1. Startup

Glints Terapkan Teknologi AI untuk Automasi Pemilahan Kandidat Karyawan

Klaim dapat percepat proses perekrutan, dari rata-rata 40 hari menjadi 14 hari

Setelah resmi meluncur di Indonesia awal tahun 2016 lalu, platform perekrutan berbasis teknologi Glints terus memperkuat kemampuan layanannya. Hari ini (06/11) mereka mengumumkan integrasi kecerdasan buatan (AI) di produk-produk yang dimiliki.

Contoh penerapannya ada di produk TalentHunt, teknologi AI memungkinkan perusahaan dapat melakukan penyaringan kandidat secara otomatis berdasarkan kriteria-kriteria yang dipelajari sistem dari proses sebelumnya. Di basis data Glints, saat ini ada sekitar 29 ribu profil kandidat pekerja yang dapat dimanfaatkan perusahaan.

Teknologi AI juga diterapkan untuk aktif memberikan rekomendasi kandidat yang sesuai kebutuhan perusahaan setiap minggu. Mekanisme ini diklaim meningkatkan efisiensi tim personalia perusahaan, alih-alih melakukan screening profil dan CV kandidat secara manual.

"Sebanyak 60% waktu HR habis digunakan untuk menyortir CV kandidat yang sebenarnya tidak relevan. Waktu yang ada jadi tidak dapat digunakan secara maksimal. Di sini, teknologi AI dapat digunakan untuk mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan membantu perusahaan untuk mengambil keputusan dengan lebih cepat dan baik," ujar Product Manager Glints Rahel Maharani.

Selain itu, notifikasi penerimaan/pemberitahuan dan penjadwalan wawancara juga diatur menggunakan sistem automasi. Dengan efisiensi yang diberikan, pihak Glints mengklaim dapat memangkas waktu perekrutan yang biasanya mencapai 40-50 hari menjadi 14 hari saja.

More Coverage:

Glints bukan satu-satunya perusahaan luar yang mencoba keberuntungan di pasar konsultan talenta di Indonesia, beberapa pemain lainnya juga mulai matangkan bisnis di sini. Salah satunya Kalibrr, pendekatannya juga unik, mengedepankan pre-test sesuai bidang perekrutan untuk melakukan proses screening secara komprehensif.