Categories

Tips

Tips Merekrut Calon Karyawan Startup yang Tepat

Membangun tim startup tidak mudah, Sebaiknya mencari orang yang bisa menambahkan kemampuan Anda

Marsya Nabila - 28 July 2016

Membangun startup butuh tim yang tangguh bak bajak laut, karena ada pertempuran yang tidak "biasa" di luar sana. Anda sebagai pendiri menjadi posisi terpenting di dalam tim, karena setiap keputusan yang akan diambil ditentukan oleh Anda sendiri.

Tim bajak laut yang kuat terdiri dari sekumpulan orang yang sangat terampil, cakap dalam berbagai hal, dan cerdas. Mereka harus mampu berlayar meski di tengah badai besar. Hal tersebut menjadi gambaran untuk startup, kondisi up and down sangat lumrah terjadi.

Mencari tim tersebut tidak mudah. Pendiri harus paham sosok pekerja seperti apa yang mereka butuhkan. Hal inilah yang menyebabkan mengapa proses perekrutan pun menjadi sangat krusial dalam startup, bahkan bisa dikatakan sebagai proses berjualan.

Eric Rafat dan Depesh Mandalia masing-masing memberikan tips bagaimana cara merekrut calon pekerja yang tepat. Secara umum ada delapan tips yang perlu dilakukan:

Menaksir kemampuan dan budget

Rafat memberi tips, sebelum merekrut sebaiknya anda cari tahu seperti apa job desc yang akan dilakukan oleh calon pegawai yang direkrut. Seorang pendiri startup harus paham hal tersebut.

Sebaiknya mencari orang yang bisa menambahkan kemampuan Anda, bukan mencari orang yang sama persis kemampuannya dengan Anda. Kemudian, saat berurusan dengan budget, pikirkan status kerja calon rekrutan Anda berdasarkan area job desc-nya.

Lebih cocok part-time, full-time, atau freelance? Mempekerjakan seseorang dengan status full-time butuh komitmen yang serius dan budget yang cukup.

Job-fit dan culture-fit dibutuhkan demi kesuksesan merekrut

Rafat sangat menyarankan kepada anda untuk menemukan job-fit dan culture-fit yang ada di dalam diri calon rekrut. Bila tidak ada salah satunya, tidak akan ketemu titik temu.

Saat berbicara mengenai job-fit dalam startup, artinya anda membutuhkan rekrutan yang sangat terampil. Ada dua alasan, pertama karena Anda tidak memiliki kemampuan tertentu, kedua karena tidak ada waktu mengadakan pelatihan untuk pekerja yang sudah ada.

Mengenai culture-fit, carilah calon rekrutan yang memiliki nilai budaya dan karakteristik yang selaras dengan perusahaan.

Fokuskan ke portofolio dan proyek sampingan, bukan ke resume

Bagi startup, memperhatikan resume saat melakukan proses perekrutan akan sia-sia sebab resume bukanlah tolak ukur yang tepat. Anda perlu telusuri lebih jauh dari portofolio, proyek, dan kemampuan dasar.

Ambil contoh, bila Anda hendak mempekerjakan seseorang untuk menjadi developer, lihat laman situs yang pernah dikerjakan. Hal itu akan memperlihatkan bagaimana mereka menunjukkan diri di dunia maya.

Cari karakterististik yang mencerminkan startup

Pekerja di startup biasanya memiliki ciri khas dan nilai jual tertentu yang tidak dimiliki pekerja di perusahaan lainnya. Untuk itu perlu perhatikan beberapa karakteristik seperti: punya visi luas, tertantang, dapat mengambil alih suatu proyek, dapat merepresentasikan produk perusahaan, dan berjiwa kompetitif.

Menjunjung tinggi nilai perusahaan

Anda harus membuat pekerja percaya atas setiap misi yang diberikan harus dilakukan sepenuh hati, jiwa, dan raga. Sebagai seorang entrepreneur, Anda harus mencari tahu nilai apa yang harus dijunjung tinggi di perusahaan dan perhatikan apakah pekerja juga memiliki nilai tersebut? Hal apa yang paling anda junjung tinggi di perusahaan? Integritas atau kerja sama tim?

Komunikasikan nilai preposisi perusahaan

Dengan mengomunikasikan nilai preposisi yang Anda tawarkan ke pekerja, berarti Anda menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh perusahaan lain. Contohnya, menawarkan jadwal kerja yang fleksibel, hak pekerja, atau pengalaman dengan melibatkan pekerja dalam semua aspek bisnis.

Mempertahankan pekerja

Mempertahankan pekerja baru itu sama pentingnya saat melakukan proses perekrutan. Beberapa startup biasanya melatih karyawannya seminggu pertama saat baru bergabung. Cara tersebut berguna agar karyawan jadi lebih mengerti kondisi sesungguhnya di lapangan dan cara menghadapinya.

Terus adakan perekrutan

Tidak selamanya pekerja berada di bawah kepemimpinan anda. Bisa jadi mereka resign sebelum anda menyadarinya, karena pikiran manusia tidak bisa ditebak. Untuk itu Anda harus selalu siap dengan kondisi tersebut dan selalu adakan perekrutan, sembari memberikan hal terbaik yang bisa Anda lakukan demi kenyamanan pekerja.

Memahami visi bekerja

Mandalia mengarahkan Anda sebagai pendiri untuk mengarahkan calon rekrutan memikirkan visi jangka panjang dari bekerja untuk suatu spesifikasi bisa mengarahkan ke arah jenjang karir. Karier itu tidak bisa dijual dan tidak bisa didapat dari hari pertama bekerja. Setidaknya dibutuhkan waktu setahun setelah bekerja.

Karier itu seiring dengan bertumbuhnya kepuasan pribadi seseorang atas pencapaian yang telah didapat, oleh karena itu karier bukan mengenai hal yang bisa dijual perusahaan. Anda harus pahami hal ini agar kemudian dengan sendirinya bisa menjual karier lebih mudah saat bertemu calon rekrutan.

Kumpulkan seluruh aset

Menurut Mandalia, kekuatan produk dan bagaimana pengaruhnya terhadap perubahan hidup konsumen adalah kunci untuk setiap penjualan. Sama halnya seperi menjual es ke orang eskimo; jika es sudah dibentuk menjadi batu bata sebagai bahan utama membangun rumah igloo, berarti anda sudah membantu orang eskimo.

Berharganya waktu orang eskimo yang tidak terbuang, menunjukkan bahwa anda sudah menciptakan nilai jual. Aset perusahaan bisa terdiri dari visi, budaya, tim, tunjangan, dan benefit lainnya.

Pahami konsumen

Mungkin Anda masih melihat konsumen seperti merekrut kandidat pekerja. Namun, menurut Mandalia, proses perekrutan itu mirip dengan proses penjualan.

Dia mencontohkan, produk pertama yang ia jual adalah buku cerita bergambar untuk anak-anak. Berdasarkan riset dari tim pemasarannya, perempuan punya kecenderungan untuk membeli daripada pria. Namun, orang dengan kepentingan tertentu lebih mungkin untuk membeli.

Karena sudah tahu target market-nya, dengan mudah timnya bisa menjalankan strateginya. Hal ini bisa diterapkan saat melakukan perekrutan, menyesuaikan pesan yang hendak disampaikan sesuai target.

Contohnya dengan memeriksa akun media sosial calon rekrutan untuk mencari informasi tentang mereka. Hal ini untuk melihat calon rekrutan secara lebih manusiawi. Bagian tersebut sering dilupakan oleh perusahaan

Buat rekrutan merasa penting

Komunikasi memegang kunci penting dalam setiap penjualan. Saat proses perekrutan berlangsung, Anda perlu secara rutin memberi tahu informasi terbaru. Tentu saja, hal ini akan berdampak besar. Menurut Mandalia, memberikan informasi berapa lama proses perekrutan berjalan dapat mengindikasikan bahwa anda menghargai waktu mereka. Diharapkan ada timbal balik yang ditunjukkan oleh rekrutan.

Buat proses perekrutan yang fleksibel

Perusahaan skala besar umumnya memiliki tim HRD dengan struktur perekrutan yang rinci. Semakin cair dan alami suatu proses wawancara, maka akan semakin baik respon yang diberikan oleh calon rekrutan. Teruslah Anda menggali respon mereka sampai Anda puas dengan jawaban yang diberikan.

Anda bisa mendapatkan jawaban yang dibutuhkan bila dilakukan dengan cara yang fleksibel. Memang butuh pengalaman, tapi bila sudah menemukan seninya akan sangat menyenangkan.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter