Melakukan validasi atau pengujian produk startup adalah hal krusial yang idealnya harus pertama kali dilakukan. Jika Anda pemilik startup yang baru terjun ke dunia ini, untuk mewujudkan ide-ide bisnis yang ada tanpa serangkaian pengujian atau validasi maka Anda melakukan kesalahan besar. Singkatnya, validasi di awal fase pembangunan sebuah startup dapat meminimalisir kegagalan, menghemat waktu dan materi, serta membantu menemukan masalah sejak dini.

Startup yang memiliki potensi untuk berkembang adalah startup yang memiliki sebuah ide yang teruji untuk diwujudkan secara nyata. Bukan hanya ide saja lalu dibuatkan sebuah produk tanpa melalui sebuah pengujian, maka startup yang anda bangun dapat dikatakan gagal di tahap awal.

Lalu bagaimana cara untuk menguji atau memvalidasi sebuah ide startup yang Anda miliki? Dalam tips DailySocial kali ini CEO Capital H Labs dan Co-founder Bigcommerce Mitchell Harper akan berbagi tips melakukan validasi produk startup yang benar.

“Tanpa validasi startup, Anda akan memiliki produk yang tidak akan diminati oleh pasar, yang nantinya akan berakhir dengan kekecewaan dan depresi menyulitkan untuk membangun startup,” ungkap Mitchel.

Uraikan masalah dan kendala

Secara keseluruhan validasi atau pengujian secara lengkap bisa dilakukan jika telah melewati tiga tahap yang berbeda. Jika pada tahap pertama kendala yang ada tidak terpenuhi solusinya, atau kurang krusial dan tidak terlalu dibutuhkan, artinya produk startup anda belum cukup komprehensif untuk ditawarkan.

Cobalah untuk menjangkau sebanyak mungkin para CEO atau pendiri dari pelaku usaha UKM, ritel dan lainnya. Hal ini bisa dilakukan melalui Linkedin, tentukan dan buat daftar calon pelanggan anda, kemudian lakukan interaksi secara langsung yang bisa diawali dengan email. Dari 60 email yang anda layangkan kemungkinan besar hanya 20 hingga 30 email saja yang akan dibalas, jika anda mendapatkan balasan dan beberapa calon pelanggan mulai tertarik, buatlah jadwal untuk wawancara melalui telepon, berikut adalah poin-poin penting saat melakukan wawancara melalui telepon:

  • Cari tahu kendala yang dhadapi
  • Seberapa menggangu kendala yang ada
  • Bagaimana selama ini mereka mengatasi masalah tersebut
  • Jika ada solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut, apakah mereka rela membayar layanan yang diberikan

Dari hasil wawancara tersebut akan terlihat seberapa besar pelanggan ingin menggunakan jasa yang ditawarkan. Hindari layanan yang sifatnya hanya sementara atau sekedar coba-coba sehingga tidak akan menghasilkan repeat order.

“Jangan pernah membuat startup yang hanya menawarkan solusi ‘boleh juga sekali-sekali digunakan’ sebagian besar startup seperti itu hanya akan digunakan secara gratis pengguna tidak mau melakukan pembayaran,” kata Mitchel.

Menentukan solusi yang ada

Pada dasarnya jika startup Anda menawarkan layanan yang telah banyak ditawarkan oleh produk startup lainnya, artinya Anda memiliki cukup banyak pasar meskipun di lain pihak Anda akan mendapatkan kompetitor yang jauh lebih berpengalaman sebelumnya.

Namun yang perlu diperhatikan adalah jika produk yang Anda miliki tidak memiliki saingan dan terbilang layanan cukup unik dan baru, anda pun harus menerima kenyataan bahwa pasar yang dibidik belum ada. Selain perlunya branding dan edukasi produk membutuhkan effort lebih jauh dalam prosesnya. Intinya adalah menghadirkan produk yang spesifik adalah baik, namun diperlukan konsumen dengan pasar yang cukup luas untuk mengimbangi hal tersebut.

synergy-idea

Tawarkan layanan lebih dari kompetitor

Ketika layanan sudah matang yang perlu digarisbawahi adalah: Apakah layanan yang Anda berikan sudah lebih baik dari pemain yang sama? Lebih murah? Lebih efektif? Cobalah untuk menghadirkan solusi terbaik, berbeda yang tidak bisa ditemui di produk lainnya. Mengetahui potensi yang ada di awal jelang dibangunnya startup bisa menjadi hal yang krusial dan momen yang wajib dilalui, dengan demikian Anda bisa membaca keinginan pasar dan menciptakan peluang baru, unik, dan tentunya jauh lebih baik dari produk kompetitor lainnya.

Tentukan biaya yang akan ditawarkan

Buatlah perbandingan dalam hal revenue, pertumbuhan hingga pemasukan dengan produk kompetitor lainnya. Coba ajukan penawaran harga tersebut kepada calon pelanggan , terima semua masukan yang ada dan tambahkan additional items untuk mendukung keseluruhan biaya yang ditawarkan. Jika jawaban yang diterima kebanyakan calon pelanggan menolak untuk membayar dengan harga yang ditawarkan, cobalah untuk mencari tahu alasannya, dan uraikan masalah yang ada. Dari sini Anda bisa menyimpulkan berapa harga yang pantas untuk ditawarkan kepada calon pelanggan.

Gunakan informasi untuk membuat roadmap

Jika langkah-langkah tersebut telah Anda lakukan dan mendapatkan jawaban yang positif dari calon pelanggan, hal tersebut sudah cukup membawa startup ke tahap berikutnya. Pertahankan calon pelanggan yang bersedia membayar saat pengujian dilakukan dan jadikan mereka pelanggan pertama Anda saat produk secara resmi diluncurkan.

Sebelum Anda melaju ke arah yang lebih jauh, ada baiknya menerapkan cara-cara di atas. Memvalidasi adalah hal penting yang harus dilakukan oleh seorang pendiri startup. Jika ide belum tervalidasi maka startup Anda mungkin akan lambat berkembang maju atau terpaksa berhenti karena kurang diminati atau tidak memiliki pasar yang cukup banyak. Jika nyatanya demikian, pivot bisa menjadi jalan keluar yang paling masuk akal. Langkah yang sejatinya bisa ditempuh sebelum menelurkan produk sehingga tidak memakan banyak sumber daya.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.