon Valley. Startup ini juga digawangi oleh dua orang researcher asal Indonesia, yaitu Joseph Chamdani (CTO) dan Chris Lim (VP of Product and Marketing). Keduanya turut andil dalam pengembangan produk PIVOT yang berfungsi untuk merekam dan menganalisa gerakan tubuh yang kini digunakan untuk cabang olahraga tenis.

Joseph mengatakan, “Bicara tentang alat [wearable devices] PIVOT, di dalamnya ada tiga sensor yang terdiri dari Accelerometer, Gyroscope, dan Magnetometer. Itu semua dikombinasikan, istilahnya sensor fusion. Sensor ini dapat mengikuti apa yang digerakan-tanpa kamera, dan kami bisa lihat animasinya. Ini sebenarnya banyak digunakan di Hollywood, tetapi [cost] lebih mahal.”

Kisah singkat di balik membangun TuringSense yang berbasis di Sillicon Valley

TuringSense sendiri adalah startup berbasis teknologi ketiga yang dibangun oleh Joseph (Joe), pria yang kini memegang 46 paten dari penelitiannya dan 35 paten sedang dalam proses. Salah satu alasan Joe mendirikan TuringSense adalah karena kecintaan dia pada olahraga, terutama tenis. Di sisi lain, faktor harga sensor yang sudah jauh lebih terjangkau adalah alasan lainnya.

“Sensor juga sekarang sudah mulai canggih, affordable, dan akurat. […] Kami kombinasikan itu dengan software yang kami buat sendiri [dan]sensor ini wireless. Wireless yang kami pakai sama gelombangnya dengan yang 2,4 GHz, tetapi kami develop protokolnya sendiri […] dan itu sudah jadi paten kami,” kata Joe.

Meski berdiri di Sillicon Valley, namun membangun TuringSense sebagai startup wearable device yang mengarah ke IoT pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan membangun startup pada umumnya. Mulai dari konsep, mengetahui kondisi pasar, hingga membentuk tim untuk eksekusi sudah dijalani oleh Joe dan rekannya agar bisa mendapatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modal.

Ada satu perbedaan nyata yang bisa dilihat bila dibandingkan dengan membangun startup IoT di Indonesia. Perbedaan itu datang dari sisi kemudahan mendapat material untuk membangun produk yang saat ini belum bisa dirasakan di Indonesia.

Joe menjelaskan, “Membangun TuringSense harus kerja payah sendiri. Tidak ada insentif dari pemerintah, semua private funding. […] Tapi di sana itu kan pusatnya, jadi semuanya lebih mudah untuk didapatkan[material untuk produk]. […] Infrastruktur di sana memang sudah bagus.”

Langkah dan rencana setelah pendanaan

Sensor PIVOT yang dikembangkan TuringSense saat dalam kondisi di-charge / DailySocial

Pasar yang dibidik oleh TuringSense adalah pasar internasional dan saat ini TuringSense tengah menjajaki kerja sama di berbagai negara. Indonesia adalah salah satu pasar yang dituju. Di samping itu, masih ada Tiongkok dan juga negara-negara Eropa lainnya

Edwin mengungkapkan, “Di Indonesia, selain bertemu dengan investor , kami juga bertemu dengan calon-calon yang nantinya bisa pakai PIVOT. Kami sudah datang ke Djarum Foundation, dan akan berbincang dengan Persib. Jadi kami mau lihat PIVOT ini bisa tidak dipakai untuk sepak bola dan badminton.”

“Di Indonesia sendiri ada beberapa investor. Kami juga akan bantu TuringSense untuk fundraising lagi berikutnya, baik dari investor yang sudah ada maupun yang baru. Jadi, untuk cashflow positif mungkin ada dua round fundraising lagi yang akan dilakukan TuringSense,” lanjut Edwin menjelaskan.

Sementara itu di pasar Amerika Serikat sendiri, Joe mengungkap bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan tim basket Dallas Mavericks. Di bulan September nanti, teknologi PIVOT akan dikirim dan digunakan Mavs untuk membantu meningkatkan performa pemainnya.

TuringSense juga saat ini tengah dalam penjajakan kerja sama dengan partner yang ada di Inggris. Kerja sama ini nantinya akan memungkinkan PIVOT untuk masuk ke dalam English Premier League dan juga cabang olahraga Rugby.

Di samping olahraga, kerja sama di bidang kesehatan juga sudah dijalin. Di sini, TuringSense bekerja sama dengan Sport Surgery Clinic di Dublin dan Stanford Neuroscience.  Pada dasarnya, melalui kerja sama ini TuringSense akan mencoba membantu rehabilitasi pasien dengan cara yang menyenangkan seperti menggunakan game.

Joe mengatakan, “Ini kembali kepada membangun ekostem. Jadi kami itu sebagai company terlalu kecil, dan fokusnya akan kemana-mana kalau mengerjakan ini semua sendiri. […] Nah, yang kami akan bangun adalah 3D Motion Platform, dari teknologi hardware dan software dan juga cloud-nya supaya bisa masif deployment-nya. […] Seperti Apple dengan iPod yang sukses. Music platform-nya iPod, 3D Motion platform-nya TuringSense. Itu analoginya.”

Dengan menciptakan 3D Motion Library dari PIVOT, gerakan seorang atlet atau penari bisa terekam. Selain bisa dimanfaatkan untuk melatih generasi berikutnya, Joe menyampaikan bahwa tidak menutup kemungkinan juga seorang atlet untuk bisa mendapatkan royalty dari gerakan yang diciptakannya.

Lebih jauh, Joe menjelaskan bahwa di tahap awal ini TuringSense memang sengaja melancarkan strategi go-to-market B2B terlebih dahulu. Alasannya, lebih mudah menjual melalui channel. Tapi, ke depannya tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke ranah hiburan seperti game. Bila sudah masuk ke ranah ini maka bisnis TuringSense juga akan menjadi B2C.

“Agar adopsinya cepat dan tidak susah, kami pakai model subscription. Jadi, boleh dibilang hardware-nya free, dalam arti ada bayar bulanan. Kalau di Amerika itu $49/month. Kami jual ke akademi untuk bisa dipakai lima orang dengan kontrak satu tahun. Tapi, kalau muridnya suka dan ingin beli sendiri, mereka juga bisa dengan membeli satu set seharga $399. Karena store data di cloud, akan ada bayar bulanan juga sebesar $10/month,” ungkap Joe lebih jauh.

Saat ini, tim TuringSense sudah mencapai 15 orang di Sillicon Valley, enam orang di Italia, dan dua orang di Tiongkok. Sementara itu tim TuringSense di Indonesia sendiri sudah mencapai lima orang, salah satunya adalah Bullit Sesariza yang saat ini fokus dalam pengembangan UI/UX aplikasi PIVOT.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter