Sosok Reid Hoffman (Founder LinkedIn) dan Jeff Weiner (CEO LinkedIn) menjadi salah satu diantara pasangan terkenal yang membuat adanya stereotip bahwa satu-satunya orang yang bisa membawa perusahaan sampai ke tujuan akhir atau IPO; bahwa founder harus meninggalkan perusahaan jika ada CEO yang baru menempati posisinya.

Mark Suster dari Upfront Ventures menceritakan dirinya adalah pernah menduduki posisi sebagai Chairman di perusahaan pertamanya sebelum terjun ke Upfront Ventures. Dia melepas jabatannya tersebut sebelum akhirnya perusahaan itu dijual. Menurut Suster, keputusan yang diambilnya itu sangat sulit karena menyita emosional.

Ibarat bayi, Suster sudah membangun perusahaan itu hingga besar dan sudah mendarah daging. Namun akhirnya memutuskan untuk menyerahkan ke orang lain, tak ayal berbagai pemikiran negatif muncul. Misalnya, apakah orang yang diamanati bisa memperlakukan perusahaan seperti apa yang sudah Suster lakukan sejak dulu?.

Menurut Suster, ada beberapa pendiri yang memang ditakdirkan jadi CEO yang sukses, ada juga yang tidak, dan beberapa diantaranya (seperti Suster) mencintai perusahaan pada lima tahun pertama, pendapatan pertama US$30-US$50 juta, memimpin 150 karyawan, tapi tidak menyukai peran di titik tersebut.

Jadi, ketika Anda ingin mundur dari posisi CEO (seperti Reid Hoffman) pastikan Anda membawa sosok CEO yang lebih berpengalaman dan menyukai scaling/fase pertumbuhan startup.

Bagi Suster, dirinya tahu bahwa kapasitas perusahaan sudah terlalu besar melampaui kemampuan dan keinginannya. Perusahannya tersebut awalnya adalah sekelompok orang yang bertekad ingin mewujudkan ide jadi kenyataan, meningkatkan modal, diliput media, hingga akhirnya perusahaan mampu menembus pendapatan sebesar US$36 juta dan disukai konsumen.

Namun, dengan 90 karyawan yang melayani lima negara membuat pekerjaan jadi kurang menyenangkan bagi Suster. Sebab butuh keterampilan tertentu yang mampu menangani seluruh pekerjaan tersebut, di luar batas kemampuannya. Secara terang-terangan, Suster mengaku dirinya kagum dengan Adam Miller, seorang CEO Cornerstone on Demand.

Miller dan Suster sama-sama membangun perusahaan dalam kurun waktu yang bersamaan sekitar November 1999. Miller kini masih menjabat sebagai CEO dan sudah menjadi perusahaan terbuka dengan valuasi sekitar $2 miliar. Menurut Suster, tidak semua orang cocok memimpin perusahaan dengan siklus yang penuh lika liku tersebut.

Rencana Jason Spievak menjual Invoca dan mundur dari jabatan CEO

Suster juga bercerita mengenai founder dari perusahaan startup yang pertama kali didanai lewat Upfront Ventures, yakni Jason Spievak, founder dan CEO dari Invoca. Spievak menimbang-nimbang apakah dirinya adalah orang yang tepat untuk membawa perusahaan ke level berikutnya yakni IPO.

Menjawab hal tersebut, Suster bertanya ke Spievak tentang proses berpikirnya mengapa pertanyaan itu bisa muncul. Padahal dia sudah berhasil jadi pemimpin pasar dalam Marketing Automation untuk panggilan telepon. Invoca tumbuh 100% dari tahun ke tahun, malah berhasil tumbuh hingga 650% selama tiga tahun terakhir.

Invoca kini sudah memiliki 150 karyawan di tiga titik kantor, berpeluang puluhan juta kali mencetak pendapatan, permintaan yang terus ada dari investor, mendapat kesempatan untuk berbicara di acara konferensi, di hadapan media, dan lain sebagainya.

Untuk memastikan Spievak sebelum mengambil keputusan, Suster pun bertanya, “Apa Anda benar-benar ingin IPO? Jika tidak, saya pikir sebaiknya Anda harus tetap menjadi CEO karena saya pikir ada 4-5 perusahaan yang rela membayar kita jutaan hingga miliaran dollar untuk membeli Invoca. Jika IPO adalah tujuan akhir Anda, saya tidak bisa memikirkan pemimpin yang lebih baik untuk membawa Invoca ke jenjang berikutnya selain Anda.”

Spievak bersikeras, menurutnya dengan menjual perusahaan yang sudah dia bangun bukanlah tujuannya. Akhirnya mereka berdua setuju, jika ingin membawa Invoca lebih besar lagi perlu sosok berpengalaman untuk memimpin. Komitmen Spievak untuk tetap menjadi direksi setelah IPO, jadi krusial bagi Suster. Sebab sosoknya tidak hanya berperan sebagai orang penting dan pemegang saham terbesar, tetapi juga sebagai kunci utama senior eksekutif.

Umumnya, ketika perusahaan swasta mencari CEO baru sering memiliki masalah. Namun syukurnya hal ini tidak terjadi di Invoca.

Dipertemukan dengan Mark Woodward calon kandidat terkuat jadi CEO

Ketika Suster dan Spievak bertemu Mark Woodward, mereka yakin dia adalah orang yang tepat jadi pemimpin meski itu adalah pertemuan pertama. Untuk meyakinkan intuisi mereka, keduanya pun rela mendalami Woodward selama berbulan-bulan sebelum mengambil keputusan.

Akhirnya, intuisi itu jadi kenyataan dengan mengumumkan Woodward sebagai CEO yan baru dan mereka bahagia dengan keputusan tersebut. Sebelum bergabung, Woodward sudah membawa dua perusahaan swasta jadi terbuka dengan penghasilan miliaran dollar. Dia banyak menghabiskan waktu awalnya di perusahaan Silicon Valley, beberapa perusahaan perangkat lunak seperti Oracle dan McAfee.

Kemudian, beralih ke Amerika Utara menjalankan Legent dan melipat gandakan pendapatan dari US$28 juta jadi US$700 juta. Dia juga berhasil menjual Legent untuk CA senilai hampir US$2 miliar. Di CA, Woodward jadi CEO Serena, berhasil melipatgandakan pendapatan lebih dari US$1 miliar dan melantai di bursa dengan nilai valuasi hampir US$1 miliar.

Sepanjang karirnya sepanjang tujuh sampai delapan tahun, dia sudah bermain peran sebagai pemain tim yang setia, berkomitmen, dan bersedia mengembangkan bisnis lewat semua celah.

Bersama dengan Woodward, Spievak dan Suster akan membawa perusahaan ekspansi keluar negeri, menggandakan anggota tim, berinvestasi lebih banyak ke tim sales, layanan profesional dan dukungan pelanggan. Strategi ini menuntut seseorang yang benar-benar berpengalaman untuk menjalani operasional dengan skala sebesar itu.

Dari pengalaman ini, ada benang merah yang bisa ditarik yakni pemimpin terbaik adalah orang-orang yang mampu menempatkan kepentingan terbaik untuk perusahaan dengan mengesampingkan ego pribadi.

Seperti yang direncanakan sebelumnya, Invoca yang sudah IPO ini, Suster merasa bangga dengan Spievak atas perusahaan yang sudah dia bangun tersebut dan sikap kepemimpinannya setiap tugas yang ia jalankan.

Dirinya percaya saat ini Invoca ada di tangan tepat dengan pemimpin yang sudah terbuki kemampuannya dan didukung oleh Spievak dan timnya yang luar biasa.