Layanan e-commerce besutan Indosat Ooredoo, Cipika, mengumumkan penutupan layanannya 1 Juni mendatang. Ada yang menganggap hal ini sebagai lampu kuning dan menjadi sinyal kehati-hatian, ada yang menganggap hal ini sebagai bagian dinamika kompetisi sehat industri e-commerce di tanah air.

Apapun itu, kami mengidentifikasi tiga pelajaran penting yang bisa kami petik dari penutupan layanan yang hadir sejak tahun 2014 ini. Mereka adalah:

Struktur yang tidak mendukung

Berbeda dengan Blanja dan elevenia, dua anak perusahaan Telkomsel dan XL Axiata yang menyasar sektor yang sama, Cipika bukanlah perusahaan tersendiri. Cipika dibangun sebagai suatu unit bisnis di bawah Indosat Ooredoo Digital.

Struktur seperti ini menyulitkan Cipika untuk bergerak, mengambil keputusan, akuisisi mitra, mengatur budget, dan hal-hal lain yang lebih mudah dilakukan sebagai suatu entitas terpisah. Seorang Kepala Divisi tidak mudah mengatur semuanya sendirian, jika dibandingkan seorang CEO yang memiliki jajaran C-level dan VP di bawahnya.

Indosat Ooredoo melakukan spin off terhadap layanan pembayaran (PayPro) dan layanan mobile advertising (IMX), tapi sudah terlambat untuk Cipika.

Branding yang tidak tepat

Meski sudah hampir 3 tahun berdiri, tidak banyak kalangan masyarakat umum yang mengenal Cipika sebagai sebuah brand layanan e-commerce. Nama Cipika hampir tidak pernah muncul di berbagai survei soal top of mind layanan e-commerce di Indonesia atau peringkatnya selalu jauh di bawah dibanding layanan serupa.

Untuk kalangan early adopter, Cipika memiliki arahan yang terus berubah. Awalnya Cipika ingin menyasar pasar kuliner dan kerajinan tradisional, kemudian beralih ke penjualan produk gadget dan travel, yang terakhir menyasar konten digital, termasuk permainan dan buku digital.

Tahun ini mereka masih berupaya pivot ke arah penjualan grosir, tapi rencana tersebut tidak terlaksana tuntas.

Penting untuk memiliki keunikan, tetapi sebaiknya ciri khas tersebut tidak hilang seiring dengan evolusi layanan.

Untuk bertahan membutuhkan biaya (dan kepercayaan)

Lupakan Lazada, Tokopedia, atau Bukalapak yang sudah beberapa kali mendapatkan pendanaan dari investor. Meskipun sama-sama didukung perusahaan telekomunikasi besar, jika dibandingkan dengan Blanja atau elevenia, Cipika terkesan tidak mendapatkan dukungan dana cukup untuk bersaing dan tetap relevan.

Meskipun kita tidak tahu persis berapa dana yang disuntikkan oleh perusahaan untuk Cipika, Blanja dan elevenia mendapatkan kepercayaan diri ketika mengumumkanperolehan dana ratusan miliar Rupiah dari induk perusahaannya demi memastikan bisnisnya di sektor ini adalah prioritas. Cipika, di sisi lain, sayangnya tidak menyiratkan hal ini.

Sekali lagi ini bukan cuma soal uang, tetapi bukti keyakinan bahwa bisnis bakal tetap bertahan dan menjadi prioritas. Jika investor atau induk perusahaannya kurang percaya diri terhadap kelangsungan bisnisnya, hal ini akan berimbas pada kepercayaan konsumen.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.