Categories

Interview

Cerita Startup Edutech MauBelajarApa Saat Ditunjuk sebagai Mitra Program Kartu Prakerja

Diminta jadi mitra hingga menyesuaikan diri dengan membuka kelas pelatihan online

Prayogo Ryza - 22 April 2020

Program kartu prakerja menimbulkan banyak polemik di masyarakat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kualitas konten dan harga yang ditentukan. Keduanya dinilai tidak relevan, bahkan tidak sedikit yang menyamakan dengan konten gratis yang ada di YouTube.

Kami berbincang dengan Jourdan Kamal selaku founder MauBelajarApa, salah satu platform yang menjadi mitra resmi program kartu prakerja; untuk mengetahui bagaimana proses yang terjadi di belakang penunjukan dan tentunya soal kualitas konten dan harga pelatihan yang ditawarkan.

Jourdan menjelaskan, dari awal pihaknya dikontak oleh Kantor Staff Presiden. Mereka menjelaskan sedang mencari platform untuk menyediakan training. Singkat cerita pada bulan Desember 2019 silam MauBelajarApa diminta untuk menjadi mitra.

Sebagai informasi, MauBelajarApa adalah sebuah platform yang mengkurasi berbagai macam bentuk workshop atau pelatihan secara offline atau tatap muka. Tapi karena permintaan dari pemerintah, mereka sedikit berinovasi dengan membuka kelas berbasis online memanfaatkan platform video conference seperti Zoom, Hangout, dan lainnya.

“Jadi sebenarnya prakerja ini pas kita di-approach mereka (pemerintah) mau fokusnya offline. Tetapi gara-gara pandemi Covid-19 ini dan mereka pikir daripada diundur lagi kartu prakerjanya akhirnya diubah ke online untuk sementara. Karena pengen banget orang bisa segera belajar dan dapat insentif, untuk membantu penerima kartu prakerja juga kan. Kalau nanti delay insentifnya juga delay,” jelas Jourdan.

Mengenai mengapa pelaksanaan pelatihan dilakukan secara online juga sudah dikonfirmasi oleh pemerintah melalui publikasi di situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, bahwasanya pelatihan online ini hanya sementara. Ketika pandemi berakhir pelatihan offline juga akan dijalankan.

Platform, harga, dan kualitas konten

MauBelajarApa sudah lebih dari tiga tahun menjadi platform yang mengkurasi workshop atau pelatihan. Ketika diminta sebagai mitra kartu prakerja mereka menyebutkan tetap membawa pakem mereka, bahwa pelatihan harus sesuai dengan standar yang ada atau yang selama ini dijalankan.

Jourdan bercerita, kurasi yang diterapkan ada dua lapis. Pertama kurasi internal oleh mereka sendiri dan yang kedua dari tim kartu prakerja. Kurasi ini tidak hanya membicarakan tentang konten, tetapi juga harga. Karena pemerintah menghimbau harga tidak terlalu tinggi untuk pelatihan yang ditawarkan untuk pemegang kartu prakerja.

“Saya sering banget ngobrol dengan vendor terkait dengan harga, karena ini juga membantu pemerintah kan. Tapi memang ada beberapa vendor yang tidak bisa menurunkan harganya, ada yang bisa tapi tidak yang murah banget (di bawah 100 ribu Rupiah) karena memang mereka sudah profesional dan harga kelas mereka di luar (MauBelajarApa) atau di kelas korporasi juga tinggi,” papar Jourdan.

Jourdan menambahkan, MauBelajarApa itu berbeda dengan platform pembelajaran lain. Karena pada dasarnya platform ini menjembatani pelatihan offline, jadi inti pembelajaran tidak hanya video materi saja, tetapi juga mentoring dan sharing pengalaman dari sang mentor/guru/atau pengisi workshop. Bahkan koneksi dengan guru atau mentor bisa dilanjutkan selepas kelas. Sesuatu yang membedakan MauBelajarApa dengan platform belajar lainnya.

Ia juga mengklaim bahwa perusahaannya tidak pernah bermain-main soal kualitas. Ia sendiri memastikan setiap kelas yang ada di platformnya merupakan kelas yang dibuat oleh profesional dan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

“Misalnya kelas masak, katakanlah ayam keju. Nanti peserta tidak hanya akan mendapatkan tutorial cara memasaknya. Tetapi juga pengalaman dari chef-nya mengenai cara menjadi chef yang benar, di mana mendapat bahan-bahan yang diperlukan, teknik masak, dan pengetahuan lain,” lanjut Jourdan.

Polemik harga dan kualitas konten platform mitra prakerja pun sudah sampai di telinga Jourdan. Menurutnya itu menjadi pilihan. Jadi jika terlalu mahal atau terlalu gampang yang tidak usah diambil kelasnya. Ia juga terbuka pada semua penilaian yang ada. Kendati demikian, ia dan tim berkomitmen menghadirkan kelas yang berkualitas, itu mengapa ia hanya membuka kelas dengan slot terbatas.

“Kita ada limit, misal 20 orang. Jadi 20 orang ini dipersilahkan memberikan rating. Jadi misal ada kualitas yang kurang bisa di-review. Jika review bagus makan slot akan ditambah, tetapi tetap pada batasan kemampuan mentor atau guru menghandel kelas tersebut,” lanjut Jourdan.

Ia juga menambahkan, bahwa ia tak hanya fokus pada pelatihan hard skill, tetapi juga mindset dan pengalaman dari profesional. Itu mengapa ia selalu mencari mentor yang sudah berpengalaman atau dari profesional yang benar-benar sudah terjun ke industri.

Sorotan tajam masyarakat, momen tepat evaluasi

Media sosial seminggu terakhir memang riuh dengan berbagai macam tanggapan masyarakat mengenai kartu prakerja. Tak hanya MauBelajarApa, platform lain juga disoroti. Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, ini adalah momen yang tepat untuk evaluasi. Baik soal konsep pembelajaran online itu sendiri dan kesiapan pasar Indonesia.

Ini bisa jadi momentum yang pas untuk merumuskan seperti apa seharusnya pembelajaran online itu terjadi. Mengingat fokus program kartu prakerja ini adalah keterampilan, jadi jika sukses di program ini nantinya bisa diimplementasikan juga untuk masyarakat umum.

Keriuhan kemarin adalah gelombang pertama penerimaan kartu prakerja. Evaluasi sudah jadi kewajiban, baik untuk penyelenggara maupun pesertanya. Seperti halnya mulai lebih ketat lagi dalam proses seleksi dan kurasi, dan bagi para pesertanya, harus benar-benar sendiri sebelum memilih lembaga dan judul pelatihan.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter