1. Startup

[Dailyssimo] Kecenderungan Cyber-Bullying di Social Media

Kecenderungan untuk membully itu selalu terjadi jika ada sesuatu yang dianggap tidak klop dengan mayoritas faham yang populer. Dan kecenderungan tersebut jauh lebih terasa bombastis efeknya di social media. Terlepas setuju atau tidak setuju artikel yang dibuat oleh Cathryn Sloane, seorang mahasiswi Universitas Iowa di NextGen Journal memang menyulut kontroversi. Artikel yang berjudul Why Every Social Media Manager Should Be Under 25 itu menyulut emosi banyak orang karena Cathryn menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun yang umurnya diatas 25 tahun cocok melakukan pekerjaan dibidang social media. Lebih dari 600 tanggapan muncul pada artikel tersebut yang hampir semuanya bernada penuh dengan kemarahan.

Saya ambilkan sedikit cuplikan dari artikel tersebut di bawah ini:

You might argue that everyone, regardless of age, was along for the ride, or at least everyone under the age of 30. I’m not saying they weren’t, but we spent our adolescence growing up with social media. We were around long enough to see how life worked without it but had it thrown upon us at an age where the ways to make the best/correct use of it came most naturally to us. No one else will ever be able to have as clear an understanding of these services, no matter how much they may think they do.

The key is that we learned to use social media socially before professionally, rather than vice versa or simultaneously. After all, it is called social media; the seemingly obvious importance of incorporating comforting social aspects into professional usage seems to go over several companies’ heads. To many people in the generations above us, Facebook and Twitter are just the latest ways of getting messages out there to the public, that also happen to be the best.

Saya pribadi bisa mengerti bagaimana artikel ini menyulut kemarahan banyak orang, dan sepertinya Cathryn pun tidak walaupun merepresentasikan golongan yang ia anggap sebagai paling punya kompetensi di dunia social media sepertinya tidak bisa membendung argumentasi-argumentasi keras serta cercaan yang muncul, walaupun kita semua tahu sebenarnya ia bisa menggunakan social media untuk mengklarifikasikannya ataupun berargumentasi balik.

Sekali lagi diluar artikel yang ia buat, saya justru melihat dengan tidak adanya respons balik dari Cathryn menimbulkan munculnya issue baru yaitu cyber bullying. Menurut salah satu top editor dari NextGen Journal, Connor Toohil dalam artikel tanggapan ini, respons penuh kebencian sudah mulai merambah ke akun-akun social media Cathryn diluar artikel tersebut dan hal ini sangat disayangkan. Salah satu profesional social media mentweetkan opininya yang berbunyi:

 

Saya jadi ingat pola yang hampir sama terjadi ketika emosi masyarakat di Indonesia juga tersulut sewaktu salah satu pelajar SMA 6 mentweet pernyataan khas anak-anak setelah kejadian pengeroyokan wartawan di SMA 6 terjadi. Tanpa tahu kejadian sebenarnya semua orang ambil bagian membully akun Twitter anak tersebut sampai akhirnya ia menutup akun Twitternya.

Kecepatan penyebaran sebuah pesan di social media membuat sebuah argumentasi yang terjadi bisa dengan cepat menyulut emosi banyak orang, dan jika sudah sampai kondisi seperti ini kematangan pengguna dalam mengontrol emosilah yang menentukan apakah jadinya akan berakhir pada aktivitas bullying atau tidak.

Bagaimana menurut Anda?

Abang Edwin adalah seorang praktisi online community management sejak tahun 1998 jauh sebelum istilah social media/social network muncul di dunia internet. Ia memulai perjalanan eksperimentasinya dengan beberapa komunitas online yang akhirnya berkembang sukses pada saat itu, sampai saat ini ia pun masih memberikan konsultasi-konsultasi mengenal karakter dan membina komunitas online bagi brand/agency maupun perseorangan.

Ia sempat bekerja di Yahoo! selama lebih dari 4 tahun sebagai community manager dan sempat pula menjabat sebagai Country Manager untuk Thoughtbuzz, sebuah perusahaan start-up social media monitoring.

Untuk mendapatkan update terbaru, Anda bisa memfollow @bangwinissimo di Twitter, atau membaca blognya di bangwin.net.