Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

Usai mendapatkan pendanaan seri H, Grab naik kelas dari Unicorn menjadi Decacorn
Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara
Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

Unicorn” sempat menjadi perbincangan yang cukup hangat selama beberapa minggu terakhir ini. Istilah unicorn yang sebelumnya lekat dengan dunia bisnis startup mulai semakin sering dibahas oleh berbagai kalangan warganet, serta masyarakat pada umumnya. Selain unicorn, baik di media sosial maupun media massa mulai muncul pula berbagai perbincangan mengenai istilah-istilah lain mengenai tingkatan valuasi perusahaan startup. Mulai dari Cockroach, Ponies, Centaurs, Unicorn, Decacorn, hingga Hectocorn.

Istilah unicorn awalnya muncul karena perusahaan startup dengan nilai valuasi sebesar $1 miliar masih tergolong langka di tahun 2013 lalu. Namun, ternyata para unicorn semakin berkembang dan meningkatkan valuasinya hingga lebih dari $10 miliar. Sehingga muncul istilah baru, yaitu Decacorn (valuasi mencapai $10 miliar) dan Hectocorn (valuasi mencapai $100 miliar).

Unicorn yang telah naik kelas menjadi decacorn antara lain Uber, WeWork, Airbnb, SpaceX, Pinterest, dan Grab. Sejak akhir tahun 2018 lalu, Grab menjadi perusahaan startup pertama dari Asia Tenggara yang meraih gelar decacorn, dengan valuasi saat ini mencapai sekitar $11 miliar.

Grab awalnya didirikan oleh Anthony Tan dan Hooi Ling Tan dengan nama MyTeksi di Malaysia pada tahun 2012. Kemudian pada 2013 mereka mulai berekspansi ke Filipina, Singapura, dan Thailand dengan nama GrabTaxi. Grab resmi menjadi unicorn pada tahun 2014 setelah mendapatkan pendanaan Seri D. Di tahun ini pula, GrabTaxi berekspansi ke Vietnam dan Indonesia. GrabTaxi kemudian meluncurkan layanan lain seperti GrabCar, GrabFood, GrabBike, dan sebagainya, serta mengubah namanya menjadi Grab di tahun 2016.

grab decacorn

Grab sempat mengakuisisi Kudo untuk mendukung teknologi pembayarannya pada 2017. Grab juga menghadirkan fitur GrabFresh, bekerja sama dengan HappyFresh untuk melayani pembelian bahan-bahan makanan segar. Pendiri Grab Anthony Tan juga sempat mengatakan, “Entah itu makanan, entah itu bahan-bahan makanan, kita perlu memastikan semuanya memiliki modal yang memadai, baik dari segi teknologi maupun dari segi finansial.” Hal ini menunjukkan bahwa seperti startup sukses lainnya, inovasi teknologi juga menjadi hal yang penting bagi perjalanan Grab menjadi decacorn pertama di Asia Tenggara.

Pada tahun 2018, Grab juga mengambil beberapa langkah besar, antara lain dengan mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara. Akuisisi ini tercatat sebagai aksi korporasi terbesar untuk perusahaan internet di Asia Tenggara. Lewat akuisisi ini, semua aset dan aspek operasional Uber di kawasan Asia Tenggara (meliputi Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) dialihkan ke Grab.

Di tahun yang sama, Grab juga menjalin kerjasama dengan OVO sebagai pilihan pembayaran dalam penggunaan layanannya, dengan mengubah GrabPay menjadi OVO Cash. Beberapa langkah besar tersebut cukup berhasil meningkatkan kualitas layanan Grab, serta menjadi “super app” yang telah diunduh lebih dari 138 juta kali hingga saat ini.

Disclosure: Artikel ini adalah konten bersponsor yang didukung oleh Grab.

DailySocial.id adalah portal berita startup dan inovasi teknologi. Kamu bisa menjadi member komunitas startup dan inovasi DailySocial.id, mengunduh laporan riset dan statistik seputar teknologi secara cuma-cuma, dan mengikuti berita startup Indonesia dan gadget terbaru.

Feature
Artikel Populer
x
Minerva | Maximize
3

Minerva is typing…