Categories

Feature

Pelajaran dari Andreessen Horowitz bagi Para Pendiri dan VC di Asia

Ada tiga poin kunci yang harus diperhatikan oleh investor saat mencari startup yang ingin didanai

Guest Post - 21 May 2015

Sebuah artikel berjudul “Tomorrow’s Advance Man: Marc Andreessen’s plan to win the future” yang dimuat di The New Yorker edisi 18 Mei 2015 digadang-gadang sebagai tulisan terbaik yang pernah membahas mengenai industri venture capital (VC) Silicon Valley. Artikel tersebut secara spesifik membahas tentang perusahaan VC milik Andreessen Horowitz (a16z), yang telah berusia enam tahun dan dianggap sebagai salah satu dari tiga perusahaan VC terkemuka di Silicon Valley, bersama dengan Sequoia Capital (yang dinobatkan sebagai yang terbaik berdasarkan hasil konsensus).

Dengan jumlah kata yang mencapai 14,000, tidak heran jika artikel tersebut memaparkan mengenai detail dari industri, menceritakan kembali kejadian-kejadian penting dengan gaya penulisan yang menyerupai seseorang yang tengah membacakan sebuah cerita. Dan kita dapat belajar banyak, tidak hanya tentang a16z, tapi mengenai industri VC secara keseluruhan.

Kita juga belajar mengenai proses pertimbangan seputar investasi, apa yang membedakan 20 VC terbaik dari yang lainnya (“Seorang bankir investasi terkemuka yang telah menangani sejumlah perusahaan perangkat lunak memberitahu saya, ‘Saya mengerahkan 90 percent dari usaha saya untuk menemukan transaksi dari delapan perusahaan VC terkemuka, 10 percent untuk 12 perusahaan berikutnya, dan nol persen untuk sisanya,’”) dan mengapa visi dari pendiri Netscape jauh melebihi masanya (“Andreessen memiliki keyakinan yang kuat,” papar penulis New Yorker Tad Friend).

“[Andreessen] yakin bahwa produk teknologi akan segera menghapus berbagai perilaku primitif seperti membayar dengan uang tunai (bitcoin), memakan makanan yang dimasak (Soylent), dan bertahan dari dunia yang tidak mengalami kemajuan dengan virtual reality (Oculus VR),” tulis Friend. Nyatanya, banyak prediksi Andreessen yang mulai terbukti kebenarannya. Dari US$ 50 juta yang ia investasikan kepada Skype pada 2009 untuk tiga persen saham yang kemudian mengembalikan investasinya hingga empat kali lipat, hingga US$ 130 juta yang dikeluarkan a16z untuk “membeli saham Facebook dan Twitter pada valuasi yang belum pernah terjadi sebelumnya” pada 2010.

Apa yang dapat dipelajari oleh para pendiri dan VC di Asia, dimana ekosistemya masih berkembang, dari seseorang sekelas Andreessen Horowitz dan lebih tepatnya, Co-founder Marc Andreessen? Saya memilih tiga poin bahasan dari artikel tersebut untuk dikembangkan, dan meminta komentar dari para pendiri dan VC di ekosistem Asia.

1. VC medioker ingin melihat traksi perusahaan Anda, namun VC terkemuka ingin Anda menunjukkan bahwa Anda dapat menciptakan masa depan

Poin ini merupakan salah satu kalimat paling awal yang dapat ditemukan dalam artikel Suhail Doshi, CEO Mixpanel yang berusia 26 tahun. Perusahaan tersebut telah menerima pendanaan Seri B senilai US$65 juta dari sekelompok investor, termasuk a16z, Sequoia, dan Y Combinator.

Alexander Jarvis, pendiri perusahaan VC 50Folds, mengatakan kepada e27: “Hanya ada 15 ide setiap tahunnya yang dapat mengembalikan investasi hingga sebesar 95 persen. Jika Anda memiliki dana besar, Anda sebaiknya berada di dalam kesepakatan  tersebut untuk menghasilkan uang. VC yang mengikuti tren (hasil konsensus) tidak akan pernah mau menutupi kerugian yang dialami startup, karena paling tidak setengah dari perusahaannya tidak menghasilkan sama sekali.”

