1. Startup

Contoh Aplikasi Design Thinking di Industri Makanan

Pelajari contoh-contoh penggunaan design thinking ini jika kamu ingin berbisnis makanan yang unik dan inovatif.

Sebelumnya, arti, tahapan, dan contoh penerapan design thinking sudah dijelaskan secara mendalam. Hanya saja, pembahasan mengenai contoh penerapan masih minim, meski sudah ada beberapa contoh penerapan design thinking di industri Indonesia.

Nah, sekarang waktunya mempelajari contoh kasus design thinking di industri makanan. Peluang kesuksesan memang terbuka lebar ketika ingin membangun bisnis makanan. Tak heran, makanan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi manusia.

Akan tetapi, kamu juga harus menerima fakta bahwa bisnis makanan sudah menjamur di mana-mana. Hal ini kemudian membuat para pengusaha di bidang makanan harus memutar otak untuk membuat konsep makanan yang baru, unik, dan tentunya dapat diterima lidah masyarakat.

Itu semua bisa dilakukan dengan design thinking. Pada dasarnya, proses melakukan design thinking akan membawamu pada pemikiran kreatif, pemikiran yang dibutuhkan untuk membuat bisnis makanan yang inovatif dan berbeda dari yang lain.

Yuk, scroll terus artikel ini untuk mengetahui penerapan design thinking oleh beberapa merek makanan yang sukses mengambil hati para konsumen.

Contoh Kasus Design Thinking 1: Ready, Set, Food!

Suatu hari, Daniel Zakowski, founder Ready, Set, Food! mendapati keponakannya yang berusia tujuh bulan kesulitan bernapas setelah makan pizza. Ternyata, keponakan Zakowski didiagnosis alergi terhadap kacang, telur, dan susu–penyebab 80 persen alergi–di usia dini.

Setelah kejadian itu, keponakan Zakowski harus dijaga dengan ketat setiap kali berinteraksi dengan makanan. Zakowski merasa kasihan terhadap keponakannya, dan berandai-andai kalau alergi keponakannya bisa dicegah (tahap empathize).

Dari situlah, Zakowski merasa perlu melakukan sesuatu. Zakowski juga menemukan fakta dari riset yang mengatakan bahwa 80 persen alergi terhadap makanan dapat dicegah melalui perkenalan dini terhadap makanan saat bayi.

Dari pengalaman dan data riset tersebut, dapat dikatakan bahwa bayi membutuhkan perkenalan dini terhadap makanan untuk menghindari alergi terhadap makanan (tahap define sekaligus menjadi problem statement).

Zakowski merespons kebutuhan ini dengan menghadirkan Ready, Set, Food! yaitu sebuah suplemen alami yang dapat dilarutkan dengan mudah dalam ASI, susu formula, atau makanan (tahap ideate). Zakowski kemudian melakukan uji klinis (tahap prototype) terhadap produknya dan terbukti membuat bayi terpapar kacang, susu, dan telur.

Ready, Set, Food! terbukti memiliki manfaat yang baik. Bahkan, produk tersebut sudah direkomendasikan oleh 300 dokter anak dan ahli alergi di Amerika.

Contoh Kasus Design Thinking 2: Mie Lemonilo

Setelah menengok kasus dari luar negeri, sekarang waktunya membahas bisnis makanan di Indonesia, yaitu Mie Lemonilo.

CEO dan Co-Founder Mie Lemonilo, Shinta Nurfauzia, mempunyai misi untuk mengubah gaya hidup masyarakat yang lebih sehat. Akan tetapi, masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap gaya hidup sehat itu mahal (tahap empathize).

Maka, didapatkan permasalahan konsumen yaitu masyarakat Indonesia membutuhkan produk untuk menunjang gaya hidup sehat dengan harga terjangkau (tahap define sekaligus problem statement). Dari situlah, misi Shinta berubah.

Ia ingin mengeluarkan produk untuk memenuhi gaya hidup sehat masyarakat Indoenesia dengan harga terjangkau. Kemudian, lahirlah Mie Lemonilo, yang terbuat dari bahan alami dan bebas dari 100 lebih bahan sintetis berbahaya bagi manusia (tahap ideate).

Tahun 2015, Lemonilo lahir dari startup kesehatan bernama Konsula (tahap test) dan resmi mengeluarkan produknya pada 2017 dengan kisaran harga Rp 6200 per bungkusnya (tahap test).