Tren keamanan digital tidak menurun di tahun 2017. Justru semakin tinggi adopsi teknologi digital membawa ancaman keamanan ke level yang lebih tinggi. Dimension Data sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ICT mengeluarkan sebuah laporan mengenai tren IT di 2017, salah satu yang menjadi sorotan adalah keamanan siber. Bisa diprediksikan bahwa meningkatkan keamanan siber ini tidak lepas dari tingginya adopsi digital dan rendahnya kesadaran mengenai ancaman keamanan siber.

Marketing Communication Dimension Data Nina Dwi Setiani menerangkan bahwa dari temuan Dimension Data, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi risiko ancaman dan serangan siber tertinggi di dunia. Bukan hanya dari kuantitasnya tetapi juga kualitasnya.

“Ancaman dan serangan-serangan siber pun sudah semakin canggih dengan berkembangnya teknologi dan juga taktik pelakunya, karena itu, peningkatan keamanan siber diterapkan bukan pada saat perlu saja atau sebagai cara untuk menangkal ancaman atau serangan siber saja, melainkan sudah merupakan suatu tindakan darurat dan keharusan, mengantisipasi ancaman dan serangan siber yang lebih parah pada pencurian data-data negara, organisasi dan pribadi.”

“Berdasarkan hasil laporan Global Threat Intelligence 2016 yang dikeluarkan Dimension Data, sektor industri yang menempati peringkat pertama rentan kejahatan siber adalah Retail dibandingkan sektor-sektor industri lainnya,” ujar Nina.

Meningkatnya serangan di sektor industri ini terjadi karena pertumbuhan bisnis ritel yang masuk ke ranah online. Peningkatan jumlah transaksi pembelian dan pembayaran menjadi target yang dibidik para pelaku kejahatan siber. Yang menarik dari tren meningkatnya serangan siber adalah masih belum tingginya kesadaran untuk mengantisipasinya.

“Yang memprihatinkan sistem keamanan mereka masih dibangun dan dikembangkan dengan pola reaktif. Kejahatan siber yang sering terjadi beragam baik pencurian data pelanggan, transaksi palsu sampai penyusupan ke transaksi pembayaran hingga serangan yang mengakibatkan matinya keseluruhan sistem,” lanjut Nina menjelaskan.

Keamanan siber di 2017

Dalam sebuah pemberitaan, CIO menyebutkan akan ada beberapa tren keamanan yang terjadi di 2017, seperti tumbuhnya ancaman kelalaian password yang didominasi password yang mudah ditebak atau password yang menggunakan pengaturan standar. Kelalaian ini bisa menyebabkan tingkat keberhasilan serangan brute force attack melonjak.

Selain itu tren internet of things (IoT) juga diprediksi membawa sebuah celah tersendiri untuk ancaman keamanan siber. Meningkatnya penggunaan solusi IoT di masyarakat perlu diwaspadai dengan mencoba mengamankan jalur komunikasi atau perangkat dari ancaman serangan siber. Untuk itu pemilihan vendor atau penyedia layanan IoT yang memiliki kepedulian terhadap keamanan wajib untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tidak jauh berbeda dengan CIO, Forbes juga memprediksikan permasalahan keamanan siber terus tumbuh dari tahun ke tahun. Masalah seperti serangan, ancaman penerobosan sistem, dan kebocoran data menjadi sesuatu yang harus diwaspadai. Baik oleh pengguna biasa (individu) atau pengguna skala bisnis atau perusahaan.

Pola pikir mencegah bukan mengobati

Kita sering mendengar jargon “lebih baik mencegah dari pada mengobati” dalam konteks kesehatan. Jargon tersebut juga berlaku untuk mengatasi ancaman serangan siber. Meningkatnya serangan siber salah satunya dikarenakan sikap pengamanan yang cenderung reaktif, tidak dilakukan jika tidak ada kejadian. Ini yang berbahaya.

Utuk memberikan jaminan keamanan dan mencegah usaha penyerangan yang terjadi, rencana pengamanan harusnya dirancang dari awal. Lengkap dengan analisis risiko dan juga antisipasi celah mana saja yang sekiranya membutuhkan pengamanan.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.