“’Ciptakan masa depan’ benar-benar merupakan kode VC untuk ‘membantu saya mendapatkan pendanaan berikutnya.’ Sebelum Anda berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang gila dan mendapat pendanaan saat ini juga, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan. Kemungkinan besar Anda harus menjadi pendiri dengan pengalaman segudang untuk membuktikan bahwa Anda dapat menjalankan visi Anda (agar dapat dipercaya untuk memegang uang), dan Anda juga akan perlu untuk memulai dan memvalidasi bisnis Anda, sama seperti ide startup ‘hasil konsensus’ lainnya. VC top juga rentan terhadap ‘Dilema Inovator’ yang ingin memiliki traksi,” ujarnya.

Menurut artikel yang dimuat di New Yorker, di Amerika Serikat saja saat ini sudah ada 803 VC yang secara kolektif menginvestasikan US$48 juta kepada startup teknologi potensial. Bagi para pendiri startup, itu artinya ada tingkat likuiditas yang tinggi di dalam pasar; ada dana VC yang tersedia jika Anda memiliki ide yang bagus dan investor percaya bahwa Anda dapat mengeksekusinya.

Kita tahu dari laporan terbaru Arnaud Bonzom mengenai pendanaan VC di Asia-Pasifik pada Q1 bahwa US$9,4 miliar telah diinvestasikan kepada startup teknologi di wilayah ini. Dengan rata-rata demikian selama empat quarter, Anda dapat memiliki uang VC sebanyak yang mereka investasikan di Amerika Serikat, dimana pasarnya jauh lebih matang.

“70 persen dari VC hanya ingin mengetahui satu hal: pemasukan bulanan? Pendiri berpengalaman? Penjualan yang baik? Pertumbuhan bulanan sekian persen?” tulis Jordan Cooper, pengusaha New York dan VC, dalam artikelnya. Stewart Butterfield, co-founder Slack, menambahkan, “Sulit untuk memperkirakan seberapa besar persepsi tentang kualitas VC – sinyal yang dikirimkannya kepada VC lainnya, kepada pegawai potensial, kepada pelanggan, kepada pers teknologi. Sama seperti kembali ke sekolah.”

Pelajaran bagi para pendiri? Jika Anda ingin bekerjasama dengan salah satu VC top di Asia, tunjukkan bahwa Anda dapat ‘menciptakan masa depan’. Bagi VC, carilah pendiri yang menawarkan lebih dari traksi data dan proyeksi. Apakah mereka memiliki visi jangka panjang dan cukup kegilaan untuk menjadi “berbeda”? Seringkali, para pembuat sejarah adalah mereka yang disebut sebagai orang gila pada masa tersebut (penjelasan ada di poin ketiga).

2. Setiap peluang memiliki biayanya masing-masing

Hal ini adalah salah satu pelajaran terbesar yang mulai saya perhatikan setelah berbulan-bulan berada dalam industri jurnalisme teknologi: Setiap wawancara dan artikel yang saya tulis selalu disertai dengan “biaya peluang”. Sederhananya, dengan memilih sebuah kisah saya biasanya mengabaikan kisah lainnya – dan siapa sangka kisah tersebut bisa jadi lebih menarik? Hal yang sama juga terjadi pada hubungan antara investor dan pendiri. Jika Anda memilih untuk berinvestasi pada satu startup atau mendengarkan proposal dari satu tim, Anda sebaiknya mengabaikan startup dan tim yang lain.

Bagi para pendiri, menerima pendanaan dari satu VC berarti Anda telah menutup pintu bagi VC lainnya, jadi sebaiknya Anda memang mendapatkan dukungan dari penyedia investasi terbaik yang bisa Anda dapatkan. Jangan terburu-buru menerima cek dalam jumlah besar hanya karena Anda telah mendanai sendiri startup Anda selama 6 atau 12 bulan ke belakang dan ingin menyelesaikan proses pitching Anda. Atau mungkin Anda telah ditolak oleh VC terbaik menurut daftar Anda dan memutuskan untuk menerima pendanaan dari VC level kedua (atau ketiga); mungkin Anda bahkan hanya menerima “uang bodoh” dari investor tanpa mengetahui apa-apa mengenai bidang Anda.

Ketika Anda mulai memberikan ekuitas dalam putaran awal kepada investor yang tidak akan mempercepat pertumbuhan Anda dan membawa Anda ke dalam jaringan yang tepat, maka Anda memiliki lebih sedikit kesempatan untuk dapat bekerjasama dengan para investor hebat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Andreessen dalam acara televisi Stanford University, bersama dengan Ron Conway, seorang angel investor, dan co-founder Zenefits Parker Conrad, “Anda harus berpikir bahwa hal itu merupakan tiket Anda untuk memasuki lubang yang jumlahnya sangat terbatas. Ketika Anda kehabisan lubang untuk dimasuki, maka Anda tamat – Anda tidak dapat melakukan investasi apapun lagi. Itulah bagaimana VC beroperasi.”

3. Kunci dalam berinvestasi adalah menjadi agresif dan melawan insting Anda untuk mengikuti pola (“ide yang baru terlihat gila”)

Patrick Grove, co-founder perusahaan investasi internasional Catcha Group, mengatakan kepada e27 bahwa: “[Andreessen] adalah salah satu VC yang unik karena sebelumnya ia merupakan seorang pengusaha. Saya rasa hal ini sangat penting. Ia datang ke dalam industri VC dengan sudut pandang yang mengatakan bahwa ‘bagaimana kita dapat memberikan lebih banyak nilai’ dan saya yakin ini merupakan jalan yang benar.”

“Terlalu banyak VC yang tidak memiliki pengalaman yang cukup dalam menjalankan sebuah startup. Saya sering membayangkan saran seperti apa yang mereka berikan kepada startup, dan terlalu banyak startup dan VC yang memiliki tujuan yang terbilang kecil. Mereka sebaiknya bekerja lebih keras dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar daripada hanya menjadi biasa-biasa saja”, katanya.

Komentar Grove tersebut menekankan ide bahwa “ide yang baru terlihat gila”, yang dicetuskan oleh Andreessen sendiri, dan bahwa kunci untuk berinvestasi di startup yang ingin “menciptakan masa depan” adalah untuk menahan keinginan untuk “menjadi terpola”. Jika sejarah mengajarkan kita sesuatu, maka hal itu adalah bahwa masa depan tidak dapat diprediksi meskipun kita telah berusaha semampu kita untuk menganalisa tren yang sedang berlangsung untuk meramalkan yang akan terjadi di masa depan.

Alvin Koay, CEO dan Founder MobileAds asal Malaysia, mengatakan kepada e27 bahwa, “Ide yang baru seringkali sangat brilian hingga mereka terlihat abnormal. VC top harus… memiliki visi untuk melihat di balik keanehan tersebut dan intuisi untuk mengetahui bahwa ide tersebut akan bekerja di masa depan.”

Sementara itu, Veronica Chew, Co-founder Healint asal Singapura, yang baru-baru ini mendapatkan lebih dari US$ 1 juta dalam bentuk pendanaan awal, mengatakan kepada e27 bahwa, “Saat kami memulai bisnis dua tahun yang lalu, ide bahwa ponsel [dapat] memberitahu detail mengenai seseorang (big data dan sensor) mungkin terdengar terlalu cepat bagi banyak orang. Saat kita menawarkan ide tersebut, banyak yang teratrik namun menyatakan belum siap untuk hal itu, atau [hanya] tidak percaya hal itu. Banyak yang mencoba untuk menempatkan kami ke dalam beberapa perusahaan yang mereka tahu.”

Namun banyak dari VC dan startup top tidak mengulangi apa yang sudah ada sebelumnya, atau mereka tidak cocok dengan ide kita menganai dunia ini, bagaimana hal seharusnya terjadi, atau kemana kita pikir masa depan akan menuju. Jika Anda cerdas, Anda akan membaca artikel New Yorker tersebut secara keseluruhan, merenungkan hal tersebut beserta semua kata-kata bijak dari Andreessen (diantara banyak sumber lainnya yang diutip dari artikel tersebut, termasuk Mark Zuckerberg), dan membiarkannya benar-benar meresap ke dalam pikiran Anda, sebelum mempraktikkannya.


Artikel ini diterbitkan ulang dan diterjemahkan atas seizin penulis, Michael de Waal-Montgomery. Artikel aslinya dapat dilihat di sini.

Anda dapat menghubungi penulis melalui akun Twitter @michaeldwm.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